Lahan yang Subur bagi Firman Allah

 Mia Andriani  |     16 Jul 2017, 02:03

Pada injil hari ini, Yesus mengajarkan tentang perumpamaan Allah sebagai penabur benih. Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Matius 13: 5-8). Pertumbuhan masing-masing benih ini mengalami perbedaan. Benih dalam perumpamaan ini adalah firman Allah yang disampaikan kepada kita melalui Kitab Suci dan utusan-utusan-Nya. Sedangkan lahan tempat jatuhnya benih melambangkan hati setiap manusia dalam menanggapi firman yang Allah sampaikan tersebut.

Benih yang jatuh ke tempat yang berbeda itu menggambarkan tanggapan setiap manusia terhadap firman Allah yang datang padanya. Pertama, orang itu mungkin hanya sekadar mendengarkan sehingga firman itu tidak meresap. Kedua, dia mendengarkan, meresapkan dalam hati namun karena hatinya belum terbuka maka firman itu lenyap. Ketiga, dia mendengarkan, meresapkan dalam hati, dan terbuka tetapi karena dikuasai kekhawatiran dunia dan terperangkap oleh tipu daya itu sehingga tidak berbuah. Terakhir, dia mendengarkan, meresapkan dalam hati, terbuka akan firman itu, bertumbuh dan berbuah banyak.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengatakan Firman itu seperti hujan dan salju turun dari langit ke bumi dan tidak akan kembali dengan sia-sia. Allah sendiri menghendaki agar firman-Nya yang kita terima mengalami hal yang sama. Lalu bagaimana cara kita agar memiliki lahan yang subur? Tentunya kita harus rendah hati, memohon rahmat dan berkat Tuhan dalam menjalani hidup. Kita juga tidak boleh sombong akan kekuatan yang kita miliki. Kita harus melibatkan Allah dalam setiap jalan yang akan dilalui. Allah adalah Kasih. Dia tidak pernah pilih-pilih dalam memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera. Kita semua adalah sama di hadapan-Nya. Sekalipun benih firman itu pernah jatuh ke dalam hati yang gelap dan keras, kita percaya Allah akan memberikan kesempatan benih itu untuk tumbuh. Allah sendiri berharap bahwa benih itu jatuh ke dalam lahan yang subur sehingga menghasilkan banyak buah. Buah-buah kebaikan itulah yang dapat kita bagikan kepada setiap orang yang kita jumpai sehingga fiman Allah bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Semoga hati kita menjadi lahan yang subur untuk firman Allah, terus bertumbuh dan menghasilkan banyak buah. Amin

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 22 Agustus 2017, Peringatan Wajib SP. Maria, Ratu

Bacaan dari Kitab Hakim-Hakim (6:11- 24a) Pada zaman para hakim datanglah Malaikat Tuhan dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, milik Yoas,...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi