Disabilitas

  18 Nov 2017, 19:50

Pada 3 Desember lalu diperingati sebagai hari Disabilitas Internasional. Hari itu di sosial media banyak yang men-share Gisela Arndt, perempuan paruh baya asal Jerman yang sedang melayani putranya yang ganteng Christian Arndt. Christian berusia 27 tahun. Dia menderita tetra-amelia syndrome, terlahir tanpa kaki dan tangan.

Disabilitas

Mengetahui kondisi bayinya menderita tetra-amelia syndrome, orangtua kandungnya meninggalkan bayi tersebut. Beruntung, ada Gisela yang secara tulus mengadopsi dan menjadi ibu yang baik. Dengan penuh kasih sayang, Gisela merawat Christian dan terus memotivasi. Dia selalu mengatakan, berbeda kondisi fisik bukan berarti hidupnya tak berguna.

Christian memang terlahir sebagai pria pantang menyerah, dia terus berusaha mandiri. Usaha kerasnya terlihat, saat dia mampu berenang tanpa kaki dan tangan. Dia menggeluti dunia Informasi Teknologi (IT), Dengan menggunakan mulut, dia menulis dan mengetik. Christian mempunyai mimpi, dan mengidolakan Nicholas James Vujicic (Nick Vujicic), penginjil dan motivator asal Australia.

Sama seperti Christian, Nick Vijicic (35), lahir di Melbourne, 4 Desember 1982, telah memiliki isteri dan dua anak, juga menderita tetra-amelia syndrome, tidak memiliki tangan dan kaki. Sejak usia 17, Nick yang memiliki motivasi hidup tinggi mulai aktif dalam persekutuan doa. Dia lalu mendirikan organisasi nirlaba bernama Life Without Limbs.

Nick menyelesaikan kuliahnya di Griffith University, dengan menyandang dua gelar sarjana, Akutansi dan Finasial Planing. Yang membedakan antara Christian dan Nick, Nick mendapat curahan kasih dari kedua orangtua kandungnya. Kedua orangtua Nick tidak saling menyalahkan dan justru melakukan refleksi. Kedua orangtua Nick selalu mengatakan Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi hidup rumah tangga kami.

Saat Nick berusia lima tahun, persisnya pada 15 September 1987, Paus Johanes Paulus II, yang saat itu sedang berkunjung di Los Angeles, terpukau dengan permainan Gitar Kaki Tony Melendez (55), kelahiran Rivas, Nicaragua, 9 Januari 1962. Saat itu Tony baru berusia 25 tahun. Tony tidak memiliki tangan. Dia belajar gitar dengan kaki di usia 16 tahun.

Di depan Paus Johanes Paulus II, Tony melantunkan lagu berjudul Never Be The Same. Usai melantukan lagu, Paus Johanes Paulus II lalu mendekati dan menciumnya dengan penuh kasih. Tony selalu bersyukur, Tuhan pasti memiliki rencana tersembunyi di balik kecacatan fisiknya.

Tony dan Nick banyak berkeliling untuk memberi semangat kepada orang muda atau orang-orang yang keadaannya seperti dirinya. "Jangan pernah menyerah," pesannya. "Kalian memiliki anggota badan yang lengkap, pasti bisa melakukan banyak hal. Tuhan menyayangi kita. Lihatlah saya." Mari kita belajar dari Tony, Nick dan Christian. Belajar untuk tidak menyerah. Belajar bersyukur dan mengembangkan diri.

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi