Merdeka Bebas Dari Penjajah: Sharing OMK MBK

  26 Sep 2010, 20:31

"Mungkin Indonesia tidak akan bangga terhadapku. Namun, aku tidak punya alasan untuk tidak bangga terhadap Indonesiaku."Tulisan di atas adalah beberapa ucapan dan definisi idealis yang saya temukan di situs twitter ketika saya membukanya tepat pada pukul 00.00 pada tanggal 17 Agustus. Para twitterian (sebutan bagi pengguna twitter), terus-menerus mengekspresikan kalimat untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-65. Laman twitter saya tidak henti-hentinya bergeser ke bawah menampilkan pesan-pesan bernada idealis juga ada yang mengkritik pada Indonesia, pada warganya, dan juga pada pemerintah. Namun, ada juga yang memberikan pesan dan mendefinisikan arti kata "Merdeka" menurut ide mereka masing-masing. Tulisan-tulisan berbunyi nasionalis pun tak kalah banyaknya.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang penuh arti. Bermacam-macam Itu Satu. Kata-kata inilah yang pada akhirnya menggerakkan kami, para Orang Muda Katolik dari Gereja Maria Bunda Karmel untuk berani melakukan sebuah pagelaran untuk memperingati acara Ulang Tahun Indonesia yang ke 65. Ide ini tercetus pada tahun lalu di daerah Cibubur, di Bumi Perkemahan. Pendapat-pendapat dari banyak kepala terus-menerus dilempar. Pada akhirnya keputusan untuk mengadakan sebuah acara besar pun disetujui.

Dimulai pada tanggal 15 Agustus sebagai acara pembuka menyajikan bazaar yang menyajikan makanan-makanan khas Nusantara disertai lomba-lomba tradisional dan ditutup dengan sebuah acara musik dengan tema Pelangi Nusantara yang menampilkan bakat-bakat dari beberapa wilayah dan juga beberapa bintang tamu.

Perjalanan panjang menuju sebuah tujuan final tersebut diwarnai dengan berbagai emosi. Mulai tangis, tawa, amarah, sampai sedih terpapar semua di sepanjang jalan yang harus kami lalui. Perbedaan pendapat sering dan selalu mengisi pertemuan ini. Namun, yang saya sadari, perbedaan itulah yang pada akhirnya membuat kami menyatu dan mampu berjalan bergandengan, bersama menuju sebuah mimpi yang ingin dicapai. Berbagai masalah tidak dapat digambarkan lagi seperti batu kerikil di perjalanan kami, tapi seperti rangkaian kawat berduri, tebing yang menantang dan onggokan batu cadas di depan mata yang harus kami gunting, panjat, dan hancurkan. Lelah dan bosan bukanlah suatu alasan untuk berhenti menggapai mimpi. Sisi emosional dari setiap pribadi yang terselip malah mewarnai dinamisme dalam kepanitiaan. Semangat yang tercurah, seolah menjadi bahan bakar untuk terus maju menggantikan cucuran keringat dan luka di hati.

Memasuki bulan Agustus, kepanikan menyerang kami. Segalanya yang terlihat telah sempurna berubah drastis. Kami seolah harus memulai segalanya dari nol. Dikejar waktu, dengan sisa-sisa tenaga, kami terus berpacu melawan waktu. Segala kekurangan segera dilengkapi. Setiap detil yang terlihat buruk, segera disempurnakan. Dana yang kurang mencukupi, dipenuhi dengan segala daya upaya. Di tengah kepesimisan kami akan mimpi yang tergolong luar biasa ini, kami terus berdoa memohon segala perlindungan, petunjuk, dan berkat dari Tuhan. Dan memang Tuhan tidak pernah tidur.

Pada akhirnya, rangkaian acara kamipun berjalan dengan lancar. Dimulai dari Bazaar, lalu sedikit diselipi lomba-lomba tradisional yang cukup popular, dan akhirnya ditutup dengan sebuah acara seni untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Sebagai anak muda, para panitia telah memperlihatkan tekad kuat dalam merayakan kemerdekaan sekaligus semangat pelayanan tanpa pamrih yang luar biasa. Terima kasih anak-anak muda Katolik Gereja MBK. Semoga kalian bisa menjadi penerus dan tulang punggung gereja Katolik. Tetap semangat.

(Andreas Pratama - OMK)

Lihat Juga:

Kawula Muda (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 19 Februari 2019

Hari Biasa Pekan VI Janganlah makan terlalu banyak agar kamu tidak menjejali diri dan menjadi sakit. Jadi, makanlah dengan tetap merasa lapar. (St....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi