Romo Kris: dari Gereja MBK ke Gereja MBK

  10 Sep 2017, 02:48

Lima tahun tidak berkarya di Paroki, lalu ditugaskan di Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel (MBK), Jakarta membuat Romo Kris (Kristianto Puji Sutrisno OCarm), harus belajar cepat. Paroki Tomang, Gereja MBK merupakan paroki besar, umatnya sangat dinamis, sehingga Pastor dituntut segera beradaptasi dengan dinamika umat gereja MBK.

"Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memiliki Dewan Karya Pastoral (DKP) yang dipimpin oleh Romo Diosesan Samuel Pangestu. DKP ini terus memonitor dan memberi arahan kreatif dalam pelayanan para pastor lawat Arah Dasar (Ardas) KAJ. Saya masuk di penghujung Ardas pertama, dan ikut ambil bagian dalam membuat Ardas kedua. Ini sangat membantu dalam pelayanan kami, terutama di Paroki Tomang," ujar pria yang suka traveling ini.

Romo Kris: dari Gereja MBK ke Gereja MBK

Di Paroki Tomang, Gereja MBK menurut Romo Kris, sistem tersebut berjalan secara baik dan mempengaruhi tata gerak pelayanan umat yang bergerak sangat dinamis. Ibaratnya, karena sistemnya sudah baik - seperti pesawat terbang auto pilot pun pasti sampai di tujuan.

Namun, sistem yang diterapkan selama ini tidak semuanya baik, tentu ada kelemahannya. "Sistem tersebut hanya berorientasi pada kegiatan, evaluasi kegiatan, apakah kegiatan atau tersebut sudah tercapai atau belum. Jika belum tercapai atau kurang baik, lalu diperbaiki. Masih dalam tahap mencapai tujuan belum masuk pada tahap refleksi untuk masuk secara mendalam dalam keimanan Katolik," ujar kelahiran Brebes, 19 Juni 1977 ini.

Menurut Romo Kris, tidak hanya kelemahan sekaligus merupakan tantangan ke depannya. Salah satu contoh yang cermati ketika membuat program Seminar, tujuannya lebih pada keberhasilan seminar dengan jumlah peserta yang banyak. Jika menyelenggarakan seminar dengan peserta, misalnya seratus, duaratus, tigaratus sampai sembilanratus peserta ini sudah dianggap berhasil.

"Menurut saya itu baru kuantitas kepesertaan. Refleksi kedalaman iman terhadap tema Seminar tersebut juga perlu dievaluasi. Jangan hanya iman seremonial. Sampai sejauh mana, peserta semakin reflektif dalam merealisasikan tema-tema yang ditawarkan. Ingat spiritual Karmel, Iman yang berkembang dari dalam," kata Romo yang menerima tahbisan pada 12 Mei 2005 ini.

Pilar Pewartaan

Selama dua setengah tahun melayani umat gereja MBK, juga menjadi pendamping Pilar Pewartaan, yang terdiri dari Seksie Katekese, Seksie Kerasulan Kitab Suci, Seksie Panggilan dan Seksie Komunikasi Sosial (Komsos), Romo Kris menilai semua sudah berjalan dengan baik.

Untuk Seksie Katekese, yang sekarang sudah ada tenaga Katekumen Paskah, Katekumen Natal, Katekumen Lansia dan Katekumen Remaja, semua sudah berjalan secara baik. "Hanya ke depannya perlu ditambah tenaga Katekumen bagi mereka yang mau menikah. Apakah motivasi masuk Katolik hanya bertujuan untuk menikah saja?" ungkap Romo Kris.

Menurut Romo Kris, Seksie Katekese perlu membuat sebuah sistem kontrol bagi Katekumen yang mau menikah ini. "Bisa juga dilakukan semacam penelitian kecil tentang kehidupan iman mereka setelah menikah. Bagaimana rasanya membentuk keluarga Katolik, kira-kira seperti itu," jelasnya.

Untuk Seksie Kerasulan Kitab Suci, Seksie Panggilan dan Seksie Komsos, Romo Kris menghimbau untuk berkolaborasi mengoptimalkan dan mendayagunakan perpustakaan secara lebih efektif lagi. "Buku itu gudangnya ilmu, dan semua seksie membutuhkan informasi yang berasal dari buku. Ada baiknya berkolaborasi," katanya.

Sub-Seksie Perpustakaan, Romo Kris menilai perlu dikembangkan lagi. Baik sarana maupun pra-sarananya. Perpustakaan menurut dia saat ini sangat diminati oleh anak-anak. Perpustakaan juga menjadi sarana pembentukan dasar iman katolik bagi anak-anak.

"Saya mendapat informasi, anak-anak senang berada di perpustakaan. Anak-anak kan membutuhkan kenyamanan saat membaca, sementara perputakaan gereja MBK lokasi dan tempatnya sudah tidak memadai. Ini sebenarnya fungsi kolaborasi, misalnya menempatkan buku yang diminati anak di lokasi Sub-Seksi Bina Iman Anak, misalnya untuk menyiasati keterbatasan tempat," ungkap Romo Kris.

Secara keseluruhan Pilar Pewartaan telah berjalan dan menghasilkan pelayanan yang baik, namun Romo Kris menghimbau secara struktural diperbaiki. Sedapat mungkin setiap jabatan ada dua orang. "Mengapa harus selalu ada wakil, ini fungsinya untuk kaderisasi, tongkat estafet kepada yang lebih muda," katanya.

Sementara dalam pengalaman pendampingan di lingkungan, Romo Kris merasa kurangnya kaderisasi. Kurangnya melibatkan orang muda Katolik (OMK) dalam struktur di lingkungan maupun wilayah. Kaderisasi di lingkungan kurang bisa berjalan. Harapannya di tahun 2018, kaderisasi di Pilar Pewartaan sudah berjalan dengan baik.

"Seperti saya sampaikan sebelumnya, kaderisasi itu sangat penting. Bagaimana melakukan kaderisasi dengan mulus, buatlah struktur organisasi yang wakil-wakilnya orang muda. Sehingga, dalam satu periode kepemimpinan, orang muda ini sudah cukup matang untuk menggatikan para seniornya," himbau Romo Kris

Paroki Kasongan Gereja MBK

Pada Senin, 11 September 2017 nanti, Romo Kris akan meninggalkan Paroki Tomang, Gereja MBK menujut tugas pelayanan baru di Paroki Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, Gereja MBK. Romo Kris mengatakan, ini merupakan tugas baru dan baru pertama kali dia ditugaskan pelayanan di Kalimantan.

Romo Kris: dari Gereja MBK ke Gereja MBK

Namun, Romo Kris menyatakan dirinya sudah siap termasuk secara fisik, karena berdasarkan informasi dari beberapa Romo yang pernah bertugas di Paroki Kasongan, seperti Romo Joko dan Romo Eko, jarak stasi terjauh adalah 186 kilometer dan itu harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. "Saya memang harus membekali diri agar jika terjadi sesuatu di jalan, misalnya pecah ban, atau mogok, saya harus bisa menyelesaikan sendiri," kata Romo Kris.

Saat ditanya yang pertama akan dilakukan setiba di Paroki Kasongan, Romo Kris menjawab belajar dan langsung melayani. Mempelajari sejarah berdirinya Paroki Kasongan, dan mempelajari karakter umat Paroki Kasongan. "Selain istilah kerennya mapping, kegiatan pastoralnya seperti apa, wilayahnya bagaimana termasuk tingkat sosial ekonomi masyarakatnya," kata Romo Kris.

Setelah berkonsultasi dengan Bruder Basuki, Romo Kwek, dan para Romo lain yang pernah bertugas melayani di Kalimantan. Romo Kris menyimpulkan tugas pelayanan di Kalimantan nanti harus kuat secara fisik.

Namun, yang lebih penting memberi motivasi umat di Paroki Kasongan. "Memotivasi mereka agar terlibat dalam kehidupan menggereja. Pendekatan secara personal mungkin bisa saya lakukan, tapi yaa.. lihat nanti setelah saya tiba di sana," ungkap Romo Kris.

(bnj)

Lihat Juga:

Fokus (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi