Makna Liturgi Ekaristi Bagian 3

 Maria Clarissa  |     25 Sep 2017, 03:18

Dari rangkaian Doa Syukur Agung (DSA), kita telah membahas bagian prefasi dan kudus. Sekarang kita sampai pada bagian epiklesis serta kata-kata institusi dan konsekrasi.

Makna Liturgi Ekaristi Bagian 3

Epiklesis

Menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no 79, epiklesis adalah doa saat Gereja secara khusus memohon kuasa Roh Kudus supaya persembahan yang disampaikan oleh umat dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, dan juga supaya kurban murni itu menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan menyambutnya dalam komuni. Imam juga meminta kepada Roh Kudus agar umat bersatu dalam Yesus Kristus.

Jadi, ada dua jenis epiklesis dalam Doa Syukur Agung. Yang pertama adalah ketika imam mengatakan: "...Kuduskanlah persembahan ini dengan daya Roh-Mu agar bagi kami menjadi Tubuh dan Darah Putra-Mu terkasih Tuhan kami, Yesus Kristus." (DSA II) Bagian ini disebut sebagai epiklesis konsekrasi. Doa ini sangat penting, karena saat inilah roti dan anggur berubah menjadi Tubuh Kristus. Persembahan kita hanya dapat bertransformasi dengan adanya kuasa Allah sendiri. Tanpa kuasa Roh Kudus, tidak akan ada Ekaristi. St. Yohanes dari Damaskus menyejajarkan peristiwa ini dengan peristiwa kelahiran Yesus, ketika Sang Sabda hadir menjadi manusia melalui Maria. Semua itu dapat terjadi hanya karena Roh Kudus turun atas dirinya.

Epiklesis yang kedua adalah ketika imam mengatakan: "...kami mohon agar kami yang menerima Tubuh dan Darah Kristus dihimpun menjadi satu umat oleh Roh Kudus." (DSA II) Yang ini disebut sebagai epiklesis komunio, karena yang dimohonkan adalah persatuan dan kesatuan dalam tubuh Gereja.

Kata-kata Institusi dan Konsekrasi

"Ketika akan diserahkan untuk menanggung sengsara dengan rela, Yesus mengambil roti, mengucap syukur kepada-Mu, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, seraya berkata:
TERIMALAH DAN MAKANLAH: INILAH TUBUHKU YANG DISERAHKAN BAGIMU.

Demikian pula, sesudah perjamuan, Yesus mengambil piala. Sekali lagi Ia mengucap syukur kepada-Mu, lalu memberikan piala itu kepada murid-murid-Nya, seraya berkata:
TERIMALAH DAN MINUMLAH: INILAH PIALA DARAHKU, DARAH PERJANJIAN BARU DAN KEKAL. YANG DITUMPAHKAN BAGIMU DAN BAGI SEMUA ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA. LAKUKANLAH INI UNTUK MENGENANGKAN DAKU."

Kalimat-kalimat di atas disebut sebagai kalimat institusi dan konsekrasi. Bagi umat Katolik, kalimat-kalimat tersebut tentu tidak terdengar asing. Bahkan mungkin banyak dari kita yang sudah hafal dengannya. Namun, apakah kita sudah benar-benar memahaminya?

Kalimat ini pertama kali diucapkan oleh Yesus ketika Ia mengadakan perjamuan terakhir. Pada waktu itu Yesus bersama dengan murid-muridnya mengadakan makan Paskah Yahudi. Paskah Yahudi adalah untuk memperingati hari terbebasnya bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir. Ketika itu Allah menurunkan tulah yang ke-sepuluh, saat semua anak sulung Mesir mati. Supaya bangsa Israel tidak terkena tulah itu, Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih domba Paskah dan darahnya disapukan pada tiang pintu rumah mereka masing-masing. Dengan demikian, Allah dapat melihat tanda itu dan tidak menulahi mereka. Jadi, konteks dari perjamuan Paskah yang diadakan oleh Yesus dan murid-murid-Nya adalah untuk memperingati peristiwa itu.

Namun bila kita cermati ucapan Yesus, terdengar dengan jelas bahwa yang menjadi domba Paskah pada perjamuan terakhir itu adalah Diri-Nya sendiri. Ketika Ia mengatakan "Inilah piala Darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal...", hal ini mengingatkan kita akan kisah Musa ketika ia melakukan upacara pengikatan perjanjian antara Allah dan bangsa Israel. Di tengah upacara itu, Musa mengambil darah lembu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: "inilah darah perjanjian Tuhan dengan kamu,..." (Kel 24:8).

Perhatikan kembali ketika Yesus mengatakan: "Inilah piala Darah-Ku..." Ya! Darah Yesus! Darah yang Ia curahkan, menjadi pengikat perjanjian antara kita dengan Tuhan, dan perjanjian itu sudah diperbarui dan bersifat kekal. Bila pada zaman Musa darah lembu yang dikurbankan menunjuk pada kebebasan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir, maka darah yang Yesus curahkan adalah demi untuk menebus kita dari belenggu dosa. Siapakah kita hingga bisa mendapatkan rahmat yang sedemikian luar biasa?! Maka tidak mengherankan bila bagian ini disebut sebagai Doa Syukur Agung.

Satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah amanat Yesus kepada murid-muridnya: "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Ya! Yesus ingin agar murid-murid-Nya terus merayakan karya penyelamatan itu. Kita tahu bahwa orang Yahudi hingga sekarang terus memperingati dan menghadirkan peristiwa keluaran dengan perayaan Paskah Yahudi. Ekaristi adalah kenangan akan Paskah Kristus. Ketika kita mendengarkan imam mengucapkan kalimat institusi dan konsekrasi, itulah saat ketika tindakan dan kata-kata Yesus pada perjamuan terakhir dihadirkan secara nyata kepada kita. Mengulang apa yang telah Yesus katakan, bahwa darah yang Ia curahkan adalah darah Perjanjian Baru dan kekal, maka persembahan diri Yesus adalah sekali untuk selama-lamanya. Dengan demikian, kurban Kristus yang hadir di atas altar adalah kurban yang sama dengan Yesus yang tersalib ± 2.000 tahun yang lalu, dan berlaku bagi semua generasi Kristen sepanjang masa.

-bersambung-

Lihat Juga:

Kolom Iman (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 18 Oktober 2017, Pesta Santo Lukas, Penginjil

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 4:10-17b) Saudaraku terkasih, Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi