Hati

  7 Oct 2017, 17:12

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki banyak candi yang sangat terkenal baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, bagi umat Katolik, hanya ada satu candi yang menjadi tujuan peziarahan batin. Candi Hati Kudus Yesus (HKY), Ganjuran, Bantul. Atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama Candi Tyas Dalem Yesus.

Hati

Beberapa waktu yang lalu seorang mahasiswi, perguruan tinggi negeri di Yogyakarta datang membasuh muka, tangan dan kaki dengan Tirta Perwitasari kemudian bersimpuh menangis di depan patung HKY di puncak candi Ganjuran. Cukup lama gadis tersebut, sebut saja namanya Maria, menangis sambil berdoa.

Maria mengaku hatinya kosong, setelah gagal saat sidang pendadaran skripsi S1. Padahal, dia mengaku sangat siap dan tidak ada kesalahan dalam presentasi maupun menjawab pertanyaan dosen penguji. Kesalahan dia hanya satu, tidak hadir dalam konsultasi pra-sidang karena kakaknya meninggal dunia. Dosen pembimbing tidak mau tahu, Maria harus mengulang tiga bulan lagi.

Mundur tiga bulan, berarti menambah biaya hidup di Yogyakarta. Menambah beban orangtuanya yang hidup pas-pasan. Namun, tiga bulan kemudian, Maria datang kembali di Candi HKY, untuk bersyukur. Kali ini dia berhasil lulus dan meraih nilai memuaskan.

Kompleks Gereja HKY mulai dibangun tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Lalu disempurnakan dengan pembangunan candi Hati Kudus Yesus pada 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi tempat melaksanakan ibadah ekaristi dan ziarah.

Rahmat HKY bertambah ketika tahun 1998 ditemukan sumber mata air besar di bawah candi. Dalam penelitian di laboratorium, air di bawah candi ini ternyata mengandung mineral tinggi. Kebetulan yang memakai air candi itu pertama kali adalah seseorang pria bernama Perwita, yang tengah menderita sakit. Karena menyerahkan hatinya, karena imannya kepada Hati Kudus Yesus, Perwita merasakan daya penyembuh air candi ini.

Untuk mengenang penemuannya air candi itu diberi nama Tirta Perwitasari. Ternyata, bukan hanya umat Katolik yang memanfaatkan air suci Perwitasari ini. Windu Hadi Kuntoro, Wakil Ketua Dewan Paroki Ganjuran mengatakan, banyak pengunjung dari agama lain yang juga datang dan mengambil Tirta Perwitasari, mohon kesembuhan, mohon keringanan beban hidup.

Bulan ini umat Katolik memasuki bulan Maria. Umat Katolik di setiap lingkungan mengadakan doa rosario bersama, maupun secara pribadi. Banyak umat yang mungkin memiliki masalah berat, seperti Maria, mahasiswi Yogyakarta, yang menyerahkan hatinya kepada Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. Kebetulan, Maria merasa lebih kontemplatif berdoa di Ganjuran.

Ada banyak tempat untuk menyerahkan hati kita. Mari kita mencintai Bunda Maria, Ratu Rosario yang senantiasa mendoakan, menyertai dan menyayangi umatnya di mana pun kita berada.

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi