KEBERANIAN HARUS MENJADI SEBUAH PILIHAN
Seperti apakah hidup sebagai murid Kristus? Hidup dalam spriritualitas atau perziarahan yang diungkapkan. Mengungkapkan apa? Mengungkapkan Kerajaan Allah yang kita alami (bukan sebatas diketahui) seperti halnya Yesus Kristus. Kerajaan Allah merupakan misteri yang diungkapkan Yesus melalui perkataan dan perbuatanNya. Kerajaan Allah adalah suasana di mana Allah menjadi raja atas diri kita, baik dalam cara pikir-cara pandang-cara bertindak kita (bdk. 1Kor 13:4-7). “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah” (ay. 27). Jadi rahasia Kerajaan Allah harus diberitakan bukan didiamkan. Kerajaan Allah bukan milik pribadi sebab Allah hadir dalam pribadi PuteraNya untuk semua orang.
Pemberitaan Kerajaan Allah bukan perkara gampang. Pemberitaan ini bukan sekadar mengatakan “Puji Tuhan, saya mendapat kesembuhan dari penyakit kanker atau usaha saya yang hampir ambruk akhirnya bangkit”. Setelah sembuh, saya harus apa? Setelah berhasil dalam usaha, saya harus apa? Apakah saya mendapatkan hasil usaha ini dengan benar? Untuk apa saya bekerja keras? Bagaimana dengan sesamaku? Allah mengabulkan permohonan saya sebenarnya untuk apa? Keselamatan hanya milik saya? Akh, ternyata banyak pertanyaan yang harus kita lontarkan dalam hidup ini. Dan inilah yang dinamakan spiritualitas hidup sebagai muridNya. Sebuah pergulatan hidup dan pembelajaran terus-menerus yang mengantar kita pada cara pikir-cara pandang-cara bertindak yang sejalan denganNya.
Pemberitaan Kerajaan Allah butuh pengorbanan. Berkorban untuk melepaskan sesuatu. Bahkan sesuatu yang paling berharga bagi kita…nyawa kita sekalipun (bdk. ay. 26 dan 29). Bukankah kita bahagia karena ada sesuatu yang berharga dalam hidup? Dan itu harus dilepaskan? Apa yang saya dapat? Sementara mereka yang santai-santai saja dengan “ketidakbenarannya” malah bisa menikmati ini itu di dunia ini. Bahagianya mereka. Fiuw…berat rasanya. Kita tidak mau hidup seperti itu. Jika kita jujur, kita takut kehilangan, apalagi soal nyawa. Namun justru inilah tantangan kita sebagai pewarta yang dipilih oleh Allah (bdk. Yoh 15:16).
Pengorbanan butuh keberanian. Realitas beberapa kelompok di sekitar kita menyatakan perang fisik dan bertindak merusak adalah wujud keberanian. Apa ini yang dikatakan berani? Atau malah sebuah kebrutalan? Aristoteles dalam “Nikomachean Ethic”-nya menyatakan bahwa manusia sebagai manusia harus bersikap di antara 2 ekstrem. Jadi keberanian adalah sikap hidup yang berada di antara ekstrem yang satu pengecut dan ekstrem lainnya brutal. Bagaimana dengan Yesus? Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat 10:16). Saudara, inilah keberanian! Keberanian ini juga harus menjadi nilai hidup yang dibangun dari ketakutan kita sebagai orang yang percaya penghargaan Allah kepada kita (bdk. ay. 28-31). Apa yang kita banggakan dan kita pertahankan saat ini sehingga berharga adalah sangatlah terbatas. Kekayaan materi, keahlian, status hanyalah tanda dan sarana kebahagiaan yang harus diwartakan dalam kata dan perbuatan…bukan milik pribadi dan tujuan hidup kita! Allah tidak memperhitungkan apa yang telah kita dapat di sini tapi apa yang telah kita berikan sebagai buahnya. Hanya dengan percaya pada Yesus yang begitu menghargai kita, kita berani menjadi pewarta Kerajaan Allah yang dikehendakiNya dan kita mengarah pada tujuan hidup kita yang benar. (ziga07)
|