28 Oktober

  4 Nov 2017, 19:37

Minggu lalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda selalu identik dengan salah seorang pencetus sekaligus pencipta lagu Kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya, Wage Rudolf (W.R.) Soepratman. W.R. Soepratman meninggal dalam usia masih muda, 35 tahun. Dia meninggal pada 17 Agustus 1938. W.R. Soepratman tidak pernah tahu, lagu Indonesia Raya, ciptaannya telah dijadikan lagu Kebangsaan Indonesia.

W.R. Soepratman tidak menikah dan tidak memiliki keturunan hingga akhir hayatnya. Selain Indonesia Raya, lagu Ibu Kita Kartini juga menjadi lagu perjuangan populer ciptaan W.R. Soepratman, terutama setelah 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini.

W.R. Soepratman, selain dikenal sebagai komponis, juga dikenal sebagai wartawan. W.R. Soepratman paling gemar ngobrol bareng pemuda-pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia, di Kramat Raya 106.

Menurut catatan Koesbini, sesama rekan komponis, W.R. Soepratman ditangkap Belanda ketika menyiarkan lagu ciptaannya yang terakhir berjudul Matahari Terbit, bersama pandu-pandu di NIROM, jalan Embong Malang, Surabaya. W.R. Soepratman kemudian ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya.

Setelah dibebaskan, kondisi kesehatan W.R. Soepratman menurun. Dalam kondisi sakit parah, dia ditemani Kasan Sengari, iparnya dan Imam Soepardi, Pemimpin Redaksi Penyebar Semangat. Kepada Imam, W.R. Soepratman pernah mengeluh hidupnya hambar, tidak bahagia, tanpa cinta. Sebelum meninggal W.R. Soepratman, sering terlihat menyendiri duduk di warung kopi Joerasim di Bubutan, Surabaya.

Pahlawan 28 Oktober 1928 memang telah tiada, namun mereka meninggalkan tanda-tanda. Dan tanda itu ada di salah satu ruang di dalam Museum Katedral, Jakarta. Kepada para wartawan usai memimpin Misa Peringatan 20 Tahun Tahbisan Episkopal, Mgr. Ignatius Suharyo mengungkapkan, di Museum Katedral rencananya juga akan dibuat sebuah penanda untuk menunjukkan bahwa satu ruang pertemuan Katedral Jakarta pernah dijadikan tempat pertemuan pertama kali atau rapat persiapan para pemuda-pemudi Indonesia sebelum mencetuskan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

"Rapat pertama sebelum Sumpah Pemuda itu ada di komplek Aula Gereja Katedral dan nanti akan dibuat sebuah penanda sebagai salah satu langkah dalam memperingati Sumpah Pemuda," kata Mgr. Ignatius Suharyo.

Penanda itu diharapkan Mgr. Ignatius Suharyo dapat mengingatkan umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan seluruh Indonesia, akan langkah Vatikan yang menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. "Umat mesti tahu hal itu supaya tanggung jawab sebagai umat Katolik sekarang ini pun tidak putus dari sejarah masa lampau."

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi