“Hari Ini, Engkau Akan Bersama-Ku di Firdaus.”
Seringkali, kematian menjadi pengalaman yang asing, menyedihkan, bahkan menakutkan. Kematian kerap menjadi hal yang tak mudah diterima begitu saja. Banyak upaya yang ditempuh orang untuk menghindarkan diri dari kematian. Banyak juga orang yang butuh waktu untuk mengikhlaskan kematian orang-orang yang dikasihinya. Mengapa demikian? Hal itu terjadi, barangkali karena kematian dipandang sebagai akhir bagi sebuah kehidupan.
Dalam kepercayaan Kristiani, melalui pembaptisan yang kita terima, secara sakramental kita sudah mati bersama Kristus supaya dapat menghidupi suatu kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru itu adalah kehidupan bersama Kristus dan di dalam Kristus. Kematian orang Kristiani tak dapat dilepaskan dari kehidupan Kristiani juga. Karena itulah, Yesus meminta kita untuk mengambil bagian dalam hidup ilahi yang tanpa akhir, yang tak dapat binasa.
Perjumpaan dua orang penjahat dengan Yesus saat penyaliban di Golgota (lih. Luk 23:33,39-43) merupakan pengalaman spiritual yang inspiratif. Kedua penjahat itu tampaknya telah menjalani hidup yang bergelimang dosa. Mereka bahkan dituntut oleh masyarakat untuk menebus dosa itu melalui hukuman salib. Kejahatan yang mereka lakukan pasti begitu beratnya sehingga baru sepadan jika ditukar dengan hidup mereka sendiri.
Dalam kondisi itu, kita dapat melihat situasi batin yang berbeda. Seorang penjahat tampaknya tak ambil pusing lagi dengan apapun yang ia alami, selagi hidup atau sesudah mati. Barangkali, inilah gambaran orang-orang yang tak mengenal Allah; mereka yang tak tahu asal dan tujuan hidupnya. Karena itu, alih-alih mencoba merenungkan seluruh perjalanan hidupnya, terutama pada saat terakhir menjelang kematiannya, ia memilih untuk mengolok-olok Yesus. Mungkin, hidup memang hanya sekadar olok-olok baginya.
Penjahat yang satu lagi menampilkan situasi batin yang berbeda. Ia menyadari betul alasan yang membuat hidupnya berakhir di kayu salib. Tapi ia juga melihat Yesus, yang tak punya alasan apapun untuk disalibkan, mau menanggung hukuman itu dengan rela. Inilah bukti solidaritas Allah dalam penderitaan manusia. Pada saat-saat yang berat, bahkan juga menjelang kematian kita, Allah tetap setia hadir menemani kita. Dalam kondisi inilah iman si penjahat tumbuh. Sebelum kematiannya di salib, ia telah mati terlebih dulu; mati dari kehidupannya yang lama dan bangkit bersama Yesus melalui perjumpaan dengan-Nya. Yesus pun berkata kepadanya, ”Pada hari ini juga, engkau akan bersama-Ku di dalam Firdaus!” (bdk. Luk 23:43). Seorang gembala baik, telah menemukan lagi seekor domba yang hilang... Apabila kita mengaku seorang Kristiani dan menjalani hidup secara Kristiani, kita telah bersatu dengan Kristus. Kematian badan kita bukanlah akhir dari segala-galanya. Melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya sendiri, Kristus telah mengubah kematian sehingga kita dapat berkata, “Hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan; bahwa suatu kediaman abadi tersedia bagi kami di surga bila pengembaraan kami di dunia ini berakhir.” (TPE Baru, Prefasi Arwah I). Karena itulah, doa-doa yang kita panjatkan bagi para arwah orang beriman, terutama pada setiap 2 November (Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman), akan mempercepat persekutuan mereka dengan Allah. (Helen)
|