ZAMAN SUSAH – ZAMAN AKSI
Banyak dari kita sekarang ini prihatin, apa-apa kok susah. Kehidupan makin susah dari hari ke hari. Banjir dan longsor di mana-mana, sawah-sawah puso, iklim kacau memperburuk keadaan. Harga pangan naik, minyak bumi naik menambah sengsara. Kini perut manusia pun harus berlomba dengan perut mobil, motor dan mesin industri karena orang lalu memproduksi bioetanol dari sumber pangan manusia (singkong, jagung dan padi-padian) guna menggantikan bensin. FAO – PBB pun menggagas tema – “Ketahanan Pangan dan Tantangan-tantangan Perubahan Iklim dan Bioenergi” - untuk Hari Pangan Sedunia tahun 2008.
Bagi yang kaya mungkin tidak apa-apa, boleh jadi malah semua kemelut ini menjadi peluang bisnis mengeruk untung besar. Yang miskin makin terpuruk dan terjepit. Perlombaan memperkaya diri dan korupsi terus berlanjut tanpa kapok meski kasus demi kasus terungkap dan pelaku ditangkap. Tak ada rasa malu lagi, etika dan moral tergerus habis seperti lapisan humus tanah yang hanyut oleh banjir.
Itulah situasi sulit di mana kita hidup sekarang. Banyak yang larut dan mulai tergerus etika dan moral diri pribadi, mengesampingkan integritas kristianinya. Padahal ajaran Kristus sudah jelas, hidup lurus, jujur dan penuh kasih. Yesus tak pernah menjanjikan hidup fisik yang enak di dunia. Hidup rohani yang penuh damai, kasih, dan ketentraman yang disasar, meski situasi dan kondisi di sekeliling kita tidak kondusif. Maka tetap harus berjuang sesuai dengan ajaran-Nya yang terkenal: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.
Perumpamaan gandum dan lalang sangat relevan dengan masa kini, banyak tantangan, ancaman dan kesulitan. Kita harus hidup dalam keadaan ini, Tuhan tidak membebaskan kita dari derita, tetap harus hidup bersama semua ancaman, gangguan dan kesulitan. Lebih dari itu, malah harus seperti biji sesawi yang tumbuh menaungi dan ragi yang mengembangkan adonan tepung. Ini tugas perutusan kita, melayani meskipun dibalut tantangan, ancaman dan kesulitan. Justru karena kecil seperti biji sesawi dan butiran ragi kita harus dapat berbuat bagi orang banyak. Kita dituntut dapat menaungi, membantu serta dapat mengembangkan sesama kita, lebih-lebih yang sangat membutuhkan pertolongan, yang tak mampu, tersisih dan tertindas. Inilah spiritualitas sosial kita, tanggungjawab terhadap sesama ciptaan Allah. Itulah aksi yang harus kita laksanakan di zaman susah ini, sekaligus memberi teladan kepada semua orang melalui sikap dan perilaku persaudaraan sejati dan gembala yang baik. Bisakah melakukannya? Mungkinkah? Jangan pikir dan lihat kesulitan atau kecilnya kita. Gandum tetap hidup dikelilingi lalang sampai siap panen, biji sesawi tumbuh melebihi tanaman yang lain, butir-butir ragi mengkhamirkan adonan tepung yang lebih besar. Tak lain karena penyelenggaraan Ilahi, itu iman kita akan penyertaan Tuhan dalam hidup fisik di dunia ini sepanjang kita mengikuti Dia sebagai murid yang benar. Percayakah? Mau apa kita sekarang? (G.N.Aswin)
|