Tema II BKS 2017 - Kabar Gembira Berhadapan dengan Materialisme

 JA Gianto / Pemandu  |     10 Sep 2017, 02:46

Saat ini banyak orang heboh mengenai suami-istri pemilik First Travel yang tega menipu puluhan ribu calon jemaah haji demi mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat mungkin. Bagi mereka materi adalah pusat kehidupan, sudah menjadi ilah baru agar bisa menikmati gaya hidup berfoya-foya.

Tema II BKS 2017 - Kabar Gembira Berhadapan dengan Materialisme

Apakah orang mengumpulkan materi berdosa? Bagaimana orang yang bekerja giat mencari nafkah demi kehidupan keluarga yang lebih baik? Materi pada dasarnya netral, bisa positif atau negatif. Positif bila materi digunakan secara tepat sebagai Anugerah Allah untuk kepentingan pribadi dan bersama secara wajar. Materi akan menjadi negatif bila menjadi suatu sikap dan tingkah laku manusia yang memusatkan, mengandalkan atau menuhankan materi (materialisme).

Tujuan pertemuan kedua Bulan Kitab Suci (BKS) adalah untuk mengajak umat menimba inspirasi dari Sabda Tuhan dalam menghadapi arus zaman materialisme.

Sebagai orang beriman kita dituntut bersikap dan bertindak tepat terhadap harta kekayaan. Bekerja dan berusaha keras untuk memperoleh harta demi hidup lebih bermartabat, itu wajar dan bahkan suatu keharusan. Namun upaya memperoleh harta itu tidak boleh menutup hati kita terhadap Allah Sang Pemberi segalanya dan terhadap sesama kita terlebih yang menderita dan berkekurangan. Kita diajak untuk selalu mensyukuri apa yang kita peroleh dan sedapat mungkin berbelarasa dengan sesama demi terciptanya kehidupan bersama yang makin adil dan makin beradab.

Sabda Tuhan yang digunakan untuk memberi inspirasi diambil dari Luk 12:13-21. Yesus bercerita, "Ada seorang kaya bodoh karena ia merasa dengan hasil panen berlimpah ruah hidupnya bisa aman dan tenang. Lumbung yang dimiliki sudah tidak mencukupi sehingga perlu membangun lumbung lagi. Jiwanya diminta beristirahat karena hartanya banyak. Dia lupa bahwa hidupnya bukan tergantung pada harta melainkan Allah. Malam itu juga jiwa si orang kaya diambil darinya."

Orang kaya itu disebut bodoh karena tidak bijaksana dan egois. Dia tidak menyadari bahwa hasil panen berlimpah sebagai suatu kesempatan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan makanan. Dia menimbun dan bersenang-senang sendiri tanpa merisaukan kebutuhan hidup sesamanya dan hidupnya sendiri di dunia akhirat. Kebodohannya bisa juga terletak pada kegagalannya untuk mengakui bahwa hidupnya hanyalah sementara dan kegagalannya untuk bersandar pada Allah.

Apa saya siap berbagi materi sebagai anugerah Allah kepada orang lain yang membutuhkan sehingga hidup makin adil dan makin beradab? Semoga.

Lihat Juga:

BKSN (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 19 September 2017, Hari Biasa Pekan XXIV

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 3:1-13) Saudara terkasih, benarlah perkataan ini, "Orang yang menghendaki jabatan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi