Makna Ritus Komuni dalam Perayaan Ekaristi Bagian 3

 Maria Clarissa  |     22 Oct 2017, 02:01

Komuni

Akhirnya sekarang kita sampai pada puncak perayaan Ekaristi, yaitu Komuni Kudus. Di dalam Ekaristi terkandung keseluruhan harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, maka Ekaristi disebut sebagai 'sumber dan puncak kehidupan Kristiani' (KGK 1324). Kita telah melihat bahwa setiap bagian dari perayaan Ekaristi adalah untuk mempersiapkan kita menerima Komuni Kudus. Ekaristi adalah persatuan dengan Kristus dan melalui Kristus, kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus inilah yang disebut sebagai 'Komuni Kudus', yang menjadikan kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya. Jadi, dengan menyambut Komuni Kudus, kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah Kristus dan kita disatukan dengan Kristus dan dengan semua anggota-Nya. (KGK 1331)

Makna Ritus Komuni dalam Perayaan Ekaristi Bagian 3

Ekaristi merupakan bukti cinta kasih Kristus kepada kita. Melaluinya, Dia memberikan diri-Nya dan mempersatukan kita dengan-Nya. Oleh karena Dia telah mengasihi kita dan memberikan diri-Nya kepada kita terlebih dahulu, maka persatuan dengan-Nya melalui Komuni Kudus kita diubah untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya dalam hal mengasihi, yaitu terhadap sesama. Singkat kata, Komuni Kudus adalah sebuah perjamuan yang mempersatukan kita dengan Kristus dan anggota Tubuh Kristus lainnya. "Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu." (1Kor 10:17).

Menyambung hal di atas, St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan: "... setiap dari kamu yang berkumpul dalam satu iman dan persekutuan dalam Kristus, memecah roti yang satu, yang adalah obat kekekalan, dan penawar racun yang menyingkirkan kematian, namun menghasilkan hidup di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus." (Letter to the Ephesians, no: 20) Komuni Kudus adalah sungguh merupakan rahmat yang luar biasa, yang dianugerahkan Allah untuk keselamatan kita. Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya? Persiapan itu sudah dimulai sejak bagian awal perayaan Ekaristi hingga doa sebelum komuni, yang merupakan kesempatan bagi kita untuk memohon rahmat Tuhan supaya kita diberi kelayakan menerima Tubuh Kristus demi keselamatan jiwa kita. (penggalan dari 'doa sebelum komuni' yang disusun oleh St. Thomas Aquinas † 1274)

Setelah berdoa, kita pun siap menerima Komuni Kudus. Pada saat akan memberikan komuni, imam atau pelayan altar akan mengucapkan: "Tubuh Kristus", dan akan dijawab oleh umat dengan kata: "Amin." Seruan ini ingin menegaskan bahwa yang kita terima adalah benar-benar Tubuh Kristus, dan kita menjawab dengan kata "Amin" dengan penuh iman. Tradisi ini telah ada sejak abad-abad awal, dan Gereja mempertahankannya hingga sekarang.

Dalam ritus Gereja Katolik Roma, setidaknya ada dua cara yang umum dipakai untuk menerima Hosti kudus, yaitu langsung dimasukkan ke dalam mulut atau di terima dengan tangan. Tidak masalah apakah kita menyambut langsung dengan mulut atau dengan tangan, yang penting adalah kita harus memiliki 'intensi yang sungguh disadari' (intentio actualis) bahwa yang setiap partikel dari hosti itu adalah bagian dari Tubuh Kristus. Tubuh yang telah dikurbankan demi keselamatan kita. Oleh sebab itu, ketika menerimanya, hendaknya kita menunjukkan sikap hormat yang paling dalam dan berhati-hati agar hosti tersebut tidak sampai jatuh.

Pada abad keempat, St. Sirilus dari Yerusalem († 386) mengatakan: "ketika kita menerima Tubuh Kristus dengan tangan, gunakan tangan yang satu sebagai takhta dan tangan yang lain di atasnya untuk menerima hosti." Hal ini menunjukkan sikap hormat terhadap Kristus yang adalah Raja atas segala raja. Sikap itu juga ingin menunjukkan keinginan kita supaya Dia meraja atas seluruh kehidupan kita.

Setelah menerima komuni, kita hendaknya meluangkan waktu sejenak untuk masuk ke dalam keheningan, memusatkan diri sepenuhnya terhadap Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya demi menyelamatkan kita/dunia. Kita berdoa supaya: "melalui komuni yang kita sambut dapat menguatkan iman, membangkitkan semua yang baik dari dalam diri kita, membebaskan kita dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecenderungan terhadap dosa, dan menyempurnakan kita di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, serta bersahaja dalam segala hal, bersatu erat dengan Sang Kebaikan sejati, dan menempatkan kita dalam kebahagiaan yang abadi." (penggalan dari 'doa sesudah komuni' yang disusun oleh St. Thomas Aquinas † 1274)

Pada tahun 2015, Vatikan pernah mengeluarkan Buku Pedoman mengenai Indulgensi yang mengajarkan sebuah doa singkat untuk merenungkan pengorbanan Yesus, yang didoakan sesudah menerima komuni:

"Lihatlah kepadaku, ya Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut,

di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan kehendak yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu agar Engkau menanamkan di dalam hatiku, semangat yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih, pertobatan yang tulus dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya." dan seterusnya.

Sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengikat mengenai doa sebelum maupun sesudah komuni. Kita juga dapat menggunakan doa yang ada dalam buku Puji Syukur. Yang penting adalah, kita memahami dengan baik bahwa hosti yang akan kita sambut adalah benar-benar Tubuh Kristus Sang Penyelamat, dan kita berdoa supaya diri kita layak menjadi tempat persemayaman-Nya. Dan melalui Komuni Kudus, kita dipersatukan dengan Kristus dan semakin dikuatkan dalam iman, harapan dan kasih.

Lihat Juga:

Kolom Iman (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi