Temukan, Lalu Bermimpilah; Pemberdayaan Jemaat Melalui Appreciative Inquiry

  14 Mar 2015, 07:09

Judul buku: Pemberdayaan Diri Jemaat dan Teologi Praktis Melalui Appreciative Inquiry
Penulis: J.B. Banawiratma
Penerbit: Pusat Pastoral Yogyakarta & Kanisius
Tahun terbit: 2014
Tebal: xi+68 hlm.
Harga: Rp20.000,-

Temukan, Lalu Bermimpilah; Pemberdayaan Jemaat Melalui Appreciative Inquiry

Akronim 'SWOT' tampaknya banyak dikenal orang, karena menjadi metode yang banyak dipakai untuk mengembangkan organisasi. Bahkan, rapat Kerja Paroki Tomang - MBK di Wisma Kinasih pada tahun 1997 juga menggunakan metode SWOT (Stengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk menganalisis kondisi paroki dan mengambil langkah-langkah kebijakan yang perlu. Pendekatan Appreciative Inquiry (AI) yang diketengahkan buku ini adalah respon terhadap pendekatan SWOT itu.

AI yang digagas oleh David Cooperrider tak hendak mengatakan SWOT adalah pendekatan yang buruk. David dan kawan-kawannya mengamati bahwa pendekatan tradisional melalui diagnosis masalah dan umpan balik ternyata menguras energi perubahan dari seluruh sistem. Makin banyak masalah ditemukan, orang-orang semakin loyo, kehilangan semangat, lalu saling mempersalahkan. Dengan AI, dalam pengamatan Davis dkk., orang-orang justru lebih berhasil jika diajak bersama untuk belajar, menemukan dan mengapresiasi apapun yang menghidupkan sistem.

Inspirasi David adalah tulisan A. Schweizer tentang 'hormat terhadap kehidupan'. Mereka memfokuskan diri pada apa saja yang menghidupkan, memberdayakan dan mendinamiskan: momen-momen berhasil, pengalaman puncak, cerita-cerita pembaharuan, pengharapan, keberanian, dan perubahan positif. Kekurangan dibiarkan, sebab perhatian difokuskan pada akar keberhasilan.

Pendekatan AI bukanlah kritik, diagnosis penyakit, melainkan 4D yakni:

  • Discovery (tahap identifikasi & apresiasi yang terbaik yang pernah ada)
  • Dream (menjadikan hal-hal positif sebagai pangkal keadaan baru yang diharapkan atau menjadi aspirasi)
  • Design (keterlibatan semua pihak untuk berkomitmen menuju masa depan bersama)
  • Destiny (inovasi dan aksi kolektif)

Analisis yang digunakan dalam AI adalah SOAR: Strengths, Opportunities, Aspiration, Result.

Perbandingan antara pendekatan Problem Solving (kiri) versus pendekatan AI (kanan):

  • Asumsi Umum: berpangkal pada kelemahan vs berpangkal pada kekuatan
  • Komunitas: bekerja sama vs ikut menciptakan
  • Fokus: apa yang salah? vs apa yang terbaik dari yang ada?
  • Pendekatan: adaptatif atau reaktif vs generatif atau kreatif
  • Capacity building: lakukan bersama komunitas vs teguhkan/berdayakan komunitas
  • Asumsi teologis: kejatuhan manusia, situasi kedosaan manusia, kelemahan manusia secara individual & kolektif vs original blessing, berkat asal, Imago Dei, konkreativitas manusia secara individual dan kolektif bersama dengan Allah

Buku ini menarik untuk dibaca kendati bahasanya tidak sederhana. Setelah memaparkan lebih jauh tentang pendekatan AI, penulis menjelaskan tentang teologi praktis jemaat yang memberdayakan. Banyak contoh dan perbandingan dikemukakan, sehingga penjelasan jadi lebih mudah dipahami.

Buku ini dapat diperoleh melalui Pusat Pastoral Yogyakarta (sekretariat@pusatpastoralyogya.com) atau toko-toko buku yang menjual terbitan Kanisius. Selamat membaca dan menerapkan.

No problem can be solved from
the same level of consciousness that created it.
We must learn to see the world anew.

There are only two ways to live your life:
one is as though nothing is a miracle
the other is as though everything is a miracle.

(Albert Einstein)

Lihat Juga:

Resensi Buku Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 19 Juli 2019

Hari Biasa Pekan XV Tuhan sedang mengetuk pintu hati kita. Apakah kita menaruh tanda pada pintu hati kita: 'Jangan ganggu aku?'" (Paus...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi