Hari Pangan Sedunia

  27 Oct 2010, 22:48

Mereka yang mengalami masa krisis tahun 1960-an pasti ingat akan adanya makanan bulgur sebagai pengganti beras. Terutama bagi rakyat jelata, grass roots, dan beras bisa dibeli di toko-toko sandang pangan dengan kupon yang diperoleh dari RT-RT. Itu di Jakarta. Beruntung bagi keluarga PNS (pegawai negeri sipil), karena masih mendapat jatah beras tiap bulannya. Bukan saja beras, tetapi juga minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak, yang diperoleh juga dengan antri dengan kupon yang sama pula. Sebuah kenangan pahit, padahal waktu itu lahan pertanian di Indonesia masih cukup luas. Demikian juga dengan sumber minyak gas bumi juga cukup melimpah. Pengalaman ini ternyata tak menjadi bahan pelajaran menghadapi masa depan.

Kini, sebuah krisis pangan sudah membayangi dunia dan anjuran untuk mengganti makanan pokok seperti beras, gandum dan lain-lain sudah didengungkan sejak lama. Tahun 2009 Gereja MBK memperingati HPS tanggal 16 Oktober antara lain juga mengadakan seminar pangan dengan pembicara F. Rahadi, yang memberikan sejumlah contoh pengganti beras dengan umbi-umbian. Tahun ini kita masih bertanya kembali, tentang tantangan pangan ke depan. Hak atas pangan, mewujudkan kedaulatan pangan. Mengapa? Lihat saja Indonesia kini, semua bahan pangan sudah mulai diimport terutama beras. Bahkan singkong pun kini juga diimport. Problem swa sembada yang keterjang dengan ledakan jumlah penduduk. Indonesia menjadi Negara yang rawan pangan (95% penduduk makan nasi). Sementara lahan pertanian makin sempit keterjang bangunan segala bentuk. Anomali iklim, petani tidak siap, bisa terancam kekeringan atau kebasahan. Panen puso.

Sebagai umat Katolik, kita berpegang bahwa beragama tidaklah steril hanya berbicara tentang kesalehan saja di seputar altar. Tanggungjawab kita terhadap kehidupan masa depan merupakan bagian paling penting keberagamaan disamping kesalehan. Kualitas keagamaan seseorang sepatutnya diukur dari sejauh mana kepeduliannya terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Lalu, apakah tanggungjawab kita hanya bisa mengadakan seminar saja? terutama tentang pangan. Pasti tidaklah! Seminar itu hanya sarana untuk menggaungkan kembali, mengingatkan kembali, terutama kita, umat, bahwa krisis ini juga bisa menerpa kita, anak cucu kita.

Lalu, apa seterusnya? Marilah kita beragama yang merakyat dan peduli. Buka mata, telinga, lebarkan wawasan agar "kuman"steril terganti dengan jiwa humanisme yang beriman. (ED)

Lihat Juga:

HPS (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 14 Desember 2018

Peringatan Wajib St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja Di dalam Kristus ada lubuk-lubuk dalam yang masih harus didugai, yang selamanya...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi