Menanggung Penderitaan

 Antonius Joni  |     4 Sep 2017, 01:54

Secara manusiawi, setiap orang di dunia ini pasti mendambakan kesenangan dan kenikmatan hidup seperti kesuksesan, kekayaan, kekuasaan, dan kebahagiaan. Tidak ada orang yang mau menderita dan sengsara. Dan di masa sekarang pun banyak orang yang masih mengaitkan kesuksesan sebagai bukti hidupnya diberkati oleh Tuhan, seperti halnya bangsa Israel yang menganggap penderitaan, hidup melarat, dan sakit penyakit itu diakibatkan karena dosa.

Dalam bacaan hari ini, pemikiran untuk menanggung penderitaan juga dipahami oleh murid Yesus dengan pola pikir duniawi yaitu berdasarkan kehendak dan keinginan para murid sendiri. Tidak mungkin Yesus yang adalah Allah akan menderita dan dibunuh. Maka murid-murid tidak bisa menerima kenyataan apabila Yesus harus menderita dan mati, karena mereka mengharapkan Mesias yang datang adalah Mesias yang menang dan berkuasa. Maka Petrus yang tidak bisa menerima berita tentang penderitaan yang akan dialami oleh Gurunya pun menegur Dia, katanya, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-sekali takkan menimpa Engkau!" Petrus tidak memahami cara Allah berkarya melalui Yesus Kristus bukanlah dengan cara dan pikiran manusia.

Lalu Yesus langsung menghardik Petrus dengan sangat keras, "Enyahlah Iblis!" karena Petrus tidak melihat segala sesuatu dari pandangan Allah, tetapi semata-mata dari segi pandang manusia yang ingin mencari kesenangan, kenyamanan dan menolak penderitaan. Menderita tidak berarti harus kehilangan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati terletak dalam pengorbanan demi mereka yang dikasihi.

Selanjutnya Yesus menegaskan siapa yang mau mengikuti-Nya harus menyangkal diri terlebih dulu, lalu memikul salib, dan setelah itu baru bisa mengikuti Dia. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan bagi umat manusia. Dan dengan menyangkal diri, orang harus bersedia menyalipkan hawa nafsu dan keinginan duniawi sehingga dapat melayani dan memuliakan Tuhan. Pemahaman inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyampaikan misi kedatangan-Nya ke dunia ini. Ia sendiri mau menderita bahkan menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia. Seluruh hidup-Nya adalah suatu penyerahan penuh untuk melakukan kehendak Bapa. Jika demikian, maukah saya menyalibkan manusia lama yang penuh keegoisan dan materialisme, serta berubah mejadi pribadi yang bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan pelayanan untuk kemuliaan-Nya?

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi