Makna Liturgi Ekaristi Bagian 1

 Maria Clarissa  |     10 Sep 2017, 02:39

Dua bagian penting dalam perayaan Ekaristi adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Pada bagian sebelumnya kita telah membahas Liturgi Sabda. Kali ini, kita masuk ke bagian Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi adalah pusat dari seluruh perayaan Ekaristi. Liturgi Ekaristi terdiri dari: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, dan Komuni. Untuk dapat memahami dengan lebih baik, di sini akan dijelaskan setiap bagian darinya.

Makna Liturgi Ekaristi Bagian 1

Persiapan Persembahan

Persiapan persembahan mengingatkan kita akan permintaan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk mempersiapkan perjamuan Paskah sebelum akhirnya Ia disesah dan dikurbankan. Bagian ini diceritakan dalam keempat Injil. Artinya, bagian ini merupakan salah satu pesan Yesus yang sangat penting, sehingga keempat penulis Injil menceritakannya. Dan memang inilah yang dilakukan oleh para jemaat Kristen dari abad ke abad. Pada zaman dahulu, umat membawa hasil bumi mereka sendiri. Tapi pada zaman sekarang, persembahan itu bisa dalam bentuk lain namun tetap mengandung nilai dan arti yang sama.

Kolekte yang kita persembahkan adalah untuk mendukung Gereja dalam karya kasih untuk menolong orang-orang yang menderita. Gereja tidak menentukan berapa banyak yang harus kita beri. Yang penting adalah, bahwa kita memberi dengan rasa syukur dan penuh sukacita atas segala berkat yang telah kita terima, dan sekarang dengan gembira kita berbagi berkat tersebut dengan sesama.

Sementara persembahan umat sedang dikumpulkan, imam juga ikut mempersiapkan meja altar. Ia akan mengatur kain korporale, piala, patena, palla, purifikatorium, dan buku Tata Perayaan Ekaristi di atas meja altar. Untuk selanjutnya, ada serentetan gerak ritual dan doa yang dilakukan oleh imam. Semua itu sangat kaya akan makna dan simbol. Kita akan coba bahas satu persatu.

Pertama-tama imam akan mengangkat patena berisi sekeping hosti, dan mengucapkan: "Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan." Umat pun menjawab: "Terpujilah Allah selama-lamanya." Kemudian imam akan meletakkan patena kembali ke meja altar, setelah itu ia akan menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala. Ketika ia mengangkat piala itu ia akan berkata: "Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari pohon anggur dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani." Umat kembali menjawab: "Terpujilah Allah selama-lamanya."

Percampuran roti dan anggur ini dianggap mengikuti praktik orang-orang pada zaman dahulu, di mana mereka menyimpan anggur dalam bentuk konsentrat. Agar dapat diminum, mereka harus mencampurnya dengan air. Bagi kita, percampuran antara air dan anggur ini adalah sebagai gambaran atas darah dan air yang tercurah ketika lambung Yesus ditikam oleh prajurit Romawi (Yoh 19:34). Mengenai hal ini, St. Siprianus menginterpretasikannya sebagai simbol kesatuan antara Yesus dan jemaat-Nya. Yang juga harus diperhatikan adalah aspek misteri inkarnasi Yesus sebagai puncak dari pewahyuan Allah. Hal ini sesuai dengan doa yang didaraskan dalam hati ketika imam mengisi piala dengan anggur dan sedikit air: "Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam ke-Allah-an Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami."

Doa "Terpujilah Engkau..." diarahkan kepada Allah Sang Pencipta yang telah menganugerahkan segala sesuatunya kepada kita. Itulah sebabnya roti dan anggur yang kita siapkan, kita akui sebagai anugerah dan kemurahan-Nya. Rumusan kalimat "hasil bumi atau hasil pokok anggur dan dari usaha manusia" ingin menegaskan bahwa melalui persembahan ini, kita juga ingin ikut ambil bagian dalam persembahan sejati, yakni kurban Kristus sendiri.

Sesaat setelah bagian ini, imam akan membungkuk dan berdoa dengan suara halus: "Dengan rendah hati dan tulus kami menghadap kepada-Mu ya Allah, Bapa kami. Terimalah kami, dan semoga persembahan yang kami siapkan ini berkenan kepada-Mu." Setelah itu, imam akan mambasuh tangan sambil berdoa dalam hati: "Ya Tuhan, bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan sucikanlah aku dari dosaku." Semua tata gerak pada bagian ini mengingatkan kita pada tradisi persembahan kurban dalam Bait Allah. Pada perayaan Paskah Yahudi, imam agung akan melalukan ritual mencuci tangan sebelum mempersembahkan kurban di altar. Bagi kita, air mengingatkan kita akan pembaptisan yang membersihkan dosa. Tradisi mencuci tangan ini juga mengingatkan kita akan perintah St. Paulus kepada Timotius: "Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan." (1 Tim 2:8)

Setelah itu imam akan mengajak kita berdoa "supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang maha kuasa". Kita pun berdoa: "Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus." Persembahan yang yang dimaksud adalah simbol pemberian diri kita seutuhnya kepada Allah, yaitu kerja, doa, dan seluruh aspek kehidupan kita.

- bersambung -

Lihat Juga:

Kolom Iman (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 19 September 2017, Hari Biasa Pekan XXIV

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 3:1-13) Saudara terkasih, benarlah perkataan ini, "Orang yang menghendaki jabatan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi