Pastoral Apartemen Umat Apartemen Juga Butuh Gembala

 bnj  |     16 Apr 2017, 23:30

Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, apartemen merupakan alternatif, sekaligus budaya baru. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia lebih nyaman dengan Landed House atau rumah membumi. Apartemen adalah budaya baru bagi Jakarta atau Indonesia, budaya tinggal di rumah adalah merupakan budaya yang selama ini melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Pastoral Apartemen Umat Apartemen Juga Butuh Gembala

Tuntutan pekerjaan dan waktu memaksa masyarakat menghemat tenaga dengan tinggal di apartemen, sehingga kadang menyebabnya sebagian warga apartemen menjadi sangat individualis, dan kurang ramah. Budaya baru hidup di apartemen, kurangnya komunikasi dan sosialisasi memaksa umat Katolik yang tinggal di apartemen Taman Anggrek membentuk Komunitas Katolik unit Taman Anggrek sekira tahun 2005.

"Saat itu kalau tidak salah motor komunitas Katolik Taman Anggrek Pak Mulyadi, yang kemudian sekaligus menjadi Ketua Lingkungan Fransiskus Asisi, yang pertama di bawah Wilayah 11. Saya sendiri baru masuk apartemen Taman Anggrek tahun 2006," jelas Dokter Antonius V Soenardi Krisnandoko, anggota Dewan Paroki Harian (DPH) Gereja Maria Bunda Karmel (MBK).

Saat itu kegiatan pertemuan dan doa dilakukan dari unit ke unit, bergiliran. "Awalnya ada sekira 15-20 umat yang secara rutin bersedia aktif dalam pertemuan dan doa. Sesekali komunitas Katolik Taman Anggrek ini menggundang Romo untuk misa," terang Rudy Soepranoto, Ketua Dewan Stasi Taman Anggrek.

Proses perkembangan dan kegitan umat di komunitas Katolik ternyata sangat menggembirakan, dari pertemuan unit ke unit akhirnya terus berkembang menjadi pertemuan rutin dan menyelenggarakan misa rutin. Perkembangan jumlah umat yang aktif dalam kegiatan menggereja pun naik pesat.

"Tahun 2006 saat saya masuk apartemen Taman Anggrek, Komunitas katolik telah berhasil menyelenggarakan misa rutin Jumat Pertama dan misa minggu satu bulan sekali. Perkembangan jumlah umat juga naik pesat, dari sekira 15-20 orang langsung meningkat hingga 50-100 umat yang aktif," tutur Soenardi, Purnawirawan anggota TNI ini.

Perkembangan jumlah umat di komunitas Katolik Taman Anggrek yang berkembang pesat ini akhirnya menuntut kemandirian dalam urusan pelayanan gerejani. Akhirnya pada 2006, komunitas katolik Taman Anggrek ditetapkan sebagai lingkungan St Fransiskus Asisi, di bawah Wilayah 11. Pak Mulyadi diangkat sebagai ketua Lingkungan yang pertama.

"Ketua Lingkungan kedua pak Swandito, sementara ketua Lingkungan ketiga pak Junaedi. Tahun 2009, persisnya 2 Agustus, saya diangkat sebagai Ketua Dewan Stasi Taman Anggrek, yang pertama, dengan surat pengangkatan no. 120/DP-PLENO/MBK/VIII-09, dan ditandatangani Ketua, Pastor Aegidius Eko Aldilanto O.Carm dan Sekretaris I, Leonardus Agus Sudjadi Tjokrorahardjo," ungkap Soenardi.

Menuju Stasi

Menurut Rudy Soepranoto, Ketua Dewan Stasi Taman Anggrek, perkembangan umat dan kegiatan menggereja di apartemen Taman Anggrek terus berkembang pesat sejak tahun 2008. Dari awalnya hanya pertemuan komunitas katolik dari unit ke unit, lalu mampu mengundang Romo untuk sesekali mengadakan misa, akhirnya berkembang lagi dan mampu secara rutin menyelenggarakan misa Jumat pertama.

"Rutin menyelenggarakan misa Jumat Pertama merupakan sebuah prestasi kegiatan menggereja di apartemen Taman Anggrek. Lalu kegiatan rutin tersebut kita kembangkan pada misa mingguan, dengan melibatkan lebih banyak umat untuk melayani. Inilah pelayanan kami. Menggereja di apartemen hingga, kami ditetapkan menjadi Lingkungan mandiri," ungkap Rudy.

Pastoral Apartemen Umat Apartemen Juga Butuh Gembala

"Dengan menyelenggarakan misa mingguan rutin, kami belajar liturgi plus-plus. Isteri ikut terlibat, anak kami pun terlibat menjadi misdinar, ini sebuah berkat. Belajar menjadi pengurus gereja kecil," tambah Rudy yang masuk apartemen Taman Anggrek pada 2008 ini.

Dari sekitar 150 umat yang rutin hadir, pengurus kemudian berinisiatif menyewa ruang serba guna, karena tidak mungkin melakukan di unit. Saat itu, sudah mulai diadakan misa rutin seminggu satu kali pukul 10.00 WIB dan misa rutin Jumat Pertama. Pertambahan umat pun tidak bisa ditahan, sehingga pihak pengurus harus mencari ruang yang lebih besar agar mampu menampung sekira 600 umat.

"Kecenderungannya terus bertambah. Kami harus memikirkan mencari ruangan yang paling besar, terutama untuk perayaan misa Natal dan Paskah. Lingkungan St Fransiskus Asisi dikembangkan menjadi Stasi Fransiskus Asisi, Taman Anggrek, saat Kepala Paroki dijabat Romo Eko. Soal legalitas? Seperti DPH saat itu sudah mengurus hingga ke Keuskupan Agung Jakarta," kata Rudy.

Saat persoalan legalitas penetapan Stasi Fransiskus Asisi, Taman Anggrek, Soenardi menjelaskan memang saat itu pengurus sudah berhubungan dengan KAJ. Namun, seingat Soenardi, saat itu (2009-2010) di KAJ juga sedang ada transisi Kardinal Julius Darmaatmadja memasuki masa pensiun dan digantikan Mgr Ignatius Suharyo.

"Lha.. kalau tidak salah, di waktu yang bersamaan (2009-2010) di Gereja MBK juga melakukan transisi kepemimpinan, dari Romo Eko Aldilanto O.Carm ke Romo Heribertus Supryadi O.Carm, inilah mungkin yang membuat urusan prosedur administrasi terhambat," kata Soenardi.

Namun, meski terjadi transisi baik di Keuskupan Agung Jakarta maupun di Gereja MBK, Romo Heribertus Supriyadi yang menggantikan Romo Eko Aldilanto tetap meneruskan pelayanan dan kehidupan menggereja yang telah dirintis oleh para pengurus Lingkungan/Stasi Fransiskus Asisi Taman Anggrek.

Bahkan kepada majalah Hidup, Romo Heri mengungkapkan, umat Katolik yang tinggal di apartemen pun perlu gembala agar kehidupan menggereja mereka makin berkembang.

"Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) perlu memikirkan pedoman penataan dan pengelolaan Gereja apartemen. Dengan adanya stasi, umat terdorong untuk memikirkan Gereja. Tidak hanya sekadar pergi ikut misa saja. Mereka akan mulai memikirkan pengembangan Gereja setempat, memikirkan pendataan umat, mengatur tugas-tugas ibadat dan Misa," tutur Pastor Heribertus Supriyadi ketika disinggung tentang alasan mendirikan stasi Fransiskus Asisi, Taman Anggrek kepada majalah Hidup.

Masih menurut majalah Hidup, saat disinggung soal ketersediaan tempat kegiatan, Romo Heribertus Supriyadi mengatakan, hal ini bisa menjadi hambatan tersendiri. "Sejauh kita punya hubungan baik dan sanggup membayar sewa ruangan dalam apartemen, tentu tempat tidak akan jadi masalah. Namun, bagaimana dengan tahun-tahun mendatang," tukasnya.

Ia berpendapat, akses yang dapat memudahkan ketersediaan tempat hendaknya terus-menerus dipikirkan. Selain itu, KAJ perlu memikirkan pedoman Gereja apartemen. Hal ini diperlukan agar model penggembalaan seperti ini makin tertata, baik dari segi pengelolaannya dan administrasinya.

Paroki Tomang, Gereja MBK juga mengembangkan pastoral apartemen. Pelayanan ini meliputi apartemen Taman Anggrek, Mediterania, dan Central Park. Bahkan apartemen Taman Anggrek telah menjadi satu-satunya stasi di paroki ini. Stasi apartemen ini mengambil nama pelindung St Fransiskus Xaverius.

Disinggung tentang pemekaran paroki, kepada majalah Hidup Pastor Heribertus mengatakan, "Daripada memikirkan membuat paroki baru, lebih baik membuat peluang peluang pastoral yang baru. Misal pastoral apartemen dan perkantoran. Atau menambah jumlah perayaan Ekaristi di tempat-tempat tertentu."

Saat disinggung pernyataan Romo Heribertus saat diwawancari majalah Hidup, Soenardi, yang saat itu juga ikut diwawancarai majalah Hidup mengatakan hal senada. Keuskupan Agung Jakarta harus mulai memikirkan hal ini (pastoral apartemen) - stasi Fransiskus Asisi, Taman Anggrek. "Saat ini secara rutin stasi Taman Anggrek sudah menyelenggarakan dua kali misa mingguan, misa I pukul 09.00 WIB dan misa II pukul 11.00 WIB plus misa Jumat pertama," kata Soenardi.

Bahkan, sebelum pindah ke paroki Kaimana, Romo Andy Priambada juga pernah berbincang dengan Warta Minggu soal konsep pelayanan pastoral apartemen. "Ini baru bagi saya. Konsep pastoral apartemen ya baru Gereja MBK yang memiliki, jadi memang harus dirumuskan. Mungkin ke depan, KAJ harus merumuskan sistem Pastoral Apartemen ini," kata Romo Andy.

Sudah saatnya Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memikirkan masa depan pastoral apartemen ini, mengingat di Jakarta makin banyak apartemen. Sebelum besar seperti saat ini, Soenardi hanya memiliki cita-cita mengumpulkan umat yang tinggal di apartemen, supaya tidak pergi ke mana-mana saat ke gereja. "Sebelum ada misa di apartemen, mereka misa di gereja-gereja yang tersebar di seluruh Jakarta, sehingga pendataan umat juga akan susah," kata Soenardi.

Sementara itu, kecenderungan umat stasi Fransiskus Asisi, Taman Anggrek terus bertamah. Apalagi, saat perayaan Natal dan Paskah. "Kami saat ini telah menggunakan ruang Community Centre untuk misa Natal dan Paskah, dengan kapasitas 2.500 orang. Saat ini dua kali misa, rata-rata 600 umat. Artinya, total umat di sini sekira 1.200 orang. Namun, misa Natal dan Paskah, umat bisa mencapai 2.200 hingga 2.500 orang," kata Rudy.

Lihat Juga:

Seputar MBK (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 22 Agustus 2017, Peringatan Wajib SP. Maria, Ratu

Bacaan dari Kitab Hakim-Hakim (6:11- 24a) Pada zaman para hakim datanglah Malaikat Tuhan dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, milik Yoas,...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi