Pemulihan Lewat Pengampunan

 Judith Widjaya  |     20 Mar 2016, 11:07

Kemarahan, kebencian, kepahitan, sering membuat orang kehilangan akal sehatnya, bermain dengan pikirannya membuat cara agar orang lain yang dibencinya dapat tersingkir. Orang tipe seperti ini tidak dapat diajak berkomunikasi dengan baik, yang ada hanyalah amarah, apalagi mereka yang sudah menyakiti dan melukai hati kita.

Pemulihan Lewat Pengampunan

"Apakah saya mau mengampuni orang yang bersalah kepada saya?" "Apakah saya bisa mengampuni orang yang sudah menyakiti dan melukai hati saya?" Pertanyaan seperti ini sering terlintas dalam benak kita. Mata memandang, mulut mengampuni, tangan menjabat tangan, tapi hati masih dendam. Di manakah letak pengampunannya?

"Tak ada orang yang terlahir untuk membenci orang lain karena warna kulitnya, latar belakangnya, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci. Jika bisa belajar untuk membenci, maka mereka bisa diajar untuk mengasihi karena kasih lebih alamiah bagi hati manusia ketimbang sebaliknya," ungkap Nelson Mandela. "Yang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Pengampunan adalah atribut orang kuat" tutur Mahatma Gandhi.

Tren yang terjadi di hari raya keagamaan yaitu orang beramai-ramai minta pengampunan dari Tuhan, tapi tidak mau mengampuni sesamanya. Sehingga kerapkali kita masih memakai topeng yang sama dan terbelenggu akan pikiran kita. Menyimpan kesalahan orang lain sama saja menambah beban di hati kita. Kita harus menjadi orang yang merdeka, belajar untuk mengampuni merupakan proses yang terbaik dan melibatkan Tuhan untuk melupakan rasa sakitnya.

Pengampunan diberikan menurut kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada kita. Pengampunan Allah kepada manusia mendatangkan damai sejahtera. Pengampunan manusia terhadap sesama membuat dirinya memiliki kuasa Tuhan. Mengampuni seseorang itu sulit, apalagi orang yang bersalah kepada kita. Jika kita mau mengampuni, itu karena kita membuka ikatan kemenangan kuasa Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Pengampunan yang sesungguhnya adalah Tuhan membuka pintu anugerah-Nya untuk kita. Tanpa pengampunan, sukar membangun persekutuan yang mengasihi.

Hendaknya kita mengampuni dengan ikhlas, tulus hati, tanpa bersungut-sungut, karena ketulusan hati kitalah yang Tuhan lihat, sehingga lembaran baru dalam hidup kita mendatangkan sukacita sejati.

Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu (Matius 6:14-15).

Lihat Juga:

Tema Nasional (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 15 Desember 2018

Hari Biasa Pekan II Adven Oleh karena cinta dan kuasa-Nya, Ia yang tunggal mempersatukan banyak orang pada Diri-Nya. (Beato Ishak dari Stella)...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi