Tema 1 BKS 2017: Kabar Gembira dan Teknologi (Kejadian 11:1-9)

 Shienta D. Aswin  |     4 Sep 2017, 02:37

Apakah teknologi berpengaruh positif terhadap perkembangan Gereja Maria Bunda Karmel selama 45 tahun ini? Tentu saja, tidak diragukan lagi! Bagi yang sudah menjadi umat paroki Tomang ini di tahun-tahun pertama keberadaannya, ketika gerejanya adalah bangunan sederhana di Jl. Terusan Arjuna, sungguh dapat melihat betapa besar beda dan manfaat teknologi, bukan hanya dalam infrastruktur dan bangunan fisik, tetapi juga dalam mewartakan Kabar Gembira, Kabar Keselamatan yang dari Allah. Teknologi informasi, komunikasi, transportasi dan literasi dimanfaatkan sejalan dengan perkembangan zaman yang makin modern untuk menyapa, melayani, memberi informasi dan menyebarluaskan Kabar Gembira demi makin banyak umat dapat ikut diselamatkan.

Di zaman modern ini, kita menikmati dari menayangkan teks lagu, doa dan pengumuman yang perlu diketahui umat, hingga penayangan video sapaan Bapak Uskup dalam menyampaikan Surat Gembala atau Romo Paroki menggerakkan umat untuk mendukung program sosial paroki, misalnya ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah). Dari sekedar pengumuman verbal seusai misa, lalu stensilan satu lembar Warta Minggu, hingga Warta Minggu 24 halaman full colour. Dari jarang umat punya dan baca Kitab Suci, hingga hampir setiap umat punya gawai digital berisi aplikasi Kitab Suci. Dan, masih banyak lagi...

Apakah kemajuan teknologi selalu berdampak positif bagi umat? Mari belajar waspada dari Kejadian 11:1-19, di mana masyarakat saat itu menikmati kemajuan teknologi yang, sungguh sayang, akhirnya tidak berkenan pada Allah dan menjadi kacau.

Saat itu, teknologi maju membuat orang-orang jadi eksklusif dan sombong. Mereka mensyaratkan keseragaman dan tidak memberi tempat pada perbedaan. Lalu mereka menetap di zona nyaman mereka dan mulai membangun bangunan yang menjadi kebanggaan mereka dan hendak mencapai langit. Mereka menutup diri dan memandang orang lain di luar kelompok mereka sebagai manusia yang lebih rendah dari mereka. Mereka menutup diri dan tidak peduli pada mereka yang berada di luar lingkaran mereka.

Allah sungguh tidak berkenan akan sikap dan situasi mereka. Allah menghendaki manusia untuk perlu peduli terhadap sesamanya dan ikut mengupayakan keselamatan jiwa sesamanya. Maka, Allah membuat mereka "mau tidak mau", tercerai-berai dan terserak ke seluruh penjuru dunia, supaya ada keadilan, karena mereka yang lebih tahu perlu membantu mereka yang kurang tahu. Manusia juga perlu saling tolong-menolong, saling menegur dan saling mengingatkan agar terjaga berada di jalan yang dikehendaki Allah. Dalam berinteraksi dengan sesamanya dan alam sekitarnya, manusia punya kesempatan untuk berlatih menumbuhkan dan memperkuat penguasaan diri yang menjadi kiat agar manusia tidak menyerah dan menghambakan diri dikuasai teknologi.

Maka jika kita melihat diri kita atau orang lain menjadi sangat tergantung terlekat dikuasai teknologi gawai misalnya, lalu menutup diri tidak peduli pada orang lain dan sekitarnya serta menuntut agar semua orang hendaknya seperti dia dan sulit menerima perbedaan, maka peristiwa Menara Babel dapat terulang kapan saja. Allah yang peduli pada keselamatan jiwa manusia, tak segan untuk mengacaukan dan menyerakkan manusia, sehingga mereka dapat mengalami revolusi dan evolusi; tidak pula menjadi materialistis, individualis dan hedonis.

Lihat Juga:

BKSN (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi