Jangan Berikan kepada Kaisar yang Bukan Hak Kaisar
Dalam Injil minggu ini, Yesus memberikan pendidikan politik kepada para murid maupun orang Farisi. Pendidikan politik yang diajarkan adalah agar para murid memiliki hatinurani jernih untuk pembedaan Roh. Mana kehendak Allah dan mana tanggungjawab sosial dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Yesus menegaskan jangan sampai agama termanipulasi oleh kekuatan politik tertentu sehingga orang gampang menggunakan agama untuk menghalalkan kehendaknya.
Selain mengajak para murid untuk memahami kebenaran sebagai gerakan politis, Yesus menghendaki semua bentuk penindasan dan pemerasan dilenyapkan. Dia menghendaki agar orang rela berbagi kekayaan negara dan berbagi tempat dalam sejarah (tata keselamatan) . Dia mempunyai kepekaan dan keterbukaan hati, yang membuat-Nya mampu menemukan hubungan antara penindasan terhadap rakyat dan tatanan masyarakat yang menindas rakyat.
Yesus tidak hanya menanggapi situasi memilukan, tetapi juga mempermasalahkan praktek dan kebijaksanaan politis waktu itu. Agama mengatasnamakan kehendak Allah untuk melanggengkan penguasa. Terbukti dalam sejarah Palestina yang menjadi imam agung ya seputar empat keluarga terhormat, dekat dengan Roma dan direstui kelompok Bait Allah. Yesus mengambil sikap yang jelas karena menginginkan perubahan nyata dalam hukum, adat, pandangan hidup dan hubungan dalam masyarakat. Ajaran-Nya adalah bagian dari perjuangan melawan mentalitas yang legalistis, menentang hukum yang dipalsukan demi kepentingan kelompok elite, untuk menindas rakyat kecil dan melarat. Keprihatinan-Nya yang khusus terhadap orang kecil dan kritik-Nya terhadap mereka yang berkuasa, harus diakui ditujukan demi tatanan sosial baru yang tercermin dalam kedatangan Kerajaan Allah. Bersikap adil adalah jawaban untuk menghadirkan Kerajaan Allah: Berikan kepada kaisar hak kaisar dan kepada Allah hak Allah tidak lain adalah pendidikan politik keadilan dan keseimbangan hidup.
Yesus prihatin terhadap rakyat Palestina karena penjajahan lokal oleh kelompok agamawan, khususnya dengan memberlakukan hukum yang memberatkan rakyat. Akan tetapi agama Yahudi juga dikontrol oleh penjajah Romawi dan dimanfaatkan demi keuntungan Roma. Dalam konteks ini, mempertanyakan hal-hal keagamaan secara mendasar berarti menentang keterlibatan pemerintah Romawi dalam agama. Menghendaki perubahan masyarakat dari atas sampai bawah berarti menjungkirbalikkan seluruh kemapanan yang ada. Imam kepala, keluarga kaya yang berkuasa dan pejabat agama mengerti arti tuntutan Yesus dan akibatnya, maka mereka bersekutu untuk melenyapkan Yesus. Yesus memerangi penjajahan serta memperjuangkan kebebasan. Dia juga melawan penjajahan pada waktu menolak untuk menyerah kepada penguasa dan cara hidup mereka, jalan pikiran dan cara kerja mereka. Dia menjungkir-balikkan penjajahan ketika membebaskan rakyat dari rasa takut dan menantang mereka untuk berpikir dan bertindak sebagai orang merdeka. Yang mengagumkan dari Injil bahwa setiap kisah merupakan perjuangan habis-habisan melawan penindasan oleh agama, tradisi, adat, masyarakat dan negara, dan oleh sejumlah kelompok elite tertentu. (Rm Eko)
|