DAPATKANLAH KEMBALI SAUDARAMU
Kita adalah makhluk relasional; makhluk yang menjalin hubungan satu dengan lainnya. Tidak mungkin hidup sendirian. Sekiranya hidup dalam kesendirian, kita tetap saja mengalami relasi, minimal dengan diri sendiri. Kodrat manusia yang demikian perlu diketahui dan dipahami untuk bisa mengalami suatu kebahagiaan hidup. Kebahagiaan bukan semata memiliki materi, status, atau perasaan-perasaan tertentu melainkan sejauh mana kita bisa membangun relasi sehat terhadap semua hal yang kita miliki. Relasi yang membahagiakan tersebut adalah relasi kasih.
Rasul Paulus menyatakan dengan tegas bahwa kasih adalah rangkuman semua perintah Tuhan, termasuk 10 perintah Allah yang tercantum dalam Taurat. Paulus juga menggarisbawahi ajaran Yesus tentang hukum Kasih: terhadap sesama berdasarkan diri sendiri (lih. Rm 13: 9; bdk. Mat 22:39). Bahkan isi surat Paulus kepada umat di Roma itu memperlihatkan betapa mendesaknya tindakan kasih ini. Lantas apa bentuk nyatanya? Bagaimana caranya melatih relasi yang demikian?
Membangun relasi kasih memang bukanlah perkara gampang. Apalagi ketika berhadapan dengan orang yang “bermasalah” dengan kita. Apa yang paling sering kita lakukan? Diam, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Entah karena takut relasi menjadi rusak atau masa bodoh. Runyamnya sikap ini kerap dilanjutkan dengan gosip. Membicarakan orang lain apalagi kekurangannya memang asyik. Ini bisa jadi merupakan sikap pembenaran diri atau kesombongan diri hendak menyatakan sebagai pribadi yang merasa bersih. Lebih parah lagi, penggunaan kekuatan massa, yaitu menjatuhkan pribadi yang bersalah di depan banyak orang. Kasih akhirnya hanyalah slogan bukan sebuah kesempatan dan pengalaman meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bersyukurlah kita memiliki Yesus. Dalam Mat 16:15-20, Yesus memberi contoh nyata untuk menumbuhkembangkan budaya kasih, yaitu memberi nasihat kepada sesama. Memberi nasihat bukanlah soal menang atau kalah. Bukan soal yang memberi nasihat adalah benar dan yang dinasihati adalah salah. Menasihati merupakan perjuangan untuk mendapatkan kembali saudaranya demi kebaikan yang bersangkutan. Harus disadari bahwa sesama yang kita nasihati adalah pribadi yang memiliki kehendak bebasnya untuk bersedia mendengarkan nasihat atau tidak sama sekali. Maka Yesus memberikan juga tahapan perjuangan kita untuk mendapatkan kembali Saudara kita. Mungkin saat ini kita yang berperan sebagai pribadi yang menasihati. Namun suatu ketika kita juga bisa berperan sebagai pribadi yang dinasihati. Bukankah panggilan kita adalah saling mengasihi (bdk. Yoh 13:35)? Dan saling mengasihi adalah saling menasihati. Selain itu, kita juga harus sadar bahwa kemampuan manusiawi belaka sangat terbatas untuk bisa membuka hati sesama. Kita diminta juga memohon bantuan Allah sendiri untuk terlibat dalam perjuangan ini (ay. 19). Menasihati sesama adalah panggilan kita semua. Betapa bahagianya jika semua bisa masuk dalam kemuliaan Bapa. Keselamatan tidak pernah bersifat egois. Allah mengorbankan diri-Nya habis-habisan untuk semua…dan kita yang telah dibaptis ini dipercaya Allah untuk menjadi rekan kerja Allah untuk karya keselamatan-Nya. Selamat mengasihi! (Ziga07)
|