Tujuh Dosa Mematikan: Iri Hati

 Yeremias Jena  |     16 Jul 2017, 02:16

Sama seperti kerakusan dan pencabulan, iri hati berhubungan dengan hasrat atau keinginan manusia yang tidak terpuaskan. Iri hati berhubungan dengan hasrat atau keinginan yang sifatnya menyimpang terhadap hak milik, keberhasilan, atau pun prestasi orang lain. Perintah Allah yang kesepuluh menyebutnya sebagai 'menginginkan hak milik sesama secara tidak adil'. Santo Thomas Aquinas mengistilahkannya sebagai perasaan sedih (sadness) dan duka (sorrow) atas kesuksesan atau keberhasilan orang lain karena dia menganggap bahwa seharusnya dirinya yang lebih pantas mendapatkannya (Sum. Th. 2:2, Q.36).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) Bahasa Indonesia menyebut jenis dosa ini dengan nama 'dengki' (KGK 1866), tetapi juga dengan istilah 'iri hati' (KGK 2538-2539). Iri hati dan dengki sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup mendasar yang umumnya tidak disadari kebanyakan orang. Kita bisa memahami jenis dosa ini secara lebih mendalam antara lain dengan membedakan kedua istilah ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iri hati berhubungan dengan perasaan kurang senang ketika melihat kelebihan orang lain. Perasaan ini dalam berupa rasa cemburu, sirik, dan dengki. Sementara KBBI memaknakan kata dengki sebagai menaruh perasaan marah perasaan benci dan rasa tidak suka/rasa iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain.

Dengan begitu, kedua kata ini memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Iri hati dan dengki mendeskripsikan perasaan negatif yang timbul dari dalam hati manusia. Perasaan itu ditujukan kepada kesuksesan, prestasi, atau keberhasilan orang lain. Bedanya, rasa dengki mengandung iri hati yang lebih mendalam karena mengarah kepada kebencian, ketidaksenangan yang teramat sangat, bahkan paling ekstremnya adalah berusaha untuk menggagalkan kesuksesan tersebut, merebutnya atau pun merusaknya. Dalam Kitab Kejadian 4: 1-16, alasan Kain membunuh adiknya Abel adalah karena rasa cemburu berlebihan (dengki) atas perkenanan Allah kepada persembahan Abel. Itulah contoh paling klasik dari sifat iri hati dan dengki.

Menurut KGK 2539, iti hati termasuk dosa pokok di mana orang merasa kecewa karena orang lain mendapat untung. Misalnya, dua orang bekerja di sebuah perusahaan yang sama dengan masa kerja yang sama, tetapi salah seorang lebih sukses dari yang lainnya. Perasaan tidak senang ini mengarah kepada tindakan dosa ketika pihak yang tidak senang ini kemudian (1) berusaha dengan berbagai cara untuk menggagalkan atau merebut kesuksesan tersebut; (2) menginginkan atau melakukan hal yang jahat terjadi pada orang tersebut; dan kemudian (3) merasa senang atau berbahagia jika orang sukses tersebut telah berhasil dikalahkannya secara tidak adil.

Menurut Santo Agustinus, iri hati termasuk dosa setani (diabolic sin) (Catech, 4:8). Kitab Kebijaksaan mengatakan bahwa melalui kekuatan setanlah dosa iri hati masuk dan menguasai hidup manusia (Keb 2:24) dan kemudian mendorong manusia untuk melakukan kejahatan (kemungkaran). Demikianlah, menurut Santo Gregorius Agung, dari hati yang iri akan lahir kedengkian, fitnah, hujat, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungan orang itu (Mor 31:45).

Mari kita simak sebuah contoh sederhana. Anda sangat ingin memiliki mobil dengan merek tertentu. Untuk mewujudkannya, Anda bekerja kerasa dua tahun belakangan ini, tetapi belum berhasil membelinya juga. Tiba-tiba teman Anda membeli mobil incaran Anda tersebut. Ini menimbulkan perasaan iri hati, benci, atau bahkan merasa tidak pantas dengan hidup Anda sendiri. Menurut Santo Thomas Aquinas, perasaan ini bisa mengarah ke tindakan dosa jika Anda kehilangan cinta kasih, tidak suka dengan kesuksesan orang itu, berusaha menghalangi atau bahkan menghancurkan kesuksesannya, dan jika orang itu sudah dapat dikalahkan (secara tidak adil), Anda merasa senang atas penderitaan tersebut. Tetapi ketika orang itu belum berhasil dikalahkan atau dihancurkan, Anda akan berusaha untuk terus menghancurkannya (baca tiga tahap perkembangan iri hati dalam Sum. Th.: Treatise on the Theological Virtues [QQ 1-46]).

Menurut KGK 2540, orang Katolik seharusnya menolak atau memerangi dosa jenis ini karena bertentangan dengan hukum cinta kasih. Orang Katolik harus membangun dalam dirinya keutamaan 'kasih persaudaraan' (brotherly love) atau 'kebaikan hati' (good will). Kita diingatkan bahwa seringkali rasa iri hati itu lahir dari kesombongan, karena itu baik kalau kita senantiasa hidup dalam semangat rendah hati. KGK 2540 mengutip salah satu homily St. Yohanes Krisostomus, katanya, 'Apakah kamu ingin melihat Tuhan dihormati melalui kamu? Baik, kalau begitu, kamu harus bergembira dengan kemajuan saudaramu, dan dengan demikian, Tuhan sudah dimuliakan. Terpujilah Allah, demikianlah orang akan mengatakan, karena pelayannya tahu memerangi iri hati dengan bergembira atas jasa-jasa orang lain' (hom. In Rom. 7:5).

Setan tidak akan jemu-jemunya menggoda dan menghancurkan kita dengan mendorong kita supaya memiliki rasa iri hati dan benci kepada kesuksesan dan prestasi sesama. Pada level spiritual dan teologis, kita diminta menjadi orang Katolik yang perilakunya mencerminkan kehadiran Allah, menjadi orang yang senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan ketika ada sesama yang sukses dalam hidupnya. Sebaliknya, ikut bersedih dan berusaha membantu sesama yang dirundung kemalangan. Itulah makna sesungguhnya dari keutamaan 'cinta kasih persaudaraan'. Sementara pada level manusiawi (psikologis), kita sebaiknya menemukan dan mengembangkan kualitas-kualitas positif diri daripada fokus pada perasaan benci dan dengki pada kesuksesan dan prestasi orang lain.

Lihat Juga:

Kolom Iman (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi