RELA MENGUBAH DAN BERUBAH
Perumpamaan tentang dua anak sangatlah menarik bagi kita untuk direnungkan. Apalagi jika kita mencermati kedua sikap anak tersebut, bisa dimengerti bahwa hal terpenting dan menentukan dalam hidup ini adalah apa yang di lakukan orang bukan apa yang dikatakannya. Sebab orang bisa berubah sikap dari “ya” dalam perkataan menjadi “tidak” dalam tindakan.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus Injil hari ini sangat jelas dan memberi gambaran pada kita semua. Dua orang anak yang diperintahkan oleh orang tuanya untuk bekerja di kebun anggur. Kita dengar atas jawaban anak yang pertama “ya”, tetapi tidak pergi. Sedangkan anak yang kedua, jawabannya “tidak” tetapi pergi bekerja. Jika kita bertanya diri termasuk yang mana aku?
Jika kita cermati kembali keduanya sama-sama tidak baik, tetapi anak yang kedua masih jauh lebih baik dari yang pertama. Walaupun terjadi penolakan perintah ayahnya, kemudian ia menyesal dan akhirnya melakukan apa yang diperintahkan ayahnya.
Melalui perumpamaan ini, Yesus mau mengatakan bahwa jawaban “tidak” yang kadang-kadang diberikan kita manusia kepada Allah tidak harus selalu merupakan jawaban yang terakhir. Artinya kita manusia selalu bisa mengubah jawaban “tidak” menjadi “ya”. Manusia tidak harus terpaku pada jawaban “tidak” yang telah diucapkannya. Dia bisa mengubah masa lampaunya yang mungkin penuh dengan kelemahan dan dosa kepada suatu masa depan yang lebih baik.
Keinginan untuk bangun dari kelemahan-kelemahan itu sejalan dengan hakekat Allah yang mengasihi kita tanpa batas. Ia selalu mau menerima orang-orang berdosa yang bertobat . Itulah keistimewaan Allah, Ia pun tidak hanya melihat hal-hal yang tampak dalam diri manusia. Tetapi juga hal yang tidak tampak, yaitu kemampuan-kemampuan yang tersembunyi.
Dia tak pernah melihat orang berdosa sebagai orang berdosa saja melainkan juga kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam diri mereka untuk menjadi orang-orang baik. Seperti halnya, Dia tidak melihat Lewi hanya sebagai seorang pemungut cukai, melainkan sebagi seseorang yang bisa menjadi rasul. Begitu juga jika melihat Maria Magdalena sebagai wanita pekerja seks komersil, Ia tidak memandang dari segitu itu saja. Namun yang butuh untuk cerminan kita adalah kesetiaan Maria Magdalena sebagai murid mendampingi Yesus sampai dikayu salib. Dia tidak melihat Saulus sebagai orang yang mengejar orang Kristen, melainkan sebagai seorang rasul yang gigih menyebarkan kabar gembira. Begitu pula dengan Agustinus bisa mengubah hidupnya dari kegelapan menjadi terang. Baik Lewi, Maria Magdalena, maupun Saulus mampu untuk berproses untuk beralih dan mampu mengubah hidupnya asal saja mau untuk berubah. Untuk itu jika saat ini dalam hidup kita kurang berkenan pada Allah masih ada kesempatan untuk mengubah dan berubah! Mari kita bertekad untuk mengatakan “ya” terhadap yang benar dan bukan menyangkalnya. Semoga! (Magda, HK)
|