
Mengapa sang Raja mengusir tamunya yang tidak berpakaian pesta? Seharusnya dia berterima kasih karena tamu-tamu terhormat yang diharapkan datang, ternyata menolak. Bahkan menghina hamba utusan raja dengan menyiksa dan membunuh. Akhirnya orang-orang sederhana di pinggir jalan datang menenuhi ruang perjamuan, sehingga hidangan yang tersedia tidak mubazir.
Perumpamaan ini mau menggambarkan Perjamuan surgawi yang akan datang. Perjamuan surgawi ini sesungguhnya sudah mulai kita rasakan setiap kali merayakan misa / ekaristi. Paulus menitik beratkan persatuan yang terjalin antara mereka yang mengambil bagian dalam ekaristi dan yang menyantap Tubuh dan darah Kristus ( 1 Kor 10 : 16-17 ). Paus Yohanes Paulus II menyebut misa sebagai “Surga di atas bumi” yang berarti bahwa liturgi yang kita rayakan di bumi ini merupakan partisipasi yang penuh misteri dalam liturgi surgawi.
Pengalaman merayakan misa kudus adalah suatu pengalaman surgawi. Benarkah? Benar, tetapi dengan syarat berpakaian pesta! Maksudnya ada persiapan batin berupa menyadari, meresapkan dalam lubuk sanubari akan betapa luhur, kaya dan agungnya ekaristi itu. Ada gagasan yang paling fundamental dari iman Kristen, yaitu gagasan tentang Perjanjian sebagai ikatan kudus Keluarga Allah. Ekaristi justru menjadi ritual yang mengokohkan Perjanjian dengan Allah. “Inilah Piala Darah-Ku, darah Perjanjian Baru dan Kekal”. Konstitusi Liturgi berkata: “Di dalam liturgi di dunia, kita mengambil bagian dalam liturgi surgawi dengan mencicipi terlebih dahulu, apa yang kita rayakan dalam kota suci Yerusalem. Kita beranjak sebagai perziarah di mana Kristus bertahta di sisi kanan Allah sebagai Pelayan tempat tersuci dan tabernakel sejati. Bersama seluruh pasukan laskar surgawi, kita menyanyikan madah pujian bagi Tuhan. Kita menghormati kenangan para orang kudus dan berharap mengambil bagian dan turut bergabung dengan mereka. Kita menantikan Penyelamat, Tuhan Kita Yesus Kristus, sampai Ia nampak dan hidup kita bersama Dia di dalam kemuliaan-Nya. Sikap batin perlu diikuti sikap hormat penuh perhatian pada waktu perayaan Ekaristi. Sikap batin perlu juga dukungan sikap lahir, penampilan lahir, khususnya dengan berpakaian layak, pantas, sopan dan rapi. Namun apa yang kita alami? Ada yang berpakaian seenaknya, merayakan ekaristi dengan berpakaian seperti ke mal, ke puncak, ke pantai dan ada pula yang merasa mempunyai tubuh indah dan menarik dengan berpakaian yang memamerkan tubuhnya. Jika sikap dan penampilan ini terjadi, apa kita mendapatkan buah dari Ekaristi? Tidak. Rasanya seperti tak ada hasilnya, sebab tidak memenuhi yang dimaksud berpakaian pesta. Yang berpakaian pesta akan mendapatkan buahnya dan mendapatkan kekuatan dalam hidupnya. “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepada-Ku“. (Flp 4: 13). (Rm. Poespo)
|