Pangan

  22 Oct 2017, 01:47

Pada 16 Oktober lalu, dunia memperingati Hari Pangan Seduni (HPS). HPS ini menjadi program hajatan dunia sejak 1981 yang digalang oleh FAO (Food and Agriculture Organization) - Organisasi Pangan dan Pertanian, yang berada dibawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Pangan

Latar belakang keputusan FAO pada 1979 ini didasari oleh keprihatian dunia akan kemiskinan dan bencana kelaparan yang masih diderita oleh bangsa-bangsa di negara dunia ketiga. Kelaparan dan kemiskinan tidak hanya diderita oleh bangsa di negara Afrika saja. Kelaparan dan kurangnya makanan yang bergizi dan sehat juga banyak diderita bangsa Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu, beredar secara viral foto seorang bule yang tidak disebutkan namanya sedang menyuapi seorang pengemis miskin tuna daksa di sebuah pinggiran jalan. Banyak yang memberi perhatian dalam bentuk uang dan makanan, namun karena dia tidak memiliki dua tangan, untuk makan pun sangat sulit dilakukan.

Si Bule mungkin tidak memberi uang atau makanan. Namun, dia memberi perhatian dan kasih sayang dengan melayani. Pelayanan yang dilakukan turis bule ini, seolah menjadi oase bagi sang tuna daksa - yang mungkin saat itu memang sedang dalam kondisi kelaparan dan tidak pernah mendapat perhatian.

Minggu lalu di sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan koridor halte busway, seorang bocah kira-kira berusia 8-9 tahun bernama Aisah sedang menyuapi ibunya yang terbaring sakit. Keduanya berjualan koran dan kertas tisue. Meski sakit, ibu dan anak ini tetap harus berjualan agar bisa membeli makanan. Orang yang lalu-lalang di jembatan tersebut banyak yang iba menyaksikan Aisah dengan penuh perhatian menyuapi ibunya.

Banyak yang ingin memberi uang pada gadis cilik ini. Namun, dengan sopan dia menolak dengan menawarkan dagangannya, yang berupa koran dan kertas tisue. Dalam keterbatasannya, gadis cilik ini tetap bertahan untuk mencari rejeki yang halal. Gadis cilik ini menolak, belas kasihan. Tentu yang luar biasa adalah ibunya, dia mengajarkan sikap positif dalam keterbatasannya, dalam kekurangannya. Mereka membutuhkan makanan, namun dengan cara yang baik.

Di Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel (MBK), hampir semua umat paroki berlebih secara ekonomi. Nyaris tidak pernah terdengar ada umat yang tidak bisa makan. Lalu, bagaimana menyikapi HPS? Jangan membuang makanan dan makan secukupnya. Paus Fransiskus mengingatkan kita, agar mewujudkan kepedulian tersebut dengan memasak dan menyediakan makan secukupnya, membeli atau mengambil makanan secukupnya.

Jangan pernah membuang makanan, siapapun yang membuang makanan, itu sama saja dengan merampok makanan yang seharusnya menjadi hak orang lain, khususnya orang miskin. Mari kita semakin peduli dengan tidak membuang makanan.

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi