YANG UTAMA ….

Saat ini hidup semakin kompleks dengan semakin banyaknya aturan baru yang muncul, misalnya usulan mengenai RUU Antipornografi yang panas dan kontroversial. Seorang sahabatku baru dibaptis setelah menjadi katekumen selama satu tahun bertanya, “Mas, aku bingung nih begitu banyak aturan-aturan di Gereja seperti hukum Kanonik, Katekismus, surat-surat Ensiklik dll … apalagi ditambah Kitab Suci yang begitu tebal. Jadi bagaimana dong aku memahami semua itu.”
Seandainya Yesus hidup pada jaman se-karang ini, mungkin beliau akan menjawab de-ngan santai, “Gitu aja kok repot…. Baca jawaban-Ku 2000 tahun lalu kepada Ahli Taurat tentang hukum yang terutama dan pertama yaitu kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39).
Jawaban Yesus ini sampai sekarangpun masih berlaku karena segala aturan yang ada semua bergantung kepada dua aturan pokok ini. Manusia diminta mengasihi Tuhan sepenuhnya, diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Adanya relasi dengan sumber kasih membuat manusia mampu mengasihi orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Temanku bertanya, ”Narsis ya...kok pake mencintai diri sendiri?” Mencintai diri sendiri bukan berarti narsis yaitu memuja kepada kelebihan sendiri (ketampanan, ketrampil-an) dan berputar-putar hanya pada diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti manusia mau menerima semua anugerah yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Apakah itu kelebihan atau kekurangan, semua diterima dengan penuh rasa syukur. Pada saat manusia berdamai dengan dirinya sendiri, dia akan mampu keluar mencintai orang lain secara tulus karena tidak membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Kasih bagi Yesus adalah satu dimana semua aturan-aturan bergantung sepenuhnya. Kasih kepada Allah harus dilaksanakan dengan kasih kepada sesama; dan kasih kepada sesama tidak mungkin bertahan tanpa adanya kasih kepada Allah. Dua aturan yang sejajar dan sama pentingnya merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Bila suatu aturan bertentangan dengan kasih maka aturan itu gugur dengan sendirinya. Kita memang tidak hidup dalam tuntutan hukum Taurat yang begitu banyak (613 perintah) tetapi aturan Gereja beserta perangkat lainnya juga tidak kalah banyak-nya. Aku berusaha keras memahami atur-an-aturan tersebut tetapi toh tetap masih banyak yang tidak kumengerti. Bila sudah bingung, aku hanya mengandalkan hukum kasih seperti disampaikan Yesus kepada ahli Taurat. Kasih yang merupakan ciri, karakter ataupun habitus bagi murid Yesus. Suatu harapan dari Gereja bila masyarakat luas ingin mengetahui apa itu kasih maka tengoklah kepada murid-murid-Nya. Semoga. (JA Gianto)
|