Pancasila Menyatukan Kita

 Helena D. Justicia  |     4 Sep 2017, 02:43

Ayo duduk bersila
juallah obat yang paling mujarab
Ayo amalkan Pancasila
semakin adil semakin beradab

Pantun itu dilantunkan Kepala Paroki Tomang - Gereja MBK, Rm. Andreas Yudhi Wiyadi O.Carm, saat membuka Seminar Pancasila yang bertema 'Menjadi Manusia Indonesia yang Berkeadilan dan Berkeadaban'. Seminar diadakan pada Sabtu, 26 Agustus 2017 di Auditorium MBK, dihadiri 568 peserta termasuk aktivis HAAK dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), alumnus Sekolah Sabda, dan sejumlah 'tetangga' MBK seperti Pesantrean Asshidiqiah.

Dalam sambutannya, Rm. Yudhi mengajak peserta untuk menyadari bahwa Pancasila sebagai dasar ideologi negara, akhir-akhir ini menghadapi ujian yang luar biasa. Pancasila adalah anugerah Allah. Selama 72 tahun negara ini berdiri, kita tak bisa membayangkan andaikata tak ada Pancasila. Semoga kita makin mencintai Pancasila dan makin mampu juga untuk merasakan manfaatnya.

Seminar terselenggara atas kerja sama Seksi HAAK, Seksi Keadilan & Perdamaian, Seksi Kepemudaan, Seksi PSE, Seksi Komsos, WKRI dan kolaborasi dengan Panitia Tahun Lingkungan & 45 Tahun MBK. Bertindak sebagai moderator seminar adalah Gregorius Bambang Pitoyo dan Marselinus Beka Ulung Hapsara.

Awan Gelap Kebencian

Pembicara pertama yang mengemukakan gagasannya adalah Syafi'i Alielha atau yang akrab dipanggil Savic Ali. Savic adalah pengelola NU Online, website Nahdlatul Ulama. "Saya sering memantau media sosial. Saat ini saya sedang tracking akun yang konsisten memuat kebencian. Hampir tiap jam ada kampanye, ekspresi kebencian, dan tak jarang kekerasan. Tak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Mulai Timur Tengah, Amerika, Asia dan Eropa. Kita diliputi awan gelap kebencian," kisah Savic.

Savic menyayangkan perilaku pengguna medsos yang kurang bijak. "Orang banyak menyebarkan info yang tidak dia ketahui dengan pasti. Ada 100 juta orang pengguna internet di Indonesia, 65 juta di antaranya pengguna aktif. Anak-anak yang lahir tahun 1990-an bahkan menjadikan internet sebagai sumber informasi utama."

Menurut Savic, penghinaan terhadap orang lain dalam media sosial, beragam dari yang bersifat ringan hingga yang mengancam. Bahkan, ada yang jauh dari yang kita bayangkan sebagai perbuatan makhluk yang beradab. Yang lebih parah, tegas Savic, "Kampanye kebencian sering dilegitimasi dengan argumen agama."

Di antara 10 website Islam terbanyak yang diakses orang, NU Online adalah satu-satunya website yang konsisten mengkampanyekan perdamaian. Sembilan lainnya menyuarakan Islam konservatif. "Mayoritas muslim moderat tidak sadar dengan aktivitas dunia maya. Mereka tidak intens kampanye di dunia online, sehingga website ultrakonservatif, radikal, dan intoleran pun mendominasi," jelas Savic.

Setelah kasus Ahok orang baru tersadar. "Ada gelombang besar ultrakonservatismme yang mengancam Indonesia. Kita harus aktif. Sebagian kita tidak tahu harus berbuat apa. Pemerintah juga belum lama baru mengambil tindakan, karena ini adalah realitas baru," ujar Savic. "Kami survai sejumlah 1.200 anak muda berusia 15-30 tahun di enam kota. Kelompok yang tidak toleran adalah anak usia 15-20 tahun, dan kelompok 20-25 lebih tidak toleran lagi. Ini adalah peringatan bagi kita. Peran orang tua menjadi lebih penting untuk mendidik anaknya, agar anak dapat menghargai perbedaan."

Minoritas bukan Tumbal

Pembicara kedua, Rm. Prof. Dr. Eddy Kristiyanto OFM menegaskan, "Satu keyakinan batin yang perlu dimiliki setiap warga Indonesia adalah spiritualitas Pancasila." Sayangnya saat ini Pancasila berada dalam ancaman: disintegrasi, radikalisme, sindrom mayoritas-minoritas, kesenjangan antara kaya dan miskin, praktis demokrasi nyaris nol. "Jika ancaman konkret ini ada di dalam bangsa, cepat atau lambat negeri ini akan hancur. Yang sedang kita bangun akan runtuh karena yang ada hanyalah chaos, survival of the fittest," tegas Rm. Eddy.

Ada fakta menarik yang dituturkan Rm. Eddy. Meskipun jumlah orang Kristen-Katolik di Indonesia hanya sedikit, sebanyak 30% penghuni lapas adalah mereka. "Kekristenan tidak memiliki dampak, memberikan pengaruh." Jika terhadap penganutnya saja tak berdampak, apalagi bagi penganut agama mayoritas?

"Satu-satunya yang menyatukan kita adalah Pancasila," ujar Rm. Eddy. "Kekeliruan orang Kristen adalah buta politik, tidak mau terlibat politik. Ada anggapan politik adalah kotor sehingga 'kami mau berdoa saja'. Berdoa tidak banyak mengubah."

Rm. Eddy mengutip pernyataan Santo Ireneus 'Gloria Dei est vivens homo'. "Kemuliaan Allah nyata dalam manusia yang hidup. Semakin Allah dimuliakan, manusia semakin mengalami kehidupan yang berkualitas. Sangat tidak masuk akal jika memuliakan yang Allah yang Mahatinggi tapi mematikan manusia. Sikap terhadap sesama menjadi tolok ukur iman kita. Minoritas bukan tumbal," tegas Rm. Eddy.

Sebelum Berkeadilan, Lebih Dulu Berketuhanan

Pembicara terakhir adalah Gus Nuril Arifin. Pengasuh 12 pesantren NU ini menyergah kedua pembicara sebelumnya, "Yang disampaikan benar semua tapi apakah kita mau mengeksploitasi, mengeksplorasi persoalan?"

Lebih jelas dituturkan Gus Nuril, "Apa yang dikemukakan hanya kembali pada: ketika engkau mengutamakan kerajaan langit, semua akan ditambahkan. Untuk mencapa kerajaan langit itu harus mengikuti Aku jalan kebenaran yang hidup. Yang kita bicarakan masih pada lapisan syariat alias kulit. Kalau mengutamakan kerajaan langit, tidakbertumpu pada syariat. Syariat melahirkan tafsir macam-macam. Syariat hanya melayani darah dan daging, bukan roh yang melayani tuhannya. Tidak akan ketemu 'dia dalam aku dan aku dalam dia'."

Menurut Gus Nuril, jika semua orang sudah masuk pada kesejatian di dalam agamanya, tanpa diperintah ia akan masuk ke dalam koridor Pancasila dengan mudah. "Sebelum berkeadilan, kita perlu berketuhanan," tegasnya.

Lihat Juga:

Fokus (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi