Family Means Nobody Gets Left Behind or Forgotten

 Helena D.Justicia  |     11 Mar 2017, 11:36

Judul artikel ini adalah kata-kata Shiloh Pepin saat diwawancarai dalam sebuah tayangan talkshow bersama Oprah Winfrey. Shiloh adalah seorang anak perempuan yang lahir dengan sindrom sirenomelia. Kedua kakinya menyatu, sehingga ia tampak seperti sosok puteri duyung cilik.

Family Means Nobody Gets Left Behind or Forgotten

Sirenomelia ditemukan sebanyak satu kasus di antara 70.000 kelahiran, dan mereka yang memiliki sindrom tersebut dipastikan tak akan dapat bertahan hidup. Shiloh sendiri, dikatakan oleh dokter yang membantu kelahirannya, tak akan hidup lebih dari 72 jam sejak kelahirannya. Nyatanya, Shiloh hidup hingga berusia 10 tahun. Ia tumbuh dalam perhatian, kasih sayang, dan pengorbanan keluarganya. Ibunya berkata, "Setiap hari adalah saat yang spesial."

Saat yang spesial itu berarti memberi Shiloh obat-obatan dengan ramuan yang kompleks sebanyak dua kali sehari, termasuk steroid oral dan antibiotika yang mencegahnya terkena infeksi. Shiloh hanya memiliki satu ovarium, separuh ginjal, tanpa anus, kandung kemih dan vagina. Karena tak dapat ke kamar mandi, tubuh Shiloh dilengkapi dua kantong, satu untuk urine dan satunya untuk feces. Sang ibu-lah yang memastikan semua pakaian Shiloh terasa nyaman kendati harus cocok dengan kedua kantong itu.

Sebuah Peziarahan bernama Keluarga

"Saya pernah jadi pemabuk. Setiap hari saya pulang subuh karena mabuk-mabukan dengan teman-teman saya. Tapi istri dan anak-anak saya tidak pernah mengeluh atau memaki. Mereka selalu menerima saya. Hal ini terjadi selama beberapa waktu lamanya. Akhirnya saya tersentuh dengan kelembutan hati dan penerimaan mereka. Sejak itu saya berubah, bahkan saya kemudian menjadi pembawa renungan di sebuah radio rohani," kisah Rinto, ayah 4 anak. Rinto mengaku kagum dengan kesabaran istrinya. "Pasti tidak mudah menjalani situasi itu."

Situasi yang tidak mudah juga dialami Herman, ayah dua anak remaja. Barangkali karena tidak tahan dengan kesulitan ekonomi keluarga, istrinya meninggalkan rumah. Ada kabar istri itu sudah hidup bersama laki-laki lain. Herman jadi kesulitan membesarkan kedua anaknya, karena ia harus membanting tulang mencari nafkah. Pagi-pagi benar ia harus mengantarkan anaknya ke sekolah. Sore harinya, di atas jam lima, ia baru bisa menjemput lagi. Kedua anaknya terpaksa menunggu berjam-jam di halaman sekolah sampai ayah mereka datang. Yang lebih memprihatinkan, anak tertua berkebutuhan khusus. Adik perempuannya-lah yang merawat dan menjaganya selama Herman tidak ada.

Jika kita memiliki kepekaan untuk mendengarkan kisah-kisah kehidupan keluarga, banyak yang akan tersampaikan. Ada kegembiraan, namun juga tak sedikit penderitaan. Banyak keluarga yang harus berjuang agar keluarganya tetap utuh dan menjadi sakramen kehidupan. Tak jarang ada keluarga yang hancur. Paus Fransiskus sendiri berkata, "Tak ada keluarga yang sempurna."

Keluarga adalah sebuah peziarahan iman tersendiri. Melalui keluarga, orang akan mengalami Allah. Pertanyaannya kemudian: Allah macam apa yang mereka alami? Jika keluarga bahagia, orang akan mengalami Allah yang penuh kasih dan murah hati. Jika ada keluarga yang berjuang agar mengalami juga Allah yang berbelas kasih, mereka perlu ditemani agar sampai pada pengalaman tersebut.

Gereja Berjalan Bersama Keluarga

Family Means Nobody Gets Left Behind or Forgotten

Perhatian Gereja terhadap keluarga tak pernah pupus, bahkan semakin intens terkait dengan perkembangan zaman. Tak kurang 23 dokumen Gereja terkait dengan kehidupan keluarga, termasuk Familiaris Consortio. Pada 2014 di Roma bahkan dilaksanakan Sinode Luar Biasa tentang keluarga, dan setahun setelahnya, sinode biasa bertema 'Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Dunia Sekarang Ini'. Menggapi perhatian tersebut, Gereja Katolik Indonesia pun menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia pada 2015 dengan tema 'Keluarga Katolik, Sukacita Injil'.

Di tingkat basis, seperti paroki dan lingkungan-lingkungannya, pastoral keluarga mendapatkan perhatian khusus. Selain keberadaan Seksi Kerasulan Keluarga, komunitas kategorial pun hadir mendampingi keluarga, di antaranya Marriage Encounter (ME). "Kami sudah ikut Weekend ME tahun 2006. Waktu itu kami masih di Paroki Blok B. Kali ini kami ikut berpartisipasi kembali yang diadakan di MBK. Tujuannya untuk mengingkatkn kembali apa yang pernah kami dapatkan di Wekeend ME agar relasi dengan pasangan tetap terjaga baik, walaupun kami sudah usia senja," demikian kisah pasutri Paulus Hartono-Priska Girika. Untuk tingkat Lingkungan, Paroki Tomang - MBK sudah mempunyai Seksi Kerasulan Keluarga Lingkungan.

Khusus menyambut Hari Keluarga Internasional pada 15 Mei 2017, Warta Minggu akan menyuguhkan artikel-artikel tentang tahap, tugas perkembangan dan pendampingan keluarga. Diharapkan, dengan berbagai upaya yang dilakukan ini, keluarga-keluarga Katolik dapat terbantu dalam peziarahannya sebagai keluarga.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Kamis, 21 Maret 2019

Hari Biasa Pekan II Prapaskah Dengan berbagai macam cara Tuhan menghimpun bangsa manusia supaya pantas menerima keselamatan (St. Ireneus) Antifon...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi