Ketika Tuhan Memanggilmu...

 Helena D.Justicia  |     6 May 2017, 14:47

Sepuluh tahun lamanya, ia tidak disapa oleh ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga yang memutuskan untuk menjadi pastor, ia sudah siap dengan konsekuensi itu. Sementara di suatu tempat lain, seorang gadis muda mengurungkan niatnya masuk biara, karena, "Kasihan ayah saya, tidak ada yang merawat." Sama halnya dengan seorang siswa SMA yang juga urung masuk seminari. "Keluarga saya miskin. Saya harus membantu adik-adik saya supaya bisa sekolah."

Lain lagi dengan Tiwi. Selulus dari SMA, ia langsung menikah. "Saya hanya ingin punya keluarga," katanya. Setahun kemudian anaknya lahir, dan ia pun sibuk mengurus keluarga kecilnya.

Ratna punya kisah berbeda. Selepas SMA ia melanjutkan kuliah ke Belanda. Setelah lulus, ia bekerja di LSM internasional yang berfokus pada isu anak. Hidupnya dihabiskan dengan bepergian ke berbagai penjuru dunia. Ia bahkan tak terburu-buru untuk menikah.

Tuhan Memanggil Lewat Berbagai Cara

Melalui berbagai kisah tersebut, kita menyadari bahwa panggilan Tuhan dapat dialami dalam berbagai situasi batin. Ada yang gembira, sedih atau prihatin. Gereja Katolik sendiri secara khusus menetapkan Minggu Paskah Ketiga sebagai Minggu Panggilan. Umat diajak untuk sejenak merefleksikan panggilan Allah dalam hidupnya.

Tahun 2017 ini, tema Minggu Panggilan adalah: Roh Tuhan Gerakkan Misi. Paus Fransiskus menegaskan bahwa mereka yang terpikat oleh panggilan Tuhan dan bertekad mengikuti Yesus akan merasakan hasrat tak tertahankan di dalam hatinya untuk membawa Kabar Baik kepada saudara-saudari mereka melalui pewartaan dan pelayanan cinta kasih.

Semua orang Kristiani dipanggil untuk menjadi misionaris Injil. Sebagai murid Kristus, kita tidak menerima rahmat cinta Allah untuk penghiburan personal semata. Kita juga tidak dipanggil untuk mempromosikan diri kita sendiri, atau untuk kepentingan usaha pribadi.

Kita adalah para pria dan wanita sederhana yang dijamah dan diubah oleh sukacita Injil, yang tidak dapat menyimpan pengalaman ini hanya untuk diri kita sendiri.

"Awalnya saya merasa bersalah karena batal masuk biara. Saya merasa bersalah kepada Tuhan karena menolak panggilannya," kisah Nena. "Tapi setelah saya berkonsultasi dengan seorang suster, saya jadi mengerti bahwa panggilan Tuhan itu sifatnya tawaran, dan bisa ditolak karena kita memilih yang lain. Suster juga mendorong saya untuk berbahagia dengan pilihan hidup yang saya jalani." Di paroki, Nena adalah seorang katekis yang mengajar agama untuk calon baptis dewasa.

Cerita Nena itu menyadarkan kita: panggilan Allah bukanlah semata-mata menjadi siapa, namun untuk apakah kita dipanggil. Paus Fransiskus menulis: di kedalaman hati, setiap murid misioner mendengar panggilan ilahi yang mengundangnya untuk 'berbuat', seperti Yesus, 'berbuat baik dan menyembuhkan semua orang' (bdk. Kis 10:38). Setiap orang Kristiani adalah seorang 'Christopher', seorang pembawa Kristus, kepada saudara-saudarinya.

Maka menjadi sia-sialah jika kita merasa terpanggil untuk menjadi seorang guru misalnya, namun tak menjadi guru yang baik. Atau menjadi seorang pelayan Gereja, namun tak berbelas kasih. Lantas bagaimana kita bisa memaknai keberadaan kita sebagai sebuah panggilan?

Yesus sebagai Model Panggilan

Berusaha memaknai panggilan hidup kita, dapat diupayakan dengan cara meneladani Yesus. Paus Fransiskus mengingatkan, Yesus sendiri menggambarkan misi-Nya dalam kata-kata ini: 'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang' (Luk 4:18-19). Ini jugalah misi kita: diurapi oleh Roh Tuhan, untuk mewartakan Sang Sabda kepada saudara-saudari kita dan menjadi sarana keselamatan bagi mereka.

Tentu saja, selalu ada tantangan dan rintangan untuk menjalankan misi itu. Paus Fransiskus mengakui, persoalan-persoalan yang bergejolak dalam hati dan tantangan-tantangan yang keluar dari realitas hidup dapat membuat kita bingung, tidak mengerti dan putus asa.

Tetapi, jika kita mengkontemplasikan Yesus yang bangkit menyertai perjalanan para murid Emaus (bdk. Luk 24:13-15), kita dapat dipenuhi dengan kepercayaan diri yang baru. Pada setiap langkah, Yesus menyertai kita! Dua murid, yang diliputi skandal salib, pulang ke rumah dalam kegalauan. Hati mereka hancur, harapan mereka hilang dan mimpi mereka berantakan. Sukacita Injil telah menyingkapkan kesedihan itu. Apa yang dikerjakan Yesus?

Dia tidak menghakimi mereka, tetapi berjalan bersama mereka. Ia mengubah keputusasaan mereka. Ia membuat hati mereka berkobar-kobar dan membuka mata mereka dengan mewartakan sabda dan memecah-mecah roti.

Paus Fransiskus pun menegaskan: seorang Kristiani tidak membawa beban misi sendirian, tetapi menyadari bahwa, bahkan di tengah kelesuan dan ketidakmengertian, Yesus berjalan bersamanya, berbicara dengannya, bernafas bersamanya, bekerja dengannya. Ia merasakan Yesus hidup bersamanya di tengah-tengah upaya perutusan.

Khusus di Minggu Panggilan ini, mari mengarahkan perhatian kepada kaum muda. Sebagaimana dinyatakan Paus Fransiskus: tidak mungkin ada promosi panggilan atau misi Kristiani tanpa doa kontemplatif yang konstan. Hidup Kristiani butuh dipupuk dengan penuh perhatian mendengarkan sabda Allah dan, di atas semuanya itu, dengan keintiman relasi personal dengan Tuhan dalam adorasi Ekaristi, 'tempat' istimewa untuk perjumpaan kita dengan Tuhan.

Selamat memaknai panggilan!

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 26 Mei 2019

Hari Biasa Pekan VI Paskah Pada mulanya, Tuhan yang tak memiliki tubuh atau rupa, sama sekali tak dapat digambarkan melalui gambar. Tetapi sekarang,...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi