Tujuan Hidup

 Ansano Widagdyo  |     19 Nov 2017, 01:47

Ada suatu cerita menarik yang patut diingat pada kesempatan Hari Ulang Tahun ke-45 Gereja MBK, khususnya bagi mereka yang jarang berhimpun di lingkungan bersama umat basis, disamping hanya ke gereja saat Natal Paskah. Biasanya, alasan yang diberikan ialah kita tidak ada waktu karena terlalu sibuk bekerja demi karier. Bagaimana dengan OMKnya yang kehadirannya juga minim di lingkungan?

Tujuan Hidup

Mungkin cerita di majalah Time saat Albert Einstein di halaman depan dicantumkan sebagai "Man of the Century" patut direnungkan. Einstein salah satu ahli fisika terbesar, menjelang akhir hayatnya naik kereta api dari Princeton. Ketika kondektur menghampirinya untuk menanyakan tiket kereta api, ia mencarinya di saku bajunya, namun tidak menemukannya, jadi ia mencari di saku celananya. Ternyata juga tak ada disitu. Jadi ia mencari di tas yang dibawanya. Juga tak ada disana. Ia mencari di tempat duduknya -mungkin terjatuh- tak juga ada disana. Melihat itu kondektur berkata: "Tuan Einstein, kami tahu siapa engkau. Semua orang juga tahu dan mengenalmu. Jadi jangan risau perihal tiket itu. Kami percaya engkau telah membelinya." Einstein mengangguk berterima kasih, dan kondektur melanjutkan pekerjaannya memeriksa penumpang berikutnya. Ketika selesai dan hendak melanjutkan ke kereta berikutnya, saat berbalik tampaklah Einstein merangkak-rangkak mencari dibawah tempat duduknya. Kondektur itu lari balik kepadanya dan berkata: "Tuan Einstein, jangan risau. Kami semua tahu siapa dirimu. Kami percaya tiket telah kau beli, tak perlu kau cari." Einstein berkata: "Anak muda, saya juga tahu siapa diriku. Yang aku tidak tahu ialah kemana aku menuju."

Sejak dibaptis, walaupun menyadari seperti salah satu bait syair lagu yang dibawakan dirigen Tri Widodo, "Walaupun aku tak tahu jalan hidupku, satu hal kutahu Tuhan bimbing tanganku", sering kita melupakan pentingnya persekutuan lingkungan dan gereja meneguhkan iman dan tujuan hidup.

Di bulan Januari 2000, Billy Graham, pendeta Amerika terkenal, mula-mula menolak undangan makan di Charlotte, North Carolina, karena berusia 96 tahun, ia merasa uzur, apalagi ia pelupa karena menderita Parkinson. Karena desakan, ia kemudian terpaksa menerimanya. Saat tiba berbicara, ia mengutip cerita Einstein dari Time yang baru dibacanya dan melanjutkan, "Tahukah kamu jas yang kupakai ini. Karena tua dan kurang rapi, agar pantas aku membeli jas baru ini, yang juga akan kukenakan saat dikubur." Namun saat itu, harap jangan ingat jas ini, melainkan hal dibawah ini:

"Saya tak hanya ingat siapa saya. Saya juga tahu kemana aku pergi. Semoga kesulitan hidupmu berkurang, berkatmu makin melimpah dan kebahagiaan melintas sepanjang hidupmu. Hidup tak bersama Tuhan bagaikan pensil yang tak diruncingi - tanpa ujung yang berguna-"

Semoga tulisan ini kita ingat sebagai refleksi HUT ke-45 MBK, agar saat tiket hidup kita diperiksa, kita siap dan tahu serta tak khawatir ke mana kita pergi. Amin.

(Ansano Widagdyo/Ratu Damai 4)

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi