AJARI AKU MENGENALMU
Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Setidaknya cara ini lebih beradab jika dibandingkan dengan cara berburu monyet di hutan Kalimantan atau hutan di Persada ini yang umumnya menggunakan senapan angin atau peluru bius.
Cara menangkap monyet di Afrika sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Mungkin kita sudah tahu jawabnya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Sedang stoples tertanam di tanah dan terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana. Kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, pernahkah kita sadar kita juga kerap kali melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda? Kita sering mengenggam erat-erat setiap pikiran yang mengganjal hati kita layaknya monyet menggenggam kacang. Kita lebih senang bermain dengan pemikiran kita yang jenaka, yang kita anggap ria, yang menyenangkan ego daripada melepaskannya dan membiarkannya hilang.
Petrus, rasul itu juga mengalami hal yang sama. Ia tersentak kaget dan bersumpah tak akan membiarkan Gurunya tercinta mengalami hal yang menggenaskan. Ia bermain dengan sesuatu yang menurutnya baik tanpa memikirkan kehendak Illahi yang terbentang tenang dihadapannya. Seberapa sering kita mirip dengan Petrus? Atau barangkali tak cukup lebih baik daripada Petrus, yang kerapkali memaksa Tuhan memuaskan ego?
Seandainya monyet itu tahu bahwa salah salah cara bebas dari stoples penjerat itu adalah melepas kacang, mungkin dirinya sudah bebas bergelantung di jagat semesta yang raya. Dan seandainya kita berani melepas keegoan dan menyelaraskan diri dalam panggilan dan kehendak Illahi itu, maka benang-benang kasih terajut nyata dalam citra-citra Allah di dunia.
Saat itu, mungkin kerinduan yang ada tak lain adalah semakin mengenal-Nya. (Bernardi Widjaja)
|