Hoax dan Askese Kata-Kata

 Sigit Kurniawan  |     7 Jan 2017, 15:18

Kabar bohong alias hoax sudah ada sejak zama dulu. Namun, belakangan, hoax seolah menjadi sebuah "perayaan" tersendiri. Kenapa? Karena orang saat ini gencar dan gemar menyebarkan kabar bohong, entah dalam wujud kata-kata maupun gambar. Dan, tampaknya, orang tak lelah-lelahnya mengumbar kebohongan tanpa merasa bohong sebagai sesuatu perbuatan yang tercela.

Pada tataran tertentu, hoax yang saat ini beredar silang sekarut di layar smartphone kita sudah taraf cukup memprihatinkan. Alasannya, hoax di sini bukan sekadar berbohong, tetapi berbohong dengan sengaja untuk memecah belah persatuan antarwarga Indonesia. Khususnya, hoax yang mengusung sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

Di sisi lain, orang-orang saat ini juga doyan untuk menerima hoax dan dengan gegabah menyebarkan hoax tersebut sehingga viral. Orang enggan untuk memeriksa lebih dulu kebenaran maupun keakuratan kabar tersebut. Kita sering terlalu emosional untuk segera menyebarkan kabar itu dan anehnya kita juga "menikmati" sensasi-sensasi semu ini, tanpa berpikir panjang. Padahal, efek dari penerbitan dan penyebaran hoax bisa sangat mengerikan, seperti perang saudara, kekerasan, konflik horizontal, perpecahan, kebencian, dan sebagainya.

Fenomena ini menimbulkan kewalahan tersendiri bagi manusia modern di era hiperealitas ini. Ada kesulitan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang asli. Ada yang bilang, kebohongan yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran. Tentu ini yang membahayakan. Dan, kita saat ini, ditantang untuk sadar agar tidak terjerembab masuk ke dalam kelompok "masyarakat yang sakit" ini.

Patut didukung upaya sahabat-sahabat dari Nahdlatul Ulama (NU) yang menginisiasi gerakan melawan hoax yang membahayakan kehidupan bersama berbasis Pancasila ini. Gerakan "Turn Back Hoax" pantas didukung agar bangsa ini tidak terjerumus menjadi bangsa yang gemar mengumbar kebohongan dan kebencian.

Dari sisi personal, kita perlu untuk melakukan "diet" kata-kata atau kita perlu melakukan semacam "askese" kata-kata. Maksudnya? Kita mengasah kemampun untuk menseleksi sendiri informasi-informasi. Kita perlu menahan diri untuk menyebarkan berita-berita yang tidak jelas asal-usul dan kebenarannya, baik dalam bentuk tulisan maupun gambar.

Mungkin ini bisa menjadi laku rohani yang tak kalah sulit di era digital ini, yakni tidak gegabah menyebarkan berita hoax ke mana-mana. Kecuali kalau kita memang senang berbohong atau doyan menikmati berita-berita hoax tersebut. Yang jelas, perintah Allah ke-9 menyebut: Jangan bersaksi dusta terhadap sesamu!

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 18 Oktober 2017, Pesta Santo Lukas, Penginjil

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 4:10-17b) Saudaraku terkasih, Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi