Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, November 09, 2008

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

IMAN TERUS BERKEMBANG DAN TAK PERNAH SELESAI


Pada rapat redaksi penerbitan yang saya pimpin, ada rasa kesal dan jengkel karena selalu ada masukan dari pembaca yang protes. Karena majalah kami sering memasang foto-foto lama (dokumentasi) bintang-bintang sepakbola terkenal dengan kostum klubnya masing-masing. Padahal di siaran langsung TV( yang juga ditonton oleh pembaca setia) terlihat jelas bahwa mereka sekarang sudah mengenakan kostum baru. Saking jengkelnya saya memberi instruksi, “hancurkan” foto-foto lama supaya tak dipakai lagi. “Hancurkan” di sini maksudnya simpan saja di file tersendiri sehingga jarang dibuka dengan mudah. Namun, ketika suatu saat akan menerbitkan buku panduan Piala Dunia, sulit mencari foto-foto lama. Mengapa? Ternyata instruksi benar-benar dilaksanakan secara “hitam putih”. Foto-foto lama benar-benar dihancurkan. Padahal mereka yang menjalankan instruksi semua berijazah S1.

            Ada peristiwa lain. Karena di rumah banyak koleksi benda-benda antik terutama patung-patung, saya ditanya kenalan, wah, bapak rupanya favorit dengan patung-patung, ya? Nanti saya bawakan, pasti bapak suka (maksudnya suruh beli). Saya hanya mengangguk saja. Nyatanya, berapa hari kemudian ada tiga patung segede gajah yang terbuat dari batu onyx sudah tiba di halaman rumah. Padahal saya begitu tidak suka dengan hiasan-hiasan terbuat dari jenis batu itu dan terang bukan benda antik. Waktu itu saya mengangguk tidak untuk menyetujui, namun punya pengertian bahwa kenalan saya itu minimal juga menyukai benda-benda antik. Singkat kata, sudah paham seluk beluknya. Artinya pemikiran “hitam putih” bahwa semua patung batu itu antik.

            Lalu, apa hubungannya dengan bacaan Injil Minggu ini ketika Yesus murka di depan Bait Allah karena dijadikan tempat berjualan? Orang-orang Yahudi menantangnya, mengapa Ia berani berbuat demikian? Dan Yesus berkata “rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan kembali.” Mereka heran, membangun Bait Allah perlu waktu 49 tahun, sedangkan Yesus apa bisa membangun dalam tiga hari? Orang-orang Yahudi berpikir “hitam putih”. Maka dua cerita di atas hanya sebagai contoh bahwa pemikiran “hitam-putih” itu kadang-kadang mengkontaminasi pemikiran kita. Para murid menjadi paham kemudian, ketika Yesus bangkit di hari ketiga.

            Berbicara tentang keimanan, Tuhan tidak mungkin dicapai dengan bahasa yang terbatas dan waktu yang sambung menyambung. Tuhan tidak akan dipahami, seperti kita memahami rumus matematika, dalam  proses dari suatu titik awal sampai tiba di suatu titik akhir. Artinya keimanan kita semakin lama semakin berkembang sejalan dengan perkembangan zaman, meski apa yang tertulis dalam Kitab Suci tetap seperti dua ribu tahun lalu. Lihat pengalaman pribadi masing-masing. Injil itu sudah berapa kali diperbincangkan sejak saya masih kecil. Isinya tetap tetapi nuansanya selalu berubah dari masa ke masa. Jadi tidak “hitam putih” begitu saja. Mengambil contoh kejadian sehari-hari bisa menjadikan pengalaman religius, meski keduniawian itu terasa kental. Maklum saja, kita bukan orang suci, minimal pernah sekolah teologi. Atau mendapat penampakan-penampakan, atau juga menerima wangsit. Wangsit dari ayah almarhum yang saya ingat, jadilah kepala keluarga yang penuh tanggungjawab!

            Memang benar kata penyair Chairil Anwar dalam sajaknya, “susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh”. (IG.Sunito)