Mengelola Risiko Media Sosial

 Antonius Joni MBR 4  |     4 Feb 2017, 15:07

Data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada November 2016 menampilkan pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta. Yang menarik dari angka tersebut 129,2 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial. Ini berarti 97% dari pengguna internet mengakses konten media sosial. Pertumbuhan pengguna media sosial turut mempengaruhi volume data dan penyebaran informasi yang terus meningkat secara signifikan. Sebuah berita, gambar, ataupun video dapat tersebar ke berbagai penjuru dunia dalam hitungan detik.

Mengelola Risiko Media Sosial

Di tengah derasnya informasi digital, banyak orang tidak memahami dampak atau risiko yang ditimbulkan oleh media sosial. Setiap orang ingin menjadi yang pertama dan tercepat untuk menyampaikan suatu berita kepada koleganya, kadang tanpa menverifikasi kebenaran isi berita tersebut. Artikel dengan judul Medsos Dipadati Berita Abal-abal yang dimuat pada harian Kompas edisi 25 November 2016 bahkan memaparkan bahwa sebagian besar berita yang beredar di media sosial adalah artikel dengan judul yang tidak jelas, bombastis dan 'murahan' serta berisi informasi palsu. Padahal paparan negatif di media sosial atau pun berita yang tidak kredibel dapat mengakibatkan kehilangan kepercayaan. Selain itu, penyebar informasi palsu dapat dikategorikan melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menghadapi hal semacam ini, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam berinteraksi di media sosial: (1) Pahami regulasi maupun etika saat berkomunikasi di dunia maya. Saat sedang online di media sosial, ikuti aturan dan tata krama seperti di kehidupan nyata. (2) Selalu berpikir dua kali sebelum mempublikasikan sesuatu. Periksa kembali kebenaran informasi yang akan dibagikan. (3) Lebih berhati-hati untuk memposting hal-hal yang bersifat pribadi. Jangan menggunakan logo atau atribut organisasi untuk postingan yang bersifat pribadi.

Paus Fransiskus pun memperingatkan bahwa konektivitas digital juga berpeluang mengisolasi siapapun dari orang-orang di sekitarnya, termasuk bersikeras mengklaim kebenaran. Internet di satu sisi mampu berperan sebagai media sosial kita dengan orang lain, namun di sisi lain bertebaran berita-berita bohong (hoax) yang akhirnya menjadi "sampah" di dunia maya. Maka, kita harus cerdas menyikapi informasi mana yang bermutu dan tidak, mana yang layak dikonsumsi serta disebarkan. Dalam Kitab Ulangan 5:20, kita diingatkan kembali untuk tidak mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 3 Maret 2024

Hari Minggu Prapaskah III Wanita Samaria itu datang untuk percaya akan Yesus, yang menempatkan dia di hadapan kita sebagai lambang --- St. Agustinus...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi