Tema 4 - Keadilan Sosial Menurut Kerahiman Allah

 Shienta D. Aswin  |     26 Sep 2016, 11:27

Bacaan Kitab Suci yang dipilih untuk tema­tema BKS 2016 ini berpotensi untuk memperbaiki pemahaman dan pemaknaan kita tentang Pancasila. Imamat 19:13­18 di tema I, mengingatkan kita bahwa manusia dimata Allah patut diperlakukan secara beradab, sesuai dengan harkat martabatnya yang luhur. Maka, jangan lagi kita memandang manusia hanya sebatas penampilan lahiriah saja, atau berdasarkan suka atau tidak suka. Siapapun dia, apapun perbedaan yang ada, bukan alasan untuk boleh merendahkan dan menistakan manusia; karena itu berarti merendahkan dan menistakan Tuhan, Penciptanya.

Tema 4 - Keadilan Sosial Menurut Kerahiman Allah

Tema II memilih Yesaya 11:1­10 yang memungkinkan kita untuk membina persatuan dengan orang lain, karena, seperti Guru kita: Yesus Sang Mesias, kita mempunyai 3 pasang kualitas Roh Allah, yaitu: hikmat dan pengertian, nasihat dan keperkasaan serta pengenalan dan takut akan Tuhan. Meningkatkan hikmat dan pengertian berarti kita dapat lebih memahami dan menerima manusia, sesama kita, dan memandang mereka dengan "kacamata" Kasih Allah.

Kisah Para Rasul 15:1­21, untuk Tema III, mencerahkan kita dengan model kepemimpinan yang mendukung kehidupan bersama, berbangsa dan bernegara, untuk bersikap terbuka akan masukan dan pendapat lain untuk dipertimbangkan dalam menyikapi pertumbuhan masyarakat dan perubahan jaman. Maka bukan lagi kepemimpinan otoriter, tapi yang bersedia bermusyawarah bermufakat dalam menentukan kebijakan.

Akhirnya di Tema IV, pemahaman kita tentang Keadilan Sosial juga dikoreksi melalui perumpamaan tentang orang­orang upahan di kebun anggur dari Matius 20:1­16. Adil, menurut manusia umumnya, didasarkan pada hitungan dan pembagian dengan angka, yang lahiriah atau materi, pertimbangan untung rugi dan kalah menang, atau sekadar sama rata sama rasa. Ternyata adil menurut Kerahiman Allah didasarkan pada kepatutan dan kebutuhan yang manusiawi; yaitu dapat menjaga harkat dan martabat manusia yang luhur. Maka Allah, diumpamakan pemilik kebun anggur, memberi upah harian 1 dinar agar pekerja­pekerjanya dapat hidup di hari berikutnya dengan layak.

Keadilan dari kacamata bisnis atau matematika, tentu sulit memahami sikap Allah yang maha rahim, seperti yang dilakukan oleh pemilik kebun anggur. Namun jika kita memahami bahwa 1 dinar adalah minimum yang dibutuhkan untuk bertahan satu hari sebagai manusia yang bermartabat, maka kita tidak lagi mempersoalkan siapa kerja banyak dan siapa (kebetulan) kerja sedikit.

Bersyukurlah bahwa pemerintah DKI juga sudah menerapkan Keadilan Sosial seperti yang diajarkan Allah dalam beberapa kebijakan. Misalnya: UMR RP 3.100.000,­ diberikan baik kepada kasir di supermarket maupun satpam atau penyapu jalan. Kartu Jakarta Pintar bisa dimanfaatkan oleh anak pegawai, nelayan, buruh cuci atau guru, untuk sekolah. Lalu sudahkah kita juga meniru perilaku Keadilan Sosial yang memperhatikan kebutuhan dasar manusia bermartabat dengan tidak sewenang-wenang boros memakai air, listrik dan bahan bakar, tidak membuang makanan dan merusak lingkungan hidup, serta rela memberikan hak dasar sesama manusia untuk dapat bertahan hidup secara bermartabat?

Setelah pemahaman dan pemaknaan Pancasila diperbaiki, mari kita hayati dalam perilaku sehari­hari; dengan demikian, mengamalkannya pada yang lain.

Lihat Juga:

BKSN (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Kamis, 21 Maret 2019

Hari Biasa Pekan II Prapaskah Dengan berbagai macam cara Tuhan menghimpun bangsa manusia supaya pantas menerima keselamatan (St. Ireneus) Antifon...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi