Seratus Persen Katolik Seratus Persen Warga Negara

 Yeremias Jena  |     22 Oct 2017, 01:39

Meskipun hari Minggu biasa ke-29, tanggal 22 Oktober 2017 adalah hari Minggu Misi Sedunia, bacaan-bacaan suci yang kita renungkan jauh dari kesan perutusan, panggilan menjadi pewarta, dan semacamnya. Justru sejak bacaan pertama (Yes 45:1.4-6) ada kesan penaklukan bangsa lain oleh raja yang telah diurapi Allah (ayat 1). Meskipun demikian, fokus refleksi kali ini justru mampu menegaskan hakikat pewartaan itu sendiri.

Seratus Persen Katolik Seratus Persen Warga Negara

Perhatikan perikop Injil Matius 22:15-21. Yesus 'dijebak' oleh kaum Farisi dan orang-orang Herodian soal kewajiban membayar pajak. Jawaban 'ya' atau 'tidak' akan menempatkan Yesus pada posisi yang berbahaya. Menolak pembayaran pajak menyebabkan pembangkangan terhadap kekuasaan Romawi. Tidak membayar pajak juga berarti orang Yahudi diminta menyimpan uang, padahal itu praktik yang dilarang. Adanya gambar dan tulisan Kaisar di uang tersebut dianggap sebagai penyembahan berhala (kata 'gambar' yang digunakan Matius dimaksud sebagai eikon atau icon, dan itu artinya menyembah berhala). Bagaimana jika Yesus setuju pembayaran pajak kepada Kaisar? Di mata penguasa, Yesus mendapat pamor yang baik, tetapi di mata orang Yahudi, Yesus dianggap pro penjajah.

Dalam situasi dilematis inilah Yesus mengajarkan pentingnya menghormati kekuasaan politik dan menegakkan kekuasaan Allah, dan ini menjadi aspek yang relevan bagi hari Minggu Misi Sedunia. Yesus tidak mempertentangkan kekuasaan duniawi dan Kerajaan Allah. Yang menjadi milik kekuasaan harus diberikan kepada kekuasaan, dan yang menjadi milik Allah, harus diberikan kepada Allah. Kita akan menyembah berhala karena terikat terlalu kuat pada kekuasaan dunia. Sebaliknya, menahan apa yang menjadi milik Allah sama saja dengan menaklukkan diri pada kekuasaan dan menjauhkan diri dari Allah.

Sebagai murid Kristus, kita akan selalu mengalami berbagai upaya untuk menghancurkan dan membinasakan kita. Dalam konteks itulah jawaban Yesus menemukan maknanya. Kesetiaan kita kepada negara tidak boleh luntur. Kita wajib membangun negara, menunaikan seluruh tugas dan tanggung jawab kita. Sebaliknya, kita diminta untuk tidak melekatkan diri pada kekuasaan dunia.

Keseimbangan inilah yang dimaksudkan oleh Monsignor Soegijapranata ketika menegaskan tentang pentingnya menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen warga negara. Ya, berikan kepada Kaisar apa yang wajib kita berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kita berikan kepada Allah.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 22 November 2017, Peringatan Wajib Sta. Sesilia, Perawan dan Martir

Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (7:1.20-31) Pada waktu itu ada tujuh orang bersaudara beserta ibunya ditangkap. Dengan siksaan cambuk dan rotan mereka...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi