MBK = Membagi Berkat Kristus!

 Rm. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm  |     18 Nov 2017, 23:53

'Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tak pantas dijalani,' demikian petuah filsuf Socrates. Bagi Socrates, manusia jelas tidak sama dengan hewan apalagi tumbuhan. Manusia bisa memaknai hidupnya. Manusia yang merefleksikan pengalaman hidupnya akan mendapatkan pelajaran, hikmah dan maknanya. Bukankah memang pengalaman itu guru yang terbaik?

MBK = Membagi Berkat Kristus!

45 tahun MBK menjadi momen yang yang indah untuk melaksanakan refleksi itu agar terhindar pada pola mementingkan perayaan jasamaniah saja. Kendati refleksi ini hanya kecil-kecilan dan sederhana. Tujuannya jelas agar kita dapat memaknai hidup beriman di MBK ini. Kita bercermin untuk melihat dan memperbaiki diri. Refleksi tidak boleh berhenti pada tataran kasat mata tetapi dapat menembus kedalaman disposisi batin baik pribadi maupun persekutuan umat Allah.

Saya ingin terlebih dulu mengambil suatu cerita inspiratif yang sangat biasa Anda baca dan dengar. Tetapi pesannya selalu luar biasa untuk kita renungkan. Cerita tentang Danau Galilea dan Laut Mati. Apakah persamaan dan perbedaaan antara Danau Galilea dan Laut Mati? Persamaannya adalah Danau Galilea dan Laut Mati mendapat air dari sumber yang sama yaitu sungai Yordan. Perbedaannya adalah danau Galilea sangat indah yang sekelilingnya ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan banyak orang yang bermukim di sekitarnya. Dan di dalam danaunya banyak jenis ikan hewan air yang hidup dan berkembang. Sebaliknya, Laut Mati adalah tempat yang tidak bisa ditinggali. Tak ada tumbuhan atau spesies yang dapat hidup di dalam maupun di sekeliling laut mati karena kadar garamnya yang begitu tinggi. Bukan itu saja, bau pada daerah laut mati ini juga sangat tidak sedap. Mengapa keduanya bisa sangat berbeda? Padahal sumber airnya sama. Hal ini dikarenakan Danau Galilea "menerima dan memberi". Danau Galilea meneruskan airnya ke sungai dan temapat-tempat lain. Sedangkan Laut Mati "menerima dan menyimpan" untuk dirinya sendiri, air yang masuk ke Laut Mati tidak pernah keluar lagi.

Gereja MBK tidak ingin menuju pada kematiannya. Gereja MBK terus diharapkan bertumbuh, berkembang dan berbuah. MBK Jakarta telah berusia 45 tahun. Usia manusia bukan lagi remaja dan juga belum glamour (golongan lanjut umur). 45 tahun dalam usia ideal manusia adalah usia yang dewasa matang. Maka saya mempunyai harapan bahwa umat MBK telah bertumbuh dalam usia dewasa matang dalam iman harapan dan kasih. Dewasa matang dalam persekutuan dan pelayanan kasihnya. Gereja MBK adalah Gereja yang bermanfaat.

Gereja yang demikian adalah gereja yang tidak hanya asyik dengan dirinya sendiri lupa akan perutusannya. Gereja Kristus itu mengemban tugas mulia misioner. Artinya Gereja tidak kenal lelah dan lintas batas masuk ke lorong-lorong dunia untuk menyampaikan kabar sukacita Injili.

Gereja akan semakin hidup dan berkembang dalam eksistensinya justru ketika dia menghayati diri seperti Danau Galilea. Di sini jelas sebagai orang Kristen jangan hanya bisa menerima saja, tapi kita juga harus bisa memberi berkat Allah bagi orang lain. Tuhan Yesus mengajari kita untuk memberi dan berbagi kehidupan. Apa saja yang telah kita terima dari Allah baik berkat, talenta, kekayaan, kecerdasan, jangan hanya dinikmati sendiri, tapi bagilah agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain dan kemuliaan nama Tuhan.

"Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." perintah Yesus pada para murid-Nya (Matius 10:8). Perintah ini tetap aktual dan relevan berlaku bagi kita saat ini. Allah lebih dulu memberikan berkat-Nya pada anda setiap hari sampai tidak terhitung. Giliran Anda bagaimana? Apakah Anda telah menjadi saluran berkat-Nya, atau malah mandeg seperti laut mati? Andaikan pun mengalir, apa itu mengalir dengan cuma-cuma seperti air Danau Galilea? Andakan ada pamrih maka pemberian itu akan percuma. Karena pemberian yang tidak tulus bukan cinta ilahi tetapi transaksi. Pemberian dengan pamrih selalu pedih. Karena Tuhan telah memberikan diri secara cuma-cuma maka berikanlah dengan cuma-cuma pula. Bila tidak, di situ telah terjadi manipulasi dan korupsi.

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan pengurus WKRI dan PSE MBK. Kami berdialog dan merefleksikan tindakan pelayanan selama ini. Pijakan tetap sama, yakni melayani umat Allah yang miskin dengan karitatif dan pemberdayaan. Seperti Yesus yang berkeliling dan berbuat baik menghadirkan kabar sukacita Injili (baca: Kerajaan Allah), demikian kita hedaknya. Karena bisa saja selama ini kita kurang jemput bola dan hadir langsung di medan karya, sehingga hak mereka untuk mendapatkan pelayanan menjadi terlewatkan. Dana sosial yang dikumpulkan tujuannya untuk menunjang dan memaksimalkan karya pelayanan ini, bukan disimpan terus. Ingatlah kembali cerita Laut Mati.

Ketika saya hadir pada awal bersama umat Allah di MBK ini, yang saya lakukan sebagai orientasi pastoral saya selain banyak bertanya, mendengarkan, tidak lupa pula membaca sejarah MBK. Mengapa? Karena kita mempunyai tanggung jawab sejarah itu. Saya sungguh terkesan dan kagum dengan para gembala dan perintis. Ada pelayanan dan kerjasama yang padu antara umat dan gembalanya. Pengorbanan tenaga, waktu, pikiran dan dana tercurah luar biasa. Ada ketulusan, semangat tidak kenal lelah, saling mendukung dan tentu saja pengorbanan apa saja.

Mereka hidup dalam iman yang kuat kendati dalam keterbatasan. Api iman dan Roh Kudus terasa kuat dalam daya dan pekerja-Nya. Umat mengambil tanggung jawab yang besar pada gerejanya. Bahkan dicatat secara rutin yang membersihkan dan mengepel gereja waktu itu langsung dari umat diatur bergiliran. Ini sangat indah. Lebih indah lagi mereka saat itu dengan gesit melaksanakan silaturahim, berdialog dan menjalin persaudaraan inklusif bukan saja dengan para tokoh, pejabat tetapi juga masyarakat biasa. Rintisan dan tindakan kasih yang niscaya kita lanjutkan.

Kita tetap mau menyadari dan mendorong maju bahwa Gereja MBK ada tidak hanya untuk dirinya sendiri. MBK ada dikehendaki oleh Tuhan untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah bukan kerajaan manusia siapapun itu. Paulus ingatkan,"Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Rom 14:17).

Pertanyaannya, sudahkah MBK concern terhadap perkara-perkara Allah: kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus, bukan malah terjebak pada kebutuhan perut saja? Kita sendiri yang tahu dan wajib menjawabnya. Karya Roh Kudus itu dapat dikenali dari buahnya bila hidup kita semakin menampakkan pelayanan yang tulus, keguyuban, kerjasama, pewartaan menyentuh kerinduan kedalaman hati umat mulai dari yang balita sampai lansia, dan ibadah semakin memerdekaan. Kita boleh yakini Roh Kudus tengah bekerja.

Begitulah betapa indahnya hidup ini. Ibaratnya tanaman, MBK ini tanaman yang tengah produktif. Kita sebagai petani ini sekarang tinggal merawat dengan memupuk, membersihkan dan menyiraminya. Tanaman itu siap dan terus menghasilkan buah-buah Roh yang siap selalu dinikmati oleh siapapun.

Akhirnya dalam kesempatan yang indah ini, saya sebagai Pastor Kepala Paroki MBK mengucapkan banyak terima kasih atas kasih nyata yang telah dan tengah Anda kalian berikan untuk MBK. Mulai dari anak-anak, rekan-rekan muda, umat dewasa dan juga yang berusia lanjut. Anda telah menaburkan rahmat Allah itu. Yakinlah itu semua tidak sia-sia. Selamat merayakan HUT 45 MBK. Bersukacitalah! Semoga kasih dan berkat Tuhan selalu tercurah untuk kita semua. Amin.

Rm. A. Yudhi Wiyadi O.Carm

Lihat Juga:

Fokus (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi