Bersemangat 45 dalam Tri Tugas Kristus dan Panca Tugas Gereja MBK

 Rm. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm  |     19 Nov 2017, 13:37

Gereja MBK dalam usia 45 tahun di tengah pusaran anomali kehidupan yang aneh-darurat. Kita berada di masyarakat manusia yang sakit akut. Saya bukan aliran pesimisme, tetapi di balik itu semua saya ingin mengajak mengapai harapan. Seperti yang sering diingatkan oleh Mgr Suharyo, "Kita semua mempunyai tanggungjawab sejarah, Gereja KAJ di bangun melalui kemartiran para pendahulu misionaris."

Bersemangat 45 dalam Tri Tugas Kristus dan Panca Tugas Gereja MBK

Kita Gereja MBK mau menghayati hidup secara signifikan. Justru itu kita tengah aktif membaca tanda-tanda zaman. Kita perlu membuka mata, telinga dan hati lebar-lebar terhadap realitas di dalam dan di luar diri kita sebagai Gereja. Apalagi di tengah perubahan cepat akibat perkembangan ilmu dan teknologi digital, yang tidak jarang berakibat Allah dipinggirkan, entah secara pribadi, keluarga maupun komunitas.

Lebih dari itu Gereja MBK diharapkan berani masuk dalam kesejatian dirinya. Ia adalah garam dan terang masyarakat. Bahasa Konsili Vatikan II, "KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka"(GS 1).

Kita semua Gereja yang berbelarasa tidak hanya tersentak tetapi sedih terhadap kejadian-kejadian irasional nan absurd di akhir-akhir ini. Kita merenung. Gereja menginterupsi diri. Kita masuk dalam keheningan diri sembari bertanya dalam diam. Allah berbicara apa di tengah hiruk pikuk dan carut marut kehidupan ini? Denyut kesejatian hidup dapat dibaca dari peristiwa dan kejadian itu sendiri.

Kita ambil satu berita mengenaskan yang terjadi tidak jauh dari Jakarta ini yakni di Bekasi. Bukan Maling Masjid Tapi Pria Ini Telanjur Mati Dibakar Hidup-Hidup Warga. Demikian judul di sebuah tulisan warganet, Seword awal bulan Agustus 2017. Sebenarnya secara masif hal itu diberitakan di portal-portal berita media online lainnya. Duh, fakta kejadian tragis itu berarti salah sasaran. Potret buram di masyarakat.

Peristiwa itu terjadi di Kampung Muara, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sebelumnya beredar video tentang seorang pria yang dikejar dan diamuk oleh warga karena dikira mencuri amplifier masjid. Hingga kemudian diketahui bahwa amplifier masjid utuh tidak tercuri. Jadi pria malang ini adalah korban salah sasaran warga. Tapi sang korban sudah telanjur meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Ia meninggalkan seorang istri yang hamil 7 bulan. Siapa yang bertanggung jawab?

Ternyata pria ini adalah tukang servis televisi yang mampir ke masjid untuk sholat sebelum mengantarkan barang. Amplifier yang kebetulan ia bawa ditaruhnya di sepeda motor. Namun karena takut hilang akhirnya dibawa masuk ke dalam masjid. Warga sepertinya mengira yang dibawa adalah ampli masjid. Ia pun dikejar hingga ke kampung sebelah dan akhirnya tertangkap. Tak puas menghajar, warga juga membakarnya hidup-hidup. Kemudian baru ketahuan amplifier masjid utuh di tempatnya.

Pertanyaannya bukan hanya soal kenapa mudah main hakim sendiri, tetapi kenapa peristiwa itu bisa terjadi? Peristiwa pilu itu membuncahkan pertanyaan dan luka yang mendalam tentang kemanusiaan ini. Kita bisa mempertanyakan, ada fakta sakit parah masyarakat ini. Kita bisa bertanya di mana rasa kemanusiaan ini. Kita bisa menggugat harga manusia yang begitu rendah. Kita bisa bertanya lagi tentang kegagalan misi mulia agama.

Gereja MBK harus berani bercermin dan menegaskan diri. Kita sebagai persekutuan orang beriman tidak merasa malu tetapi ditampar keras. Agama telah gagal memuliakan manusia. Agama seakan telah berubah menjadi monster menjijikkan haus darah. Begitulah agama yang dihayati secara fanatik sempit dan scripturalist. Apalagi agama tidak menjadi inspirasi tetapi syahwat aspirasi politik seperti saat ini. Maka bisakah Gereja MBK hadir sebagai pembawa kasih Allah yang suci?

Kasus yang hampir sama di Perjanjian lama sudah terjadi, ketika orang menangkap basah wanita berzinah. Mereka menghakiminya sampai mati. Di pihak lain, Yesus di Bait Allah pagi-pagi benar dikejutkan oleh banyak orang yang menggelandang seorang wanita yang kedapatan berzinah. Mereka akan menghukum rajam dengan melempari batu. Yesus menantang mereka, "Barangsiapa tidak mempunyai dosa, silakan melemparkan batu yang pertama." Mereka sadar dan mundur mulai dari yang tertua. Tiinggal berdua, Yesus dan wanita itu. Yesus katakan, "Pulanglah hai wanita dan jamgan berbuat dosa lagi."

Yesus Mengangkat Manusia

Yesus datang ke dunia ini bukan kebetulan. Ia datang ke dunia ini membawa misi Allah Bapa-Nya. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16).

Allah mengasihi dunia ini dengan kasih yang begitu besar. Gagal paham bila orang mengerti Allah tidak mencintai dunia ini dengan menyimpulkan kejadian-kejadian negatif. Allah seakan justru menjadi penjahat-Nya. Padahal kejadian-kejadian itu sering kali karena keegoisan manusia semata. Misalnya terjadi banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca panas, polusi di mana-mana dan lain. Siapa yang salah? Kita manusia-lah yang jahil, jahat, serakah dan berdosa pada alam ini. Allah tidak pernah jahat pada ciptaan-Nya.

Yesus tidak hanya mengajar agar manusia sadar dan cerdas di dalam mengerti kehendak Allah. Ia mengajarkan cinta kasih dengan mulut tetapi nyata melalui tangan-Nya. Ia tolong dan sembuhkan orang sakit. Ia bebaskan orang yang kerasukan setan. Ia beri makan dan minum orang yang yang haus dan lapar. Ia ampuni orang yang berdosa, "Ya Allah Bapa ampunilah sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan". Maka apapun programnya akar hakikatnya adalah Gereja dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah itu.

Gereja MBK Setia dalam Memanusiakan Manusia

Di dalam menjalankan Tritugas Kristus dan Panca Tugas Gereja universal-lokal itu, Gereja MBK tidak pernah boleh lepas dari konteks. Allah ada dan hadir di sini dalam wajah si 'korban' (orang kecil, miskin, bodoh, cacat, sakit dan menderita). Apapun itu pada gilirannya Allah ingin manusia itu hidupnya layak dan semakin utuh, baik jasmani dan rohaninya.

Saya selalu terkesan dengan tindakan seorang ayah atau ibu yang menggendong bahkan memanggul anak kecilnya diajak masuk ke gereja rumah Tuhan untuk beribadah kepada Allah. Itu pemandangan yang sangat baik dari segi moral ataupun spiritual. Di situ terbukti nyata arti sebuah cinta sejati. Orang yang mencintai itu mewujud dalam tanggung jawab dan pengorbanannya terutama pada yang lemah. Karena Allah kita dalam diri Yesus telah mempraktikkan-Nya.

Kiprah Gereja MBK dalam mewujudkan Tritugas Kristus yakni menjadi imam, nabi dan raja hendaklah tetap mengacu pada pemanusiaan manusia. Gereja melaksanakan pengudusan sebagai imam dengan menyalurkan kerahiman Tuhan tanpa batas. Kekudusan yang dihayati bukan semata-mata kekudusan moral jauh dari kejahatan dan dosa, tetapi semakin menyadari dirinya unik serta dicintai Tuhan tanpa syarat dan sempurna.

Gereja juga melaksanakan tugas pengajarannya bukan saja umat Allah pandai, cerdas dan mempertanggungjawabkan imannya, tetapi menyadarkan dirinya sebagai manusia yang adalah sama-sama ciptaan Allah. Kerendahan hati ini memupuk manusia untuk tetap beriman dan bersaudara satu sama lainnya.

Gereja MBK hendak setia melayani Tuhan dalam kesederhanaan. Manusia siapapun itu mudah merasakan kehadiran dalam pelayanan Tuhan dalam kesederhanaannya. Kenapa? Karena Yesus sendiri Allah yang sederhana. Bahkan Dia melakukan pengosongan diri (kenosis). Hanya orang-orang yang sederhana-lah yang mampu bertahan di tengah gempuran masif budaya hedonisme, kapitalisme, materialisme dan pragmatisme. Ia tidak jatuh pada keserakahan diri. Karena sebenarnya yang menghancurkan kehidupan ini adalah keserakahan itu sendiri. Bahasa Paulus, segala konflik dan peperangan ini karena manusia cinta akan uang.

Allah Berkemah

Bukan kebetulan pula bila gereja fisik kita menggambarkan kemah. Harapannya agar umat MBK tidak saja setia masuk ke rumah Tuhan tetapi secara nyata setiap orang menyadari siap dan taat menjadi bait Allah yang hidup. Artinya kita senyatanya adalah orang-orang percaya pada Allah. Persis, kita yakin bahwa Allah bertakhta dalam hati ini, sehingga orang berani mengatakan bagiku hidup adalah Kristus dan mati merupakan keuntungan. Inilah kesaksian iman yang menggetarkan dan meyakinkan.

Mari kita terus belajar. Saya pernah menyampaikan pantun: buat apa memakan bistik bila ada sayur- mayur,buat apa Anda berwajah tampan dan cantik bila tidak bersyukur? Semuanya akan menjadi sia-sia. Kita belajar bersyukur karena kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melayani-Nya, entah itu dalam peribadatan, persekutuan, pengajaran dan dalam pelayanan itu sendiri. Kita beribadah tidak berhenti pada ritualis tetapi menuju pada pemuliaan Allah dan manusia. Kita bersekutu dengan semua saudara dalam cinta kasih yang tulus tanpa membeda-bedakan. Kita menanamkan kesadaran dan tindakan bahwa keindahan itu terletak pada keanekaragaman.

Kita melaksanakan pengajaran agar semakin adil dan beradab sebagai manusia. Ajaran Gereja sangat kaya akan pokok kemanusiaan ini. Kita kembangkan pengajaran yang membebaskan tidak hanya konvensional tetapi berani merambah pula pada kehebatan dunia digital. Akhirnya kita melayani bukan menguasai agar setiap orang dapat layak hidupnya dan merasakan kehadiran Allah sendiri.

Bila keempat pilar itu bila berjalan sinergi, kreatif dan produktif dalam mengejawantahkan kasih Tuhan, secara otomatis kesaksian Gereja MBK semakin terang benderang di masyarakat yang tengah memasuki lorong-lorong kegelapannya.

Akhirnya, viva MBK! Bangkitkan semangat 45 itu yakni semangat kemerdekaan manusia! Kobarkan terus dan jangan sampai padam iman harapan dan kasihmu itu. Selamat merayakan kasih Tuhan dalam 45 tahun MBK. Jalan Tuhan masih panjang. Tuhan Yesus dan Maria Bunda Karmel memberkati langkah-langkah kita selanjutnya. Amin!

Rm. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm

Lihat Juga:

Artikel Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi