Kerasulan Sosial Ekonomi Gereja Katolik Indonesia - Mewujudkan HPS Sebagai Gerakan Moral Yang Membangun Manusia Seutuhnya

  27 Oct 2010, 22:37

PENDAHULUAN

1. Hari Pangan Sedunia (HPS) atau World Food Day adalah momentum di manamasyarakat dunia diajak untuk merefleksikan dan memperhatikan kembali keadaan pangan dunia. Di banyak tempat, khususnya di negara-negara sedang berkembang, ketersediaan pangan tidak mencukupi. Masyarakatnya terancam bahaya kelaparan. Masyarakat dunia perlu disadarkan akan situasi ini, supaya tumbuh kerjasama untuk memperbaiki keadaan yang mendesak ini.

2. Kehadiran gerakan HPS dalam Gereja kita sudah berlangsung sejak 1982. Pertumbuhan pemahaman secara gereawi pun semakin berkembang dalam sikap dan perilaku umat. Kedudukan HPS dalam hidup gerejawi menunjukkan kepedulian yang semakin meluas. Peristiwa perayaan bersama memperlihatkan juga "pertumbuhan kemampuan" untuk membuka diri pada perubahan sosial yang terkait dengan persoalan pangan masyarakat. Pada gilirannya, nampaknya kemurahan hati untuk berbagi semakin memperkuat gerakan HPS sebagai suatu "gerakan moral"dalam persekutuan gerejawi yang merangkul semua orang yang berkehendak baik.

3. Pertemuan HPS KWI yang telah dilaksanakan di Yogyakarta, 20-24 Oktober 2009 oleh Panitia HPS KWI bersama Para Ketua Komisi PSE Keuskupan dan 1 orang Fasilitator Pertanian dari 35 Keuskupan di Indonesia (2 keuskupan tidak hadir: Keuskupan Padang dan Keuskupan Timika) dan Mitra HPS KWI (WKRI, Koptari, Komisi Pendidikan KWI dan Komisi Komsos KWI) memaknai kehadiran HPS sebagai momentum untuk meningkatkan kerjasama kolaboratif. Diharapkan bahwa berkembang juga keunggulan tindakan nyata Panitia HPS baik di tingkat nasional maupun keuskupan, agar umat bersama

masyarakat sekitar semakin terbuka untuk memahami dan mengambil bagian dalam gerakan bersama membangun "kedaulatan pangan" sebagai tanda kebebasan manusiawi dalam menggerakkan sumber daya yang dianugerah kan Tuhan secara melimpah.

4. Sebagaimana Komisi/Panitia HPS kita mengetahui dan menyadari, Gereja berada dalam gerakan HPS guna menghadirkan wawasan etis, yaitu bagaimana menggerakkan kinerja bersama dalam tata kelola HPS yang berkelanjutan secara manusiawi, menurut prinsip Ajaran Sosial Gereja kita dalam konteks kesejahteraan bersama. Gerakan sayang akan kehidupan harus berangkat dari gerakan sayang akan pangan yang cukup, sehat dan bermutu dalam menumbuhkan energi manusiawi dalam konteks persaudaraan dan persahabatan dalam masyarakat kita.

Gerakan HPS: Sebuah Proses5. Sesudah mendengarkan wawasan luas tentang keadaan pembangunan ekonomi masyarakat secara global, yang semakin tergantung pada keputusan pemerintah dan pengusaha yang mendunia, masyarakat warga perlu belajar menemukan kekuatan bersama untuk memelihara kedaulatan pangan dalam relasi yang meluas. Masyarakat warga perlu bergerak kearah penemuan regulasi yang adil untuk memelihara kedaulatan pangan, utamanya tanah, benih dan pasar.

6. Ketersediaan sarana produksi pertanian dalam proses pengembangan pangan sudah merupakan tantangan yang paling utama bagi para petani, peternak dan nelayan. Ketidakseimbangan dalam regulasi turut menempatkan "sumber daya pangan"dalam keadaan yang memprihatinkan, utamanya upaya perubahan yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat penyedia pangan masyarakat kita.

7. Gereja perlu menyadari bahwa kehadiran penyadaran kemanusiaan dalam hal pangan bukanlah pertama-tama persoalan teknis pengadaan pangan, tetapi bagaimana menyadarkan umat bersama masyara kat menjadi bermanfaat bagi peningkatan hidupnya, yaitu terlepas dari kemiskinan,dan pada gilirannya mengembangkan ketersediaan pangan yang berdaulat ditengah masyarakat.

8. Pendidikan serta penyadaran akan kerjasama kolaboratif perlu mendapatkan tempat utama dalam gerakan moral HPS Gereja kita, agar semua program strategis pengem­ bangan kedaulatan pangan dapat berdaya-tumbuh dalam membangun hidup dan penghidupan yang berharkat manusiawi secara berkelanjutan.

9. Gerakan-gerakan bersama yang menguat dalam kehidupan Gereja kita ditinjau dari usaha pangan perlu mendapatkan peduli yang efektif, agar kehadirannya semakin menjadi "model"dalam mengupayakan kerjasama kolaboratif yang meluas. Kerjasama ini harus menjadi komitmen bersama untuk memerdayakan "sumber daya pangan" dalam masyarakat, di manakita hidup dan berkarya.

10. Sumber daya pangan sangat tergantung pada ketersediaan sarana serta prasarana yang memadai, utamanya air, energi dan perhubungan, agar upaya-upaya pengembangan kedaulatan pangan terwujud dalam masyarakat menuju kesejahteraan bersama.

Perumusan Rencana Kegiatan11. Peserta Temu HPS KWI merumuskan rencana kegiatan yang mengarah pada semakin mewartakan "Kabar Gembira HPS" dengan kemungkinan kegiatan-kegiatan strategis sebagai berikut:

Mengembangkan penyadaran yang efektif. Membangun kemitraan multi pihak dan koordinasi untuk membangun kedaulatan pangan. C. Mengembangkan pertanian terpadu yang mengarah kepada kedaulatan pangan. D. Mengorganisir dan menguatkan kelompok tani HPS. E. Membangun dan mengembangkan koperasi kredit/Credit Union HPS, khususnya pemasaran hasil HPS. F. Mengembangkan SDM HPS,khususnya fasilitator dan relawan HPS. G. Mengembangkan benih (tanaman,ternak, ikan). H. Mengembangkan penyadaran/pendidikan gizi masyarakat dengan pangan lokal. I. Mengembangkan lumbung pangan. J. Mengembangkan komunikasi dan informasi berkaitan dengan HPS. K. Mengembangkan gerakan HPS yang berkelanjutan di paroki atau umat basis. L. Mengembangkan keterampilan pengolahan paska panen. M. Mengembangkan teknologi tepat guna. N. Mengadakan peragaan perayaan HPS yang bermutu edukatif. O. Melakukan animasi HPS dengan Surat Gembala dan Nota Pastoral.P. Mendorong reformasi agraria untuk kedaulatan pangan. Q. Meningkatkan peran dan fungsi perangkat pastoral Gereja (Komisi PSE/SSP) dalam pendampingan berkala dan berkelanjutan.

12. Bidang-bidang pokok di atas ini perlu mendapatkan analisis yang efektif, agar kehadiran HPS menjadi kesukaan serta pengharapan umat bersama masyarakat untuk bergerak bersama menuju apa yang disebut "kedaulatan pangan".

13. HPS Gereja adalah perwujudan kecil dalam menyadarkan umat bersama masyarakat setempat untuk menggalang kebersamaan HPS yang bercorak kepelayanan pastoral yang kolaboratif. Kerasulan HPS Gereja berada dalam tataran penyadaran umat bersama masyarakat, yang diharapkan mampu menggerakan praktek-praktek yang mewujudnyatakan wawasan HPS dalam penghidupan dan hidupnya secara berkelanjutan: pangan yang cukup, sehat dan bermutu manusiawi dalam lingkungan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang saling menguntungkan.

14. Gerakan HPS dalam konteks kedaulatan pangan mengandaikan komitmen yang tulus dan strategis yang mengadakan perubahan "pangan miskin" menuju kepada kesejahteraan bersama yang berdaulat dalam pangan yang cukup, sehat dan bermutu. Mutu hidup manusia adalah tujuan utama keterlibatan Gereja dalam gerakan HPS. Mutu hidup yang dinamis terungkap dalam sikap dant indakan rela berbagi dalam hal pangan yang cukup dan sehat. Gereja bergerak bersama masyarakat dalam hal HPS, agar solidaritas kristiani semakin terwujud dalam pembangunan hidup dan penghi­ dupan bagi semua orang.

15. Perjumpaan HPS KWI merupakan anugerah Tuhan, karena iman kristianilah yang mendorong kita untuk "temu-wicara-berproses"dalam menyadari tanggung jawab bersama akan kerasulan kemanusiaan, terkait dengan pangan. Oleh karena itu, perjumpaan HPS KWI adalah pernyataan rasa syukur kepada Sang Pencipta, sumber kekuatan dan pengharapan manusia akan pangan yang cukup, sehat dan bermutu manusiawi.

(Peserta Temu HPS KWI)

Lihat Juga:

HPS (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 14 Desember 2018

Peringatan Wajib St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja Di dalam Kristus ada lubuk-lubuk dalam yang masih harus didugai, yang selamanya...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi