Masihkah Keluarga Jadi Rumah bagi Mereka?

 Sigit Kurniawan  |     18 Mar 2017, 12:20

Fenomena LGBT ditanggapi dengan banyak pandangan. Tak jarang, antarpandangan sering berseberangan. Bahkan, pemahaman yang salah kaprah membuat dampak yang merusak, khususnya bagi mereka yang terkait dengan fenomena tersebut. Paling tidak, kesalahkaprahan ini yang juga ditangkap oleh Ratih Andjayani Ibrahim, seorang psikolog klinis.

"Kesalahkaprahan ini memiliki potensi kesalahan yang sangat besar dan merusak. Bukan hanya merusak bagi lingkungan di mana mereka berada, tetapi terutama bagi yang bersangkutan yang memiliki isu tersebut," kata Ratih kepada Warta Minggu.

Kerusakan terbesar akibat ketidakpahaman tersebut, sambung Ratih, berujung pada stigma negatif. Stigma ini cenderung meminggirkan dan menyingkirkan mereka. "Sebagai psikolog, saya berkewajiban menerima siapa pun yang datang, terutama mereka yang berbeban berat dalam hidupnya dan berhadapan dengan realitas hidup yang tak menguntungkan," ujar umat Paroki Tomang Gereja MBK ini.

Pemahaman yang benar akan LGBT akan menghindarkan seseorang pada perilaku semena-mena. Ratih secara ringkas memaparkan, lesbian dan gay merupakan sebuah kondisi ketika orang memiliki preferensi seksual kepada sesama jenis. Tentunya, ini akan menjadi sebuah ketaklaziman dalam konteks masyarakat yang percaya bahwa hubungan cinta antara manusia yang semestinya adalah hubungan cinta yang sifatnya heteroseksual.

"Saya pribadi percaya bahwa ajaran utama dari Allah adalah kasih. Mengasihi sesama dan menghargai kehidupan. Dan, seluruh karya kita idealnya adalah karya yang mewartakan cinta kasih tersebut dan keberpihakan pada kualitas kehidupan. Dalam menerima siapa pun yang datang kepada saya, saya berusaha dengan segenap eksistensi saya untuk mampu memberikan warna tersebut," katanya.

Peran Keluarga

Ratih menyadari peran fundamental keluarga - khususnya orang tua - dalam perkembangan identitas jender anak-anaknya. Sebagai seorang ibu dari dua anak laki-laki, Ratih memiliki kepedulian besar pada isu tersebut.

"Role model orang tua itu penting. Termasuk guru-guru di sekolah sebagai pengganti orang tua. Peran bagaimana seorang laki-laki yang mampu berfungsi sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. Teladan mereka akan ditiru oleh anak-anak - khususnya sepanjang masa pembentukan identitas gender. Itu sebabnya, anak-anak membutuhkan teladan yang sangat-sangat valid," kata Ratih.

Teladan paling valid tentunya berasal dari orang tua. Semua itu, kata Ratih, akan diadopsi oleh anak dan menjadi bagian dari nilai hidupnya. Ini yang terpenting. Ratih mengingatkan, orang tua hendaknya tetap membuka ruang adanya kemungkinan pada kenyataan seandainya anak mereka karena bukan atas pilihannya ternyata suatu hari mendeklarasikan diri memiliki preferensi seksual yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

"Tantangan utamanya, apakah kita akan menerima anak kita sebagai anak kita. Apakah kita tetap akan mencintai dia sebagai bagian dari keluarga? Apakah kita tetap akan memperlakukan dia dengan apresiasi yang utuh sebagai manusia? Ini tantangan yang saya percaya digumuli oleh semua orang. Apakah ketika mereka disingkirkan oleh lingkungannya, keluarga tetap mampu berfungsi sebagai rumah bagi mereka?" pungkas Ratih.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Desember 2017, Hari Biasa Pekan II Adven

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (48:1-4.9-11) Dahulu kala tampillah Nabi Elia bagaikan api. Perkataannya membakar laksana obor. Dialah yang...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi