Pergilah... Kita Diutus...

 Leo Hendrata  |     10 Dec 2017, 09:03

Dalam menghadapi masalah-masalah yang rumit, sensitif dan krusial yang membutuhkan penyelesaian damai, seorang pemimpin baik kepala negara ataupun komunitas biasanya mengirimkan seorang utusan, pembuka jalan, mempersiapkan segala seuatunya agar pemimpin yang akan datang diterima sepantasnya, termasuk memuluskan perundingan bagi pemimpinnya yang akan mengarah pada penyelesaian masalah tersebut. Seorang yang diutus akan diberi mandat, wewenang dan tanggung jawab untuk menyampaikan semua yang diinginkan oleh pemimpin yang mengutusnya. Sudah sewajarnya orang yang diutus ini mempunyai kualitas kepribadian yang memadai sesuai harapan sang pemimpin. Dalam menghadapi provokasi Korea Utara yang secara terbuka mengembangkan rudal-rudal nuklir dan senjata kimia yang mengancam kedamaian negara-negara Pasifik di sekitarnya, Donald Trump, Presiden Amerika, mengirim utusan khusus, Joseph Y. Yun, seorang diplomat senior kelahiran Seoul, ke Korea Selatan untuk membuka jalan perundingan antara Amerika, negara-negara Pasifik lainnya vs Korea Utara. Joseph Yun mempunyai profil yang tepat sebagai utusan, mantan Duta Besar Amerika untuk Malaysia, dan berpengalaman dalam masalah-masalah negara-negara Pasifik khususnya seperti Korea, Malaysia, Jepang, dan Indonesia.

Pergilah... Kita Diutus...

Dalam Injil hari ini, Markus 1:1-8, memperkenalkan Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang bertugas memberitakan kedatangan Mesias seperti yang dikutip dari Kitab Yesaya: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu (Ayat 2). Apa yang dilakukannya? Ada dua hal utama yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Tampil di padang gurun dan menyerukan pertobatan dengan pembaptisan (Ayat 4) dan memberitakan kedatangan Mesias yang dikatakan jauh lebih besar dan berkuasa (Ayat 7) yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Ayat 8). Yohanes Pembaptis mempunyai spiritualitas hidup yang sangat cocok sebagai utusan yang mempersiapkan kedatangan Mesias. Selain mempunyai iman yang kuat dalam menantikan kedatangan Yesus baik dalam khotbah-khotbahnya yang selalu menyerukan pertobatan melalui baptis dan memilih hidup miskin dengan memakai jubah bulu onta dan makan belalang dan madu hutan di padang gurun (Ayat 6). Dia juga secara terbuka dan rendah hati memberitakan bahwa Yesus yang akan datang jauh lebih berkuasa.

Pada ritual penutupan Perayaan Ekaristi setelah berkat, imam pemimpin perayaan menyerukan ajakan 'Pergilah, kita diutus'. Sebagai umat Allah kita semua diajak menjadi utusan untuk mempersiapkan kedatangan kembali Yesus ke dalam batin setiap orang, khususnya umat beriman di sekitar kita. Seperti Yohanes Pembaptis, umat diajak menguatkan iman dan menyiapkan batin untuk menyambut kedatangan Yesus.

Pantaskah saya menjadi utusan yang mempersiapkan kedatangan-Nya? Untuk menjadi pantas sebagai utusan-Nya kita diajak untuk mempunyai spiritualitas kristiani yang benar menurut kehendak-Nya dan sabda-Nya. Banyak orang di antara kita merasa tidak layak sebagai utusan dan menjadi tidak acuh. Perilaku seperti ini membuat hati kita tumpul akan kerinduan pada Allah. Padahal, sekecil apapun pelayanan atau pemberian yang kita persembahkan dengan rendah hati dan sukacita, Yesus akan membuatnya menjadi besar dan bermanfaat bagi banyak orang.

Marilah kita mulai sekarang siap dan bersedia untuk diutus mewartakan dan mempersiapkan diri kita masing-masing dan orang-orang sekitar akan kedatangan Yesus kembali dengan iman yang penuh.

(Leo Hendrata)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 15 Desember 2018

Hari Biasa Pekan II Adven Oleh karena cinta dan kuasa-Nya, Ia yang tunggal mempersatukan banyak orang pada Diri-Nya. (Beato Ishak dari Stella)...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi