KETABAHAN, KEULETAN DAN KESETIAAN DIPERLUKAN SEKARANG INI
Ketika di usia SD masih berada di kota Solo, saya menonton film Quo Vadis sebuah film kolosal besar waktu itu tahun 1950an yang bertemakan keagamaan. Adegan paling berkesan adalah ketika orang-orang Kristen berlarian ketakutan menuju luar kota Roma, untuk menghindari laku kekejaman Kaisar Claudius Nero ( tahun 37-68 ). Di antara pelarian itu terdapat Petrus yang sudah ditunjuk Yesus untuk mendirikan Gereja di dunia. Ia lari meninggalkan pengikut-pengikutnya yang tertangkap Nero dan akan dijadikan santapan singa di Coleseum, sebagai adegan hiburan dan contoh bagi warga Roma. Karena orang-orang Kristen perdana itu dituduh sebagai penyebab kebakaran kota Roma. Padahal yang membakar Roma adalah Kaisar Nero sendiri, karena ambisinya untuk membangun istana baru dan istana lama dibakar.
Pada saat Petrus lari terbirit-birit di pinggiran kota, datanglah Yesus dari arah berlawanan menuju kota Roma. Petrus terkejut dan bertanya, ”Quo Vadis Domine?“ Tuhan Engkau akan pergi kemana? JawabNya, “Aku akan pergi ke Roma untuk disalibkan lagi!“ Mendengar jawaban itu Petrus sadar bahwa ia tidak boleh melarikan diri lagi, (Petrus sering menyangkal dan mengkhianati Yesus) apalagi meninggalkan pengikut-pengikutnya. Ia balik lagi menuju kota Roma dan ikut menanggung penderitaan dan penganiayaan seperti Yesus sendiri. Petrus mati di salib dengan kepala terbalik menurut permintaannya sendiri karena merasa tak pantas disalib berdiri tegak seperti Yesus. Itulah puncak pengorbanannya untuk Kristus.
Mengapa adegan itu begitu impresif buatku ? Juga ada pengaruh besar sekeliling waktu itu. Adalah suasana nasionalisme yang berkobar, semangat melawan penjajahan Belanda masih tebal, akibat Irian Barat (kini Papua) belum diserahkan kepada RI. Orang-orang Kristen menderita akibat kekejaman Nero. Di benak saya, Nero adalah Belanda dan orang-orang Kristen adalah kita. Kemudian kehidupan disekeliling saya, adalah kehidupan rakyat jelata, grass root, yang benar-benar harus banting tulang memeras keringat. Tak heran pula seperti kata orang bijak, apa yang menjadi momen dominan pada masa kecil tak akan terlupa seumur hidup. Kebetulan di bulan Agustus setiap tahunnya, merupakan bulan nasionalisme, rasa kebangsaan kita selalu dibangkitkan kembali. Kisah-kisah merebut kemerdekaan tak lekang dimakan zaman. Dengan berkembangnya pengetahuan tentang kekristenan, mengapa Yesus memilih Petrus sebagai wakil-Nya di dunia? Padahal dalam ceritanya Petrus ini tidak stabil, beberapa kali menyangkal bahkan mengkhianati Yesus. Dan Yesus tetap pada keputusan-Nya. Petrus ternyata manusia biasa seperti kita, yang juga bisa berubah-ubah dalam menghadapi kenyataan dan tantangan. Apalagi menghadapi sebuah kekuasaan yang sadis dan otoriter, pasti timbul rasa ketakutan dan gentar. Justru dengan mengalaminya sendiri iman kita tumbuh dan mengisi kematangan jiwa. Dari sanalah Petrus menjadi Santo besar, bahkan menjadi pilar utama kekristenan bersama Santo Paulus. Tak heran pula Hari Raya mereka dijadikan satu. Dua-duanya menunjukkan kesetiaan kepada Kristus dengan jiwanya, mengalami seperti Yesus sendiri pada akhir kehidupannya. ( IG. Sunito)
|