MENGHARGAI HAK SESAMA

Dalam kehidupan dewasa ini sering orang berteriak-teriak tentang hak yang dilanggar, diinjak-injak, atau dihilangkan. Sering orang mengeluhkan tindakan pihak lain yang merugikan dirinya. Merasa sakit hati, kecewa akan gaya hidup yang egoistis dimasyarakat kita. Akibatnya sikap reaktif yang muncul adalah berbuat yang sama. Saya terpaksa melanggar hak orang lain, karena hak saya dilanggar duluan. Terbawa arus ikut jadi egois, mementingkan diri sendiri, kalau perlu melanggar hak dan merugikan orang lain.
Lihat saja cara orang berkendaraan dijalan raya. Trotoar tempat orang berjalan di pakai berkendara, jalur orang di serobot, tidak mau mengalah, parkir seenaknya, kendaraan besar menggencet kendaraan kecil, tidak perduli peraturan lalu lintas. Tidak ada yang mau mengalah –kalau mengalah tidak kebagian jalan, jadi serobot saja.
Lebih menyedihkan adalah masalah sampah. Buang sampah dari mobil cukup buka jendela, lemparkan ke jalan raya beres. Sampah rumah, biar menumpuk dimana-dimana, dibuang ke kali, sampai sumber air tercemar – yang penting sudah tidak dirumah saya lagi. Budaya antri? Kalau terpaksa, kalau bisa nyerobot lebih baik. Hukum dan aturan tidak dihiraukan, orang lain dirugikan – apa boleh buat orang lain juga begitu sih – pokoknya kepentingan saya terpenuhi. Prinsip utama menerima dulu, mengambil dulu, untung dulu, orang lain masa bodoh.
Tetapi diluar negeri, pelancong Indonesia bisa tertib, antri sabar menunggu giliran, buang sampah di tempatnya, tidak merokok ditempat umum....... dan sepulangnya menceriterakan tentang tertib dan disiplinnya masyarakat diluar negeri, ..... sambil membuang bungkus coklat di jalan (kembali ke sikap asal).
Jadi kalau mau kita bisa tertib, tetapi bisa itu tidak tulus. Ketertiban bukan karena menghormati hak sesama, tetapi karena takut. Padahal kata Edmud Burke: teladan adalah guru manusia terbaik, dan tidak ada jalan lain untuk mengajar manusia . Dan kita ikut hanyut memberi teladan buruk!
Dalam injil Minggu ini Yesus berkata: Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.
Yesus mewajibkan kita untuk memberikan kepada orang yang wajib kita berikan padanya. Walaupun sabda Yesus berbicara tentang kaisar dan Allah, Dia juga mewajibkan kita memberikan apa yang wajib kita berikan pada mereka yang dibawah kita. Kepada anak-anak kita, kepada pegawai kita, kepada masyarakat dan negara. Sering kita tidak mau peduli dengan apa yang harus kita berikan, atau malah kita kurangi – kita korupsi hak sesama yang seharusnya kita berikan demi keenakan kita. Bila sudah begini, lalu kapan kita bisa mengharapkan kehidupan yang lebih baik di masyarakat kita. (Robby)
|