KE GEREJA KULAK WARTA UNTUK PELAYANAN
Ketika masih menjalani tugas aktif sebagai wartawan pergi kemana saja, tentu bertemu dengan orang dari berbagai lapisan ibarat kulak, mencari “bahan-bahan mentah barang dagangan” untuk nanti “dijual” kembali dalam bentuk yang sudah dipoles lagi. Siapa yang paling rajin kulak dan ahli memasaknya dengan bumbu-bumbu penyedap, akan menjadi “makanan” yang lezat dan selalu dicari orang. Demikian juga sekarang ketika menggereja maupun dalam pendalaman iman di mana saja, ya, ibarat kulakan warta iman untuk bekal pelayanan. Bumbu penyedapnya adalah berbagai informasi tambahan yang kini melimpah ruah, baik bacaan maupun tontonan serta pengalaman hidup yang pernah kita jalani. Syukur kalau kita juga pandai “memasak”nya.
Bacaan Injil minggu ini dari Injil Matius mengajak kita untuk tidak heran ketika Yesus yang katanya Orang Suci, mau mengajak makan para pemungut cukai yang konotasinya adalah orang-orang berdosa. Memang, stigma pemungut cukai sampai sekarang masih tetap negatif, tanyakan pada setiap orang bagaimana persepsinya terhadap mereka yang mempunyai profesi di lingkungan pajak, bea & cukai, atau penagih hutang, debt collector, tukang kredit meski mereka pegawai resmi Bank. Pasti pukul rata, jenis pekerjaan yang “sadis” tak kenal belas kasihan. Di sana di Injil itu Yesus bersabda….Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Merenungkan Injil Matius, yang sering disebut oleh para ahli Kitab Suci sebagai “wacana missioner “, kita bisa menemukan semua aspek kekhasan kegiatan misioner dalam komunitas Kristiani yang ingin tetap beriman kepada teladan hidup dan ajaran Yesus. Kita seolah ditantang menjawabnya, dan harus disadari mengikuti Yesus pasti ada risikonya. Namun dengan kesadaran penuh jika kita menjalaninya, kita tidak akan sendirian dalam karya pewartaan, dalam diri kita ada penyertaan Yesus. Maka jangan heran jika kita merenungi tugas orang-orang suci yang membawa misi pewartaan sampai ke ujung-ujung dunia tanpa mengenal rasa takut. Mempertaruhkan kesehatan bahkan hidupnya, Tuhan menyertai dengan memberi kecerdasan, kemampuan lebih yang mencengangkan banyak orang. Karena mereka-mereka itu memang orang murah hati.
Pun demikian yang dilakukan oleh para pewarta/wartawan, lihat saja di mana ada konflik, apakah itu peperangan dalam arti luas yang berakibat kekerasan dan kematian, pewarta hadir di tengah-tengahnya. Contoh paling jelas, pekan lalu terjadi kerusuhan di kota Johanesburg, Afsel, perburuan dan pembunuhan terhadap warga negara asing a.l. ada yang dibakar hidup-hidup bisa ditonton di layar kaca. Pasti motivasinya berbeda antara orang suci dan pewarta. Ini hanya sebuah contoh ekstrim, yang satu ingin dunia damai dan tenteram. Namun yang satu mewartakan, dalam dunia yang diharapkan damai tenteram masih terus terjadi kekerasan. Semua bertujuan agar pewartaan itu bisa disaksikan oleh banyak orang. Kembali kepada pewartaan Injil, Misi sebagai suatu kesaksian tentang cinta Allah, menjadi sangat efektif apabila hal itu juga dibagikan kepada orang lain “ supaya dunia ini percaya “. Paling tidak menjadi inspirasi doa-doa kita untuk meneguhkan komitmen kita akan arti sebuah pelayanan. Setuju? (IG. Sunito)
|