BENIH SABDA ALLAH

Perumpamaan tentang penabur hari ini adalah proses pewartaan kabar gembira tentang Yesus Kristus kepada segala bangsa. Kalau kita perhatikan macam-macam tanah dalam perumpamaan ini, proses pewartaan bermula dari si penabur yang menaburkan benih ke tanah. Dan penghambat bagi pertumbuhan benih sabda adalah dalam hati manusia. Benih itu ada dalam dirinya sendiri yang memiliki daya hidup dan mau bertumbuh, asal diberi kesempatan untuk mulai hidup, menumbuhkan akar sampai membentuk batang.
Ketika Yesus mengajar, Ia seringkali menyampaikan ajaran-Nya dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan yang seringkali diartikan sebagai cerita dari dunia ini namun dengan arti surgawi. Yesus seringkali menggunakan peristiwa sehari-hari untuk menyampaikan kebenaran yang ingin diwartakan-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan salah satu kebenaran tentang karya pewartaan-Nya yang kelihatannya gagal, namun berhasil melalui sebuah perumpamaan tentang penabur.
Memang bagi kebanyakan petani kita, perumpamaan Yesus ini terasa aneh. Bagaimana mungkin seorang petani me-nabur benih pada sembarang tempat. Para petani kita biasanya menyiapkan dulu lahan secara baik sebelum ditanami. Namun, tidak demikian halnya dengan para petani di Palestina ketika Yesus hidup. Mereka bukannya menyiapkan tanah terlebih dahulu sebelum menabur benih melainkan terlebih dahulu menabur sebelum tanah dicangkul dan benih itu dimasukkan ke dalam tanah. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau benih-benih itu bisa jatuh pada berbagai kemungkinan tempat seperti yang disebutkan oleh Yesus di dalam Injil.
Apa yang mau diwartakan oleh Yesus melalui perumpamaan tersebut? Yesus mau mengatakan sesuatu tentang karya pewartaan-Nya sendiri. Benih yang jatuh di pinggir jalan atau tanah berbatu atau semak berduri adalah gambaran dari karya pewartaan-Nya yang tidak membawa hasil. Hal itu tampak dalam sikap permusuhan dan penolakan yang akhirnya membawa Yesus kepada penghukuman dan kematian.
Usaha Yesus, sebagaimana halnya usaha petani dalam perumpamaan itu, kelihatannya gagal. Namun, bagian akhir dari perumpamaan itu menyampaikan kesimpulan yang sangat kontras. Beberapa dari benih itu jatuh ke dalam tanah yang baik dan menghasilkan buah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat. Dengan mengatakan hal itu, Yesus mau menunjukkan bahwa sekalipun ada kegagalan disana-sini, Ia tetap mengakui hasil yang berlipat dari karya pewartaan-Nya.
Yesus juga tetap optimis dengan karya pewartaan sekalipun Dia menemukan kesulitan yang membawa-Nya kepada kematian di kayu salib. Hal yang sama diharapkan-Nya dari kita. Setelah sekian lama mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah, kita menyaksikan seolah tidak ada hasil. Kejahatan masih terjadi dimana-mana, seperti pencurian, korupsi, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, dan berbagai kejahatan lainnya. Injil hari ini menyadarkan kita untuk tidak boleh putus asa. Kita harus tetap sabar untuk terus menebar benih-benih kebenaran! Soal keberhasilannya, kita serahkan kepada Tuhan. Karena itu, maju terus. Pantang mundur. Semoga! (Magda,HK)
|