Aku Diutus, Emangnya Gue Pikirin...
Kita juga bertanggungjawab terhadap apa yang tidak dikatakan dan diperbuat. Kalimat ini menjadi perdebatan seru dua orang sahabat yang berbeda pendapat. Rasanya janggal nih! “Kalau saya berkata dan melakukan pasti akan bertanggung jawab”, teriaknya dengan kesal kepada teman yang lain.
Seperti biasa, setelah berkat penutupan misa aku buru-buru berjalan keluar dan kurang perhatian terhadap himbauan Romo, “Marilah pergi! Kita diutus.” Apalagi mencoba mengerti maksud dan menjalankannya. Yang penting rasanya plong sudahlah selesai tugas minggu ini. Pikiranku mulai sibuk menyusun acara ini itu mulai dari tempat parkir gereja agar bisa keluar secepatnya. Perjuangan hidup yang semakin berat dengan segala persoalan sudah menyita seluruh waktuku untuk merenungi sepotong kata diutus . Diutus untuk apa? Ah persetan amat!
Tetapi hari ini rasanya ada yang menyengat seperti setrum listrik ketika mendengar bacaan Injil tentang Pemilik tanah yang memberi tugas kepada para penggarap agar menghasilkan buah anggur dari lahan yang sudah dipersiapkan. Bukannya memberikan hasil tetapi justru para penggarap tsb memberontak terhadap Pemilik tanah dengan membunuh utusan-utusan (para Nabi) yang dikirim untuk mengingatkan dan mengambil hasil kebun anggur-Nya. Bahkan ketika Tuan tersebut mengirim Putera-Nya sendiri, tak segan-segan para penggarap membunuh-Nya. Akhirnya Pemilik tanah mengirim penggarap lain untuk mengusir dan menggantikan tugas mereka di kebun anggur. Sungguh tragis bangsa Israel yang sejak awal sebagai bangsa pilihan Tuhan tetapi akhirnya digantikan tugasnya oleh Gereja. Tapi siapa Gereja itu? Apakah aku termasuk Gereja atau hanya para imam, suster, bruder, dan pengurusnya yang aktif? Gereja adalah kita semua, kaum awam beserta para pejabat gereja. Kaum klerikus hanya mewakili kurang 1% dari populasi anggota Gereja. Kita semua adalah penggarap modern yang diharapkan oleh Tuhan agar membantu mengelola kebun anggur-Nya yang luas dimana panenannya berlimpah ruah tetapi pekerjanya sedikit. Kalau kita tidak produktif maka kita akan dibuang dan digantikan dengan yang lain. Tiba-tiba suara sahabatku yang sinis mampir ke telingaku, “Mas, sampeyan pilih mana…penggarap pertama atau yang menggantikannya?” Suara sahabatku ini sungguh mengganggu wilayah nyaman hidupku… Selama ini aku cuek bebek saja. Yang penting aku ke Gereja, tidak menyakiti orang lain, tidak berbuat dosa, dan ikut menyumbang pembangunan gereja berserta aulanya. Apakah aku penggarap kebun anggur yang produktif untuk berbagi kemurahan hati Allah? Rasanya enggak tuh… kegiatan lingkungan jauh dari kamusku. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku,” (Mat 25:45) ejek sahabatku penuh kemenangan. Akupun tertunduk lesu dan berdoa, ya Tuhan berilah kekuatan agar aku mampu menerima utusan-Mu. (JA Gianto)
|