Pertobatan Sejati Pertobatan Alkitabiah

 Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm  |     25 Mar 2017, 12:47

Ketika tampil di depan umum Yohanes Pemandi berseru: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat" (Mat 3:2). Ketika Yohanes ini ditangkap masuk penjara, Yesus tampil dan juga seperti Yohanes mewartakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Mat 4:17). Ternyata tuntutan dasar yang diminta dari setiap murid Yesus Kristus ialah bertobat. Pertobatan alkitabiah yang dimaksudkan itu dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Dalam bahasa Ibrani atau Aramis bertobat mempunyai makna yang mendalam, bukan sekadar menyesal atas sesuatu yang tidak baik, melainkan sungguh berubah hati. Artinya berbalik, meninggalkan sikap dan jalan hidup yang ditempuh sampai kini yang ternyata sesat. Konsekuensinya ialah ganti sikap, ganti haluan, ganti jalan. Pertobatan bukan bersifat sesaat, hanya momentan, melainkan total dan menetap: transformasi sejati.

Pertobatan Sejati Pertobatan Alkitabiah

Pertobatan berarti:

  1. Perubahan sikap manusia yang mendasar dan total seluruh maksud, tujuan dan cara hidupnya.
  2. Perubahan sikap batin/rohani/keagamaan, sehingga selalu berhubungan dengan Tuhan.
  3. Bertobat bukan hanya menyesali dan menyilih dosa yang telah dilakukan, melainkan menentukan arah hidup baru.
  4. Mengubah pandangan lama, dan memiliki keyakinan iman yang mendalam akan kehendak Allah.
  5. Sungguh menanggapi panggilan dan rahmat Allah serta berusaha menyambut penyelamatan yang ditawarkan Allah.

Tujuan pertobatan adalah Allah. Hidup beragama sejati bukanlah sikap hidup netral, melainkan melalui keyakinan iman berusaha hidup dalam hubungan dengan Allah. Dalam menghayati hubungannya dengan Allah ini, manusia dengan kelemahannya dapat dan sering menipu dirinya sendiri. Penipuan ini terjadi, apabila orang hanya menyibukkan diri dengan apa yang lahiriah, formal, resmi saja. Memang mungkin ia hari Minggu pergi ke Gereja, besar dananya atau sumbangan materiil yang diberikan, bahkan sudah berziarah ke Tanah Suci, Roma, Lourdes, mengunjungi pelbagai gua Maria dan sebagainya. Bahkan mungkin banyak berpuasa dan matiraga, Tetapi pelaksanaan segalanya itu bukan otomatis merupakan ungkapan pertobatan sejati.

Nabi Yoel menegaskan: "Robeklah hatimu, bukannya pakaianmu!" (Yl 2:13). Dengan demikian ternyata secara alkitabiah sumber dosa memang terletak di dalam hati manusia. Tetapi keadaan hati orang yang sungguh bertobat selanjutnya harus dibuktikan dalam tindakan dan perbuatan.

Seperti telah disinggung di atas seruan kenabian atau profetis untuk bertobat dalam Perjanjian Lama itu, diteruskan oleh Yohanes Pemandi. Ia mengajak bangsa Yahudi untuk mengubah sikap hidup mereka. Kenyataan bahwa mereka adalah keturunan Abraham bukanlah garansi atau jaminan kesungguhan pertobatannya. Baptisan yang dilakukan Yohanes Pemandi dilakukannya untuk pertobatan (lih. Mat 1:4 dll.). Menurut Yohanes Pemandi hanya dengan bertobat orang dapat meluputkan diri dari pengadilan kemurkaan Allah pada akhir zaman (lih. Luk 3:7-9).Bila orang mengakui dosa-dosanya (Mrk 1:5), ia sekaligus menghasilkan buah-buah pertobatan itu (Luk 3:8 dll.), yakni amal kasih kepada sesama.

Pertobatan ternyata mendapat prioritas utama pilihan pelaksanaan karya penyelamatan yang dilakukan oleh Allah.. Ia meneruskan seruan Yohanes Pemandi, yang harus menyiapkan kedatangan Almasih, yaitu Yesus Kristus. Tetapi ajakan Yesus untuk bertobat mempunyai arti lebih mendalam. Di mana letak perbedaannya dengan pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pemandi? Ajakan Yesus untuk bertobat mengandung tuntutan, agar orang sungguh percaya akan kabar penyelamatan-Nya. Ia sungguh diutus dan diberi kuasa mewartakan dan melaksanakan belaskasihan Allah yang tak terhingga! Yesus diberi kuasa mengampuni dosa dan menyelamatkan siapapun yang hilang! (Mrk 2:10 dll.; 2:17 dll). Kerelaan dan kesediaan Allah untuk mengampuni dosa semacam itu belum pernah diwartakan sebelum Yesus datang. Sekarang pewartaan itu sudah diberikan. Tetapi konsekuensi dan tuntutannya, apabila orang mengharapkan kesediaan Allah untuk mengampuni dosanya, ialah bertobat.

Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32) menyingkapkan apa sesungguhnya disebut pertobatan. Manusia yang bertobat menjadi insaf akan keadaannya sebagai orang yang kehilangan dirinya sama sekali, tanpa harapan akan Allah. Maka orang itu mengakui dan menyesali dosanya. Sepenuh hati ia menyerahkan diri kepada pengadilan Allah, tanpa coba-coba memaafkan diri dan tanpa tuntutan apapun. Ia hanya percaya sepenuhnya akan belaskasihan Allah.

Perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14) menggambarkan wajah dua manusia, masing-masing seperti adanya. Sungguh berbeda satu sama lain! Wajah palsu orang Farisi sudah dikenal semua orang! Tetapi wajah si pemungut cukai sungguh berubah! Pemungut cukai itu tidak membanggakan amalnya. Ia hanya dengan rendah hati mohon agar Allah mengasihani dia..

Dalam Luk 7:36-50 diceriterakan tentang seorang perempuan berdosa yang berlutut membasuh kaki Yesus dengan air mata penyesalannya atas dosanya. Yesus merasakan kasih murni perempuan itu kepada Allah. Kasihnya telah mengubah total wajah perempuan yang buruk namanya itu. Karena itu Yesus segera mengatakan, bahwa dosa-dosanya sudah diampuni.

Dari kedua perumpamaan dan cerita itu kita menyadari, bahwa pertobatan sejati mendorong orang berdosa untuk mengasihi Allah secara hangat. Tugas Yesus sebagai Almasih ialah membawa pulang orang-orang berdosa kembali kepada Allah. Karena itu Yesus menjadi sahabat kaum berdosa dan pemungut cukai (Mat 11:19 dll). Ia tidak segan bergaul dengan mereka! (Mrk 2:16 dll). Yesus sangat bergembira karena mereka bertobat, dan kegembiraan-Nya itu sama dengan kegembiraan Allah, sebab apa yang hilang sudah diketemukan kembali (Luk 15:7.10; Mat 18:15)

Hambatan yang paling melawan pertobatan sejati adalah keangkuhan atau kebohongan hati dan menganggap diri selalu sebagai orang benar. Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Luk 18:10-14, Yesus secara sangat mengesankan menggambarkan sikap orang, yang sungguh congkak dan angkuh hati. Si orang Farisi membanggakan amalnya di hadapan Allah. Ia adalah orang yang tidak dapat melihat kelemahan dan kemiskinan rohaninya sendiri. Ia tidak merasa membutuhkan Allah dan belaskasihan-Nya. Karena itu ia tidak juga menerima belaskasihan Allah! Sikap semacam itu biasanya disertai sikap menghina terhadap sesama manusia. Yesus memberi contoh figur orang semacam itu dalam sebuah perumpamaan tentang seorang anak sulung, yang marah kepada bapanya, yang berbelaskasih terhadap anaknya yang bungsu. Anak ini memang nakal, namun bertobat dan kembali kepada bapanya! (Luk 15:11-32).

Pertobatan sejati yang mampu membuka hati untuk memasuki Kerajaan Allah hanya mungkin, apabila manusia merasa diri kecil dan tak berharga di depan Allah, bagaikan seorang anak kecil seperti dimaksudkan Yesus dalam Mat 18:3. Kita adalah selalu hamba-hamba yang tak berguna (Luk 17:10), selalu berhutang kepada Allah (Mat 6:12). Namun, Allah meninggikan mereka yang merendahkan diri" (Luk 14:11 dll. 18:14; bdk. Yak 4:10; 1 Ptr 5:6).

Untuk orang 'modern', atau 'maju', atau 'terdidik', atau 'terpelajar', atau merasa diri 'orang penting', atau 'orang berkedudukan tinggi' atau apapun lainnya, pengertian tentang pertobatan menjadi makin suram, kurang 'populer', kurang sedap didengar. Bahkan 'mengaku dosa' sebagai penghayatan pertobatan tak punya daya tarik lagi, malahan dirasakan sebagai bertentangan dengan harga diri, dianggap kuno.

Betapa berbeda dengan pandangan, sikap, hidup dan perbuatan yang dilakukan Yesus Kristus seperti diungkapkan oleh Paulus dalam Flp 2:1-11. Sungguh sukar dipahami! Allah menjadi manusia, menyatukan diri dengan umat manusia yang berdosa, dan atas nama umat berdosa itulah Ia menebusnya di hadapan Allah dengan mati disalib. Yesus sebagai manusia memberi kepada kita pelajaran dan memberi teladan kasih total dan kerendahan hati sejati terhadap Allah. Padahal Ia tidak berdosa. Bila Dia yang menebus kita bersedia begitu rendah hati terhadap Allah, berkeberatankah kita juga bersikap rendah hati terhadap Allah. Bila Allah mengutus Putera-Nya sendiri untuk menunjukkan belaskasihan-Nya kepada kita, berkeberatankah kita untuk menerima kasih-Nya lewat sakramen pengakuan, yang adalah sakramen belaskasihan Allah?

Selama masih hidup marilah kita berusaha memahami pesan alkitabiah yang tercantum dalam Mat 18:2-3 ini: "Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: 'Aku berkata kepada-mu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'". Mengapa? Yohanes memberi jawabannya: "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yoh 1:8).

Kita memiliki sumber kegembiraan di tengah kelemahan kita, "sebab Imam Besar ('yaitu Yesus, Anak Allah') yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibr 4:15-16).

Pertobatan Sejati Pertobatan Alkitabiah

Belaskasihan Allah hanya ditawarkan kepada orang mau bertobat!

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Kamis, 17 Oktober 2019

Bacaan Liturgi Kamis 17 Oktober 2019 PW S. Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir Bacaan Pertama Rom 3:21-30 Saudara-saudara, tanpa hukum Taurat,...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi