Smartphone Kita: Pda atau PDC?

 Rob Purnomo  |     7 Jan 2017, 15:06

Setelah sekitar 25 tahun telepon genggam masuk dalam perbendaharaan masyarakat, perkembangannya sangat mengagumkan. Dari model awal yang seukuran tas jinjing, sekarang dengan mudahnya dikantongi. Belum lagi mutu suara, sinyal serta fitur-fitur yang terkait padanya. Dari sebuah piranti untuk berkomuniasi lisan, sekarang menjadi alat yang multi aspek, audio maupun visual. Belum lagi fungsi-fungsi tambahannya dari kemampuan bertukar informasi, foto sampai program-program keuangan, kesehatan, permainan dan banyak lagi.

Tidak heran orang mulai menyebutnya bukan telepon saja, tetapi smartphone, sebelumnya pernah disebut PDA -Personal Digital Assistant- Asisten Digital, karena selain untuk bertelepon juga bisa mencatat dan mengingat apa-apa yang tidak boleh kita lupakan. Sekarang yang umum dipakai adalah smartphone - telepon pintar-. Pintar membantu kita.

Tetapi tidak jarang kita menjadi terikat pada gawai modern itu. Kita bagaikan tidak berdaya bila benda tersebut tidak ditangan kita. Misal, karena ketinggalan atau satu dan lain hal. Bahkan kita tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya, melihatnya, untuk melihat pesan-pesan yang ada.

Sementara itu beberapa penyelidikan menyimpulkan bahwa beberapa penyakit juga muncul dari penggunaan smartphone yang terlalu intens. Seperti radiasi, penyakit fisik lainnya, bahkan juga penyakit psikologis. Sebut saja nomophobia yang adalah perasaan gelisah yang timbul ketika baterai ponsel hampir habis atau tidak ada jaringan.

Juga sindrom nyeri pergelangan tangan yang menimpa mereka yang setiap hari beraktivitas menggunakan handphone lebih dari 3 jam sehari. Ada lagi masalah pada punggung dan leher; bahkan rasa nyeri ini bisa menjadi sakit kepala yang sangat mengganggu. Postur tubuh yang salah ketika orang mengetik di ponsel merupakan penyebab masalah ini. Banyak juga pengguna ponsel yang mengalami masalah penglihatan.

Perlu kita ingat bahwa smartphone itu tetaplah alat bantu. Personal digital Assistant, jangan sampai menjadi Personal Digital Commander. Dimana ketergantungan kita menjadi demikian parah sehingga kita mengabaikan atau mengesampingkan kewajiban kita yang lebih utama, sehingga menimbulkan kecelakaan atau kerugian.

Salah-salah gawai yang dibuat untuk membantu kita menjelma menjadi semacam berhala baru yang menguasai kita.

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 18 Oktober 2017, Pesta Santo Lukas, Penginjil

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 4:10-17b) Saudaraku terkasih, Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi