Allah dalam Kesederhanaan

 Rm. A. Yudhi Wiyadi O.Carm  |     7 Jan 2017, 15:52

Alkisah ada seorang pengusaha besar yang telah menghasilkan miliaran rupiah. Mobilnya mewah, rumahnya megah dan memiliki beberapa perusahaan. Namun ia tak merasa nyaman dengan yang telah ia dapatkan itu. Kondisi seperti itu membuat orang segan padanya. Tak ada yang berani berbincang padanya di kantornya.

Suatu ketika ia berpakaian sederhana datang ke kantor disapa oleh seorang office boy. Ia lalu mengobrol dengan office boy tersebut, dan merasa nyaman sekali berbincang dengannya. Ia merasa diterima oleh sesamanya secara utuh. Rupanya si office boy itu sama sekali tidak mengetahui kalau orang yang berbincang dengannya itu adalah pemilik kantor tempat ia bekerja. Sejak saat itu pengusaha besar itupun sadar akan belenggu harta benda, wibawa kesuksesan dan kekuasaan. Belenggu itu ternyata terpatahkan dengan kesederhaan.

Hidup orang-orang yang besar dan harum namanya seringkali identik dengan kesederhanaan, bukan kemewahaan. Kita dengan mudah menyebut betapa sederhananya hidup Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Jenderal Polisi Hoegeng, Gus Dur dll. Kesederhaan mereka justru memancarkan kehidupan yang tidak ternilai. Mereka tidak silau akan harta benda. Mereka bukan berarti tidak membutuhkan harta benda dan uang, tetapi bila orang salah memaknainya bisa menjadi sumber kegelapan dan bencana.

Yesus sendiri sebagai Allah hadir ke dunia menampakkan diri dalam kesederhaan. Ia lahir dari seorang wanita sederhana tetapi sangat beriman: Bunda Maria. Ia mempunyai seorang ayah pengasuh yang tukang kayu: Bapak Yosep. Lahir-Nya pun di kandang hewan, diletakkan di palungan dengan bungkus kain lampin.

Kesederhanaan itulah yang menjadi cahaya bagi para sarjana dari Timur. Pertama-tama mereka dibimbing oleh cahaya bintang. Tetapi cahaya bintang yang sesungguhnya adalah sang bayi di palungan itu. Mungkin dari kesadaran ini mereka bersukacita dan rela mempersembahkan apa yang dimiliki: emas, kemenyan dan mur. Yang terpenting adalah Yesus Kristus yang baru lahir, yang telah lahir di hatinya masing-masing.

Pada misa tutup tahun dan pembuka tahun baru 2017 di hari Raya Maria Bunda Allah dan Hari Perdamaian sedunia, saya membacakan banyak intensi syukur atas berkat Tuhan selama setahun yang telah lalu. Tetapi sejurus itu pula masih banyak intensi umat untuk kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha dan pekerjaan. Harapan di batin saya, semoga kesuksesan dan keberhasilan itu tidak hanya keberhasilan dalam mengumpulkan uang atau harta benda saja, tapi juga dalam mengumpulkan kebaikan dalam kesederhaan. Bila itu tidak dijalankan, yang terjadi adalah orang terbelenggu seperti cerita di atas.

Kesederhanaan membuat Anda terus berbahagia, berapapun jumlah kekayaan Anda. Karena memang kesederhaan itu adalah ajaran Tuhan Yesus sendiri.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 30 April 2017, Hari Minggu Paskah III

Bacaan dari Kisah Para Rasul (2:14.22-33) Pada hari Pentakosta, bangkitlah Petrus berdiri bersama kesebelas rasul. Dengan suara nyaring ia berkata...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi