Memaknai Murid Zaman 'now'

 J.A. Gianto  |     18 Nov 2017, 19:15

Dalam bulan Kitab Suci September, Keuskupan Agung Jakarta membawa pesan Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern. Topik-topiknya menarik, selaras dengan kebutuhan umat zaman 'now'. Globalisasi Teknologi melanda semua manusia dan seringkali kurang berpihak kepada orang lemah, kecil, tersingkir. Padahal Teknologi bersifat NETRAL. Tergantung pemakai teknologi. Di sini peran Gereja muncul bagaimana membawa Kabar Gembira untuk melawan efek samping negatif yang mungkin bisa menjerumuskan umat misal ujaran kebencian, berita palsu pemecah belah, sampai film porno belum layak tonton oleh anak-anak.

Memaknai Murid Zaman 'now'

Lalu kita umat Katolik ditengah kerumunan mayoritas bisa apa? Cuek bebek? Tentunya tidak! KAJ dengan Arah Dasarnya mengajak umat berani berbaur dalam masyarakat dengan berbekal nilai-nilai Injili dan Pancasila untuk menjadi garam, menjadi Semar untuk menawarkan kasih dengan cara-cara lucu/menarik tanpa perlu menggurui. Kenapa Semar sebagai metafora? Menurut Romo Sindhunata, dalam tulisan Hilangnya Semar, Kompas 6 November 2017, mengatakan, "Semar asli sebagai simbol wong cilik hilang ditelan globalisasi. Sekarang justru muncul Semar-Semar palsu yang lagi mroyek bergelimang uang." Wacana kebebasan dipersempit menjadi mana hak-ku dan bagaimana memperoleh hak-ku; melupakan sebagai manusia yang berkewajiban.

Yesus hari ini (Matius 25:14-30) mengajar kepada murid-muridnya dengan perumpamaan tentang talenta. Sekarang ini talenta lebih dikenal dengan bakat, sehingga perumpamaan ini cenderung ditafsirkan sebagai nasihat tidak memendam bakat yang sudah diberikan Tuhan. Hal ini benar juga. Tafsir lain adalah mengaitkan khotbah Yesus tentang akhir zaman di dalam Matius bab 24-25. Yesus akan pergi untuk waktu lama, mati di kayu salib dan naik ke surga duduk di sebelah kanan Bapa. Kapan akan kembali lagi untuk mengadili semua manusia, tidak seorang pun tahu. Saat itu Yesus akan meminta KEWAJIBAN kepada para hambanya yang sudah ditinggali banyak 'uang' dalam bentuk kesaksian, nasihat, ajaran-ajaran. Hamba yang mendapat lima talenta dan dua talenta melakukan tugasnya dengan baik sehingga mendapat pahala di surga. Sedangkan hamba yang mendapat titipan satu talenta hanya menyimpan saja semua anugerah yang sudah diterima. Hamba terakhir ini seperti ahli Taurat dan orang Farisi tidak menghasilkan buah karena sikap kekakuan mereka terhadap hukum Taurat.

Kesepian

Memaknai pesan Yesus tersebut dalam kerangka murid zaman 'now' menjadi relevan karena Yesus juga menitipkan kekayaan berlimpah kepada kita semua untuk dikembangkan sehingga berbuah, bukan untuk disimpan sendiri. Nilai-nilai yang diajarkan Yesus perlu diwartakan dan diwujudkan dalam kehidupan konkret sesuai dengan kapasitas masing-masing dengan sepenuh CINTA. Paradoks kemajuan teknologi membuat manusia bisa semakin dekat karena kemudahan komunikasi namun juga bisa membuat semakin tenggelam dalam kesendiriannya karena terpaku dengan gawai. Manusia merasa segala sesuatu bisa terpenuhi tanpa harus bertemu tatap muka dengan orang lain. Cukup dari rumah lewat kecanggihan gawainya bisa kirim uang, beli barang, beli makanan, pesan taksi bahkan memanggil asisten Rumah Tangga untuk membereskan rumah. Tanpa disadari, kesendirian ini bisa menimbulkan stres semakin besar dan membentuk tembok pemisah dengan orang-orang di sekelilingnya. Orang lain tidak bisa membantu karena tidak bisa mendekat. Akibatnya orang baru tahu setelah terjadi ledakan-ledakan emosional, kekerasan, narkoba, perceraian, dan lain-lain. Di mana keberadaan Yesus?

Yesus memang sudah pergi, tetapi pesan-pesan, ajaran, dan kabar baik dari-Nya tidak boleh berhenti diwartakan. Para murid mesti melanjutkan tugas pewartaan itu dengan segala anugerah yang sudah diterima. Pewartaan perlu dilakukan dengan KESUNGGUHAN dan GEMBIRA. Tentu saja pewarta sendiri dituntut hidup sesuai ajaran-ajaran Yesus agar bisa menjadi TELADAN 'Kids zaman Now'. Menjadi Semar zaman 'now', punakawan rendah hati. Semar hidup membaur tanpa jarak dalam masyarakat milenial dan memberi contoh nyata bahwa gaya hidup modern bisa duduk berdampingan bersama nilai-nilai luhur Gereja. KETELADANAN HIDUPNYA akan menghasilkan buah seperti hamba yang mendapat titipan 5 dan 2 talenta sehingga membuat diri layak menyambut kembalinya sang Guru di akhir zaman.

Lalu? Apa saya mau dan siap bergerak terus menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pewartaan nilai-nilai luhur sang Guru? Semoga.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi